Mengenal Syech Ali Jaber, Penceramah pada Peringatan 16 Tahun Tsunami Aceh

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Syeh Ali Jaber. Siapa yg kenal namanya sejak sejak 2011 wajahnya sudah berwarawiri di beberapa program televisi di Indonesia, salah satu nya menjadi Juri Program Ramdhan, Hafizh Indonesia di RCTI.

Saat itu ia telah menjadi warga Negara Indonesia dan menikah dengan warga Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Umi Nadia dan di karuniai seorang putra bernama Hasan.

Syekh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber, itulah nama lengkap Syeh Ali Jaber. Putra kelahiran Madinah Februari 1976 merupakan anak pertama dari 12 bersaudara, anak dari seorang penceramah.

Karena kegigihannya dalam berdakwah dan mensyiarkan Islam ke seluruh Indonesia. Penyampaian dakwahnya jelas dan menyejukkan. Apalagi ia seorang penghapal Alquran. Berkat ketulusannya berdakwah di tanah air, namanya masuk dalam jajaran penceramah agama papan atas Indonesia.

Sejak kecil Syekh Ali Jaber dapat bimbingan agama dari ayahnya yang seorang penceramah agama yang mengharapkan anaknya kelak bisa menjadi seperti dirinya.

Harapan ayahnya itu, menjadi beban besar dan punya tanggung jawab atas keinginan tersebut, apalagi ia anak pertama sudah selayaknya memberikan contoh bagi adik-adik nya.

Oleh karena itu, dalam perjalanan hidupnya, Syekh Ali Jaber menyadari akan kebutuhan sendiri untuk menghapal Alquran. Tak heran pada usia anak-anak, 10 tahun, Syekh Ali Jaber sudah menghapal 30 juz Alquran. Bahkan sejak usia 13 tahun, ia  diamanahkan menjadi imam masjid di salah  satu masjid di Kota Madinah.

Suami dari Umi Nadia ini, mendapatkan pendidikan formal dari ibtidaiyah hingga aliyah di Madinah. Setelah lulus sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikan khusus pendalaman Alquran kepada tokoh dan ulama ternama yang berada di Madinah dan luar Madinah, Arab Saudi.

Di antaranya Syekh Muhammad Husein Al Qari’ (Ketua Ulama Qira’at di Pakistan), Syekh Said Adam (Ketua Pengurus Makam Rasulullah), Syeikh Khalilul Rahman (Ulama Alquran di Madinah dan Ahli Qiraat), Syekh Khalil Abdurahman (seorang ulama ahlul Quran di Kota Madinah), Syeikh Abdul Bari’as Subaity (Imam Masjid Nabawi dan Masjidil Haram), Syeikh Prof. Dr. Abdul Azis Al Qari’ (Ketua Majelis Ulama Percetakan Al-Qur’an Madinah dan Imam Masjid Quba),  dan Syeikh Muhammad Ramadhan (Ketua Majelis Tahfidzul Qur’an di Masjid Nabawi).

Selama penggembelangan dirinya, ia juga rutin mengajar dan berkdakwah khususnya di tempat tinggalnya, yakni masjid tempat ayahnya mensyiarkan Islam dan Ilmu Alquran. Selama di Madinah ini, ia juga aktif sebagai guru hapalan Al -Qur’an di Masjid Nabawi dan menjadi imam salat di salah satu masjid Kota Madinah.

Pada tahun 2008, kala usianya menginjak 32 tahun, Syekh Ali Jabir memberanikan diri untuk terbang ke Indonesia. Ia menuju ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang merupakan kampung asal istrinya tinggal. Di sini ia menjadi guru tahfidz (hafalan) Al-Quran, Imam salat, khatib di Masjid Agung Al- Muttaqin Cakranegara Lombok, NTB, Indonesia.

Kariernya terus berkembang dan melejid saat ia diminta menjadi Imam salat tarawih di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Selain itu, ia juga menjadi pembimbing tadarus Al – Quran dan imam salat Ied di Masjid Sunda kelapa, Menteng, Jakarta.

Kehadiran Syekh Ali Jaber ternyata mendapat sambutan yang sangat baik oleh masyarakat Indonesia. Dakwahnya yang menyejukkan, penyampaiannya sangat rinci, dan berisi dengan ayat-ayat Alquran dan hadits. Ia mulai sering dipanggil keliling Indonesia untuk syiar Islam.

Ketulusannya berdakwah menghantarkannya kepuncak kesuksesan, Ia mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2011, dan ditahun bersamaan ia menjadi Warga Negara Republik Indonesia. Sejak itu ia rutin mengisi acara Damai Indonesiaku di TvOne dan menjadi juri Hafizh Indonesia di RCTI.

Syekh Ali Jaber akan menjadi penceramah pada peringatan 16 tahun tsunami. Kegiatan digelar secara daring serta luring untuk mencegah kerumunan.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani, mengatakan peringatan 16 tahun tsunami pada 26 Desember 2020 digelar dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus Corona.

Tamu yang diundang dalam kegiatan bertema ‘Refleksi Tsunami dan Kekuatan Masyarakat Aceh Dalam Menghadapi Pandemi COVID-19’ akan dibatasi.

“Karena sedang dalam keadaan pandemi COVID-19, maka peringatan 16 tahun tsunami tersebut akan digelar secara sederhana melalui pendekatan daring dan luring dengan kegiatan tausiah yang akan disampaikan oleh Syekh Ali Jaber,” kata Rahmadhani kepada wartawan, Jumat (18/12/2020).

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *