Banda Aceh Coffee Festival Segera Menyambangi Penikmat Kopi

BANDA ACEH – Ibu Kota Provinsi Aceh, Banda Aceh, tak lama lagi akan kembali menggelar Coffee Festival (Festival Kopi) yang telah menjadi even tahunan di Calender Event Pariwisata Aceh.

Even tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh sejak 2011, yang juga didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh akan kembali digelar pada Agustus 2019. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, tujuan dari dilaksanakannya kegiatan Banda Aceh Coffee Festival yaitu selain untuk mempromosikan kopi Aceh juga untuk mengangkat citra kopi Aceh yang sudah mendunia kepada masyarakat sehingga lebih mencintai produk unggulannya.

Cerita Jamal, sejarah perkembangan masuknya kopi ke Aceh sehingga menjadi salah satu komoditi utama andalan Provinsi Aceh, jelas Jamal, yaitu kopi berasal dari kawasan Ethopia pada abad ke-9 lalu terus berkembang hingga ke Arab dan Afrika Utara, dan dari sanalah baru masuk ke Asia dan Eropa. Ke Indonesia sendiri kopi dikenal pada 1969 tepatnya di Batavia, barulah kemudian masuk ke Aceh pada 1908.

“Kopi masuk ke Aceh sejak 1908. Sejak itulah Aceh tidak saja dikenal dengan hasil rempah-rempahnya tetapi juga dengan kopi. Nah, Banda Aceh Coffee Festival yaitu selain untuk mempromosikan kopi Aceh semakin mendunia, even ini juga diharapkan mampu meningkatkan angka kunjunga wisatawan ke Aceh. Even Banda Aceh Coffee Festival setiap tahunnya terus mengalami sebuah peningkatan karena jumlah pengunjung yang hadir terus mengalami peningkatan, tercatat pada 2016 lalu berjumlah 300.000 orang namun pada saat 2018 berjumlah kisaran 500.000 orang. Even Banda Aceh Coffee Festival merupakan salah satu even yang digelar di Kota Banda Aceh yang sangat sukses menarik perhatian masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia,” kata Jamal yang didampingi Kabid Pemasaran, Rahmadhani di Banda Aceh, Senin (7/8/2019).

Selanjutnya Jamal mengatakan, Festival Kopi Banda Aceh bukanlah Festival kopi biasa, Festival ini mengkombinasikan antara kopi, musik, dan tempat wisata. Even yang sangat dinanti pecinta kopi nasional maupun dunia ini diyakini akan mampu meningkatkan angka kunjungan wisatawan domestik maupun lokal ke Aceh yang notabanenya sangat dikenal dengan kopi Arabika Gayonya.

“Dinobatkannya Aceh sebagai Best Halal Tourism Destination di Indonesia tentu menjadikan Banda Aceh menjadi destinasi wisata yang dilirik calon turis dari seluruh dunia,” katanya lagi.

Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani menambahkan, Banda Aceh juga dikenal sebagai kota 1001 warung kopi, dengan ungkapan, “Secangkir Kopi Sejuta cerita”. Jelas Dhani, ungkapan yang paling terkenal itu, kalau bicara soal kopi, karena seluruh urusan bisnis hingga hal-hal lainnya akan lebih nikmat bila dibahas dengan ditemani secangkir kopi.

“Kalau ke Aceh belum ‘sah’ kalau tidak minum kopi, walau hanya secangkir. Wisatawan yang ke Aceh, mau penikmat kopi maupun tidak, mereka kalau sudah berkunjung ke Aceh, baik ke Banda Aceh atau ke kabupaten/kota lain yang pasti menikmati kopi. Kalau yang sudah terbiasa minum kopi Aceh, pasti saat minum kopi lain akan terasa bedanya. Ada kopi, ada cerita. Gak ada kopi, tidak ada cerita,” kata Dhani.

Sebutan Kota Banda Aceh sebagai kota 1001 warung kopi juga bukan tanpa alasan, karena begitu banyak warung kopi berjejer di Banda Aceh yang tak pernah sepi dari pengunjung. Warung kopi tradisional maupun modern di Banda Aceh sebut Dhani, menjadi salah satu sektor penggerak perekonomian daerah melalui tampungan lapangan pekerjaan.

“Jika satu warung kopi saja bisa menampung sepuluh orang tenaga kerja, maka sudah ribuan tenaga kerja yang terserap dari usaha warung kopi. Belum lagi kita bicara soal perputaran uang di warung kopi,” ucap Dhani.

Dhani mengatakan, Banda Aceh Coffee Festival yang digelar Agustus ini merupakan surganya para pecinta kopi yang nikmat nan harum tersebut, alunan musik tradisional khas Aceh dan hembusan angin dari pepohonan rimbun menambah kenikmatan luar biasa bagi pengunjung dalam menyeruput kenikmatan bubuk hitam tersebut.

Berbagaai jenis dan teknik pengolahan kopi dapat ditemukan dan dinikmati di setiap stant yang terseber lokasi penyelenggaraan di even ini, mulai dari kopi yang biasa disajikan dengan campuran krim, gula, susu atau coklat hingga kopi dengan campuran variasi buah buahan, bahkan dengan campuran unik seperti kopi dengan campuran nira (nirapresso).

Selain itu juga ada pertunjukan dari barista yang akan menunjukan kebolehan mereka meracik dan meramu kopi di masing-masing di Camp Barista. Ada juga kopi khop dari Aceh Barat yang tak pernah absen di even ini untuk dinikmati dengan teknik gelas terbalik. Teknik ini merupakan cara menikmati kopi yang sudah menjadi budaya masyarakat Aceh sejak zaman dahulu.

Share info ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email