ACEH tak hanya terkenal dengan wisata alam dan sejarahnya, tapi juga dengan ragam kuliner tradisional yang unik dan menggugah selera. Salah satu hidangan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Tanah Rencong adalah keumamah, olahan ikan khas Aceh yang kaya rasa dan memiliki nilai sejarah tersendiri.
Keumamah sering disebut juga sebagai ikan kayu, karena teksturnya yang kering dan padat menyerupai potongan kayu setelah melalui proses pengeringan alami. Meski tampilannya sederhana, rasanya begitu khas—gurih, pedas, dan aromatik—menjadikannya salah satu kuliner yang paling dicari wisatawan pencinta masakan tradisional.
Bagi masyarakat Aceh, keumamah bukan sekadar makanan, melainkan juga simbol ketahanan dan kecerdikan nenek moyang dalam mengolah hasil laut agar tahan lama tanpa bahan pengawet modern.
Keumamah berasal dari kebiasaan masyarakat pesisir Aceh yang gemar melaut. Dahulu, nelayan sering mengawetkan hasil tangkapan mereka dengan cara dikeringkan agar tahan lama selama perjalanan jauh. Ikan tongkol atau cakalang menjadi pilihan utama karena teksturnya kuat dan rasa dagingnya yang khas.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, keumamah juga kerap dijadikan bekal dalam perjalanan panjang, bahkan menjadi makanan para pejuang Aceh di masa konflik. Kini, hidangan ini justru naik kelas—dihidangkan di rumah makan, restoran, hingga menjadi oleh-oleh khas Aceh yang populer.
Proses pembuatan keumamah membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Ikan segar dibersihkan, direbus, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Namun saat ini banyak penjual menjual keumamah yang tinggal dimasak.
Untuk memasak keumamah, ikan tersebut dapat disuwir dan dimasak kembali dengan bumbu khas Aceh seperti cabai merah, serai, daun jeruk, lengkuas, dan santan.
Rasa pedas yang menonjol berpadu dengan gurihnya santan menciptakan sensasi yang sulit dilupakan. Saat dimakan bersama nasi putih hangat, aroma rempah yang kuat langsung menggugah selera.
Selain keumamah tumis tradisional, masyarakat Aceh juga mengkreasikan ikan kayu ini ke dalam berbagai hidangan yang menggoda lidah.
Kini, wisatawan yang berkunjung ke Aceh dapat dengan mudah menemukan keumamah di berbagai warung makan tradisional maupun restoran. Hidangan ini sering disajikan bersama kuah pliek u, sambal ganja, atau nasi gurih Aceh, menjadikannya paket lengkap bagi para pencinta kuliner pedas dan berbumbu kuat.
Bagi yang ingin membawa pulang cita rasa Aceh, keumamah kering siap saji juga banyak dijual di pusat oleh-oleh. Rasanya awet, lezat, dan menjadi pengingat akan kekayaan kuliner Tanah Rencong yang tiada duanya.
