Jambo Kak Nong di Bendungan Brayeun

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Kak Nong, sedang menggoreng bakwan, tempe dan pisang, ketika kami tiba untuk duduk di Jambo Kak Nong. Seolah sudah akrab dengan semua pelanggannya, Kak Nong menyambut kami dengan hangat layaknya sahabat lama. Suasa lebaran membuat Kak Nong makin royal.

“Ayo makan goreng dek. Ambil-ambil. Mau minum apa,” kata perempuan yang lebih dikenal dengan sapaan Kak Nong. Nama pemberian orang tuanya adalah Rikha Putri.

Kak Nong berpenampilan menarik dan sederhana. Ada riasan di wajahnya yang terlihat profesional. Kulitnya hitam manis. Seperti perempuan Aceh kebanyakan. Badannya ramping. Perkiraan saya, ia masuk dalam daftar perempuan yang menjaga penampilan meski sudah berkepala tiga.   

Jambo atau lapak Kak Nong terletak di pinggir bendungan. Jumlahnya ada delapan. Satu Jambo muat untuk empat sampai lima orang. Dua lapak Kak Nong persis menghadap ke arah bendungan Brayeun. Sangat strategis untuk menikmati pemandangan air sungai yang dikelilingi oleh gugusan gunung-gunung. Sesekali saya mendapati sekelompok anak kecil, melompat dari atas bendungan ke dalam air dengan ketinggian tiga meter. Keseruan itu mereka ulang berkali-kali.

Suasa liburan masih terasa pada minggu ke dua bulan Juni saat saya datang berkunjung. Buktinya, walau di awal pekan, dan sudah masuk musim kerja, pengunjung tetap ramai berdatangan. Hari itu, Kak Nong sudah berada di lokasi wisata alam Brayeun sejak pagi. Katanya, berdasarkan pengalaman tahun lalu, hingga dua minggu setelah lebaran Idul Fitri, wisatawan akan terus membludak.

“Kecuali Jumat. Segala bentuk aktifitas wisata alam di daerah Leupong tutup,” kata Kak Nong.      

Kak Nong asli warga Leupung. Ia tinggal di Desa Meunasah Bak’u. Tak jauh dari gerbang menuju bendungan Brayeun. Wisata alam Brayeun buka sejak pukul 07.00 sampai 18.00 WIB. Biaya masuk roda dua lima ribu rupiah. Sedangkan roda empat sepuluh ribu hingga dua puluh ribu rupiah saja.

Trek Favorit Para Pecinta Sepeda Alam

Pada akhir pekan, rute Banda Aceh-Leupung yang berjarak 25 kilometer, sering dijadikan lintasan bagi komunitas pesepeda. Pasalnya, selain melewati jalan beraspal, para pesepeda juga akan melintasi trek bebatuan dan tanjakan, ketika memasuki gerbang wisata alam Brayeun. Hamparan sawah dan pohon kayu yang membelah jalan sepanjang lima kilo meter semakin menambah daya tarik rute tersebut. Kalau sedang musim durian, maka anda akan mudah mendapati buah durian yang bergelantungan di pohonnya.

Sekilas, bendungan Brayeun terlihat seperti kolam dengan lebar sekitar 50 meter. Tak hanya berenang, para pengunjung juga terlihat duduk berjejer di sepanjang bendungan, sekedar memanjakan mata sambil melihat ke arah pengunungan. Pengunjung juga bisa mengarungi sungai Brayeun dengan menggunakan perahu karet.

Berhulu dari Taman Nasional Ulu Masen

Air sungai Brayeun berhulu dari Taman Nasional Ulu Masen yang merupakan kombinasi lengkap antara hutan daratan rendah dan hutan daratan tinggi. Dengan menggunakan perahu karet yang di dayung manual, pengunjung dapat melihat langsung hutan dataran rendah yang berada disekitar bendungan Brayeun.

Di Jambo Kak Nong, beberapa fasilitas wahana air juga turut disewakan. Salah satunya adalah perahu karet dengan berbagai ukuran sesuai kebutuhan. Perahu karet bermuatan empat orang dapat disewa seharga 30 ribu rupiah per jam. Sedangkan perahu karet untuk enam orang seharga 40 ribu rupiah per jam. Bagi yang suka memancing, di Jambo Kak Nong juga menjual alat pancing sederhana seharga 10 ribu rupiah. Jambo Kak Nong juga menyediakan servis gratis seperti penyimpatan tas, tempat ganti pakaian, dan lapak untuk duduk, dengan cara memesan beberapa makanan di tempat Kak Nong.

Air sungai Brayeun yang masih alami membuat habitat ikan air tawar tetap hidup di sana. Ikan yang paling banyak di sungai Brayeun adalah ikan Jurung atau ikan Kerling. Bila anda punya hobi memancing, maka sensasi memancing sambil berenang di sungai Brayeun patut dicoba. Ikan yang berhasil dipancing dapat dibawa pulang secara gratis.  

Kiranya hutan yang masih asri itu, bisa dijadikan sebagai wadah edukasi untuk anak-anak. Karena beberapa satwa seperti monyet, biawak, dan beberapa tumbuhan hutan lainnya masih mudah dijumpai di sana. Jika sanggup mendayung perahu karet sekitar satu kilometer ke arah hulu sungai dari bendungan, maka pengunjung bisa menemukan arus sungai yang cukup deras, namun tak terlalu panjang, sekedar untuk merasakan sensasi berarung jeram di bendungan Brayeun.

Bagi anda yang belum pernah kemari, mari berlibur ke wisata alam Brayeun, dan jangan lupa singgah di Jambo Kak Nong.

Foto Credit: Aceh.net, Merdeka.com, Desi Badrina.

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Desi Badrina

Desi Badrina

Alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry. Hobi traveling dan membaca. Kini bekerja sebagai jurnalis freelance untuk media lokal di Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *