Likok Pulo: Jejak Zikir yang Tumbuh Menjadi Warisan Seni Aceh

DI SEBUAH pulau kecil di ujung barat Nusantara—Pulau Aceh, yang juga kerap disebut Pulo Aceh atau Pulau Beras—hidup sebuah tradisi seni yang tumbuh dari denyut kehidupan pesisir: Likok Pulo. Ia bukan sekadar tarian, bukan pula sekadar hiburan, melainkan warisan spiritual yang lahir dari zikir, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat nelayan terhadap Sang Pencipta. Likok Pulo menjadi bukti bahwa seni dapat tumbuh dari kesederhanaan, dari aktivitas harian yang terus bergulir di antara debur ombak dan lirih angin laut.

 

Pada masa lalu, ketika para pemuda pulang dari melaut dan menambatkan perahu mereka di tepian, mereka sering berkumpul di meunasah—rumah ibadah kecil yang menjadi pusat aktivitas sosial dan spiritual masyarakat. Di sinilah Likok Pulo menemukan akarnya. Para pemuda yang kelelahan setelah menantang ombak, duduk bersila sambil berdzikir, lalu mengikuti syair-syair nasihat yang dilantunkan oleh seorang penyair. Irama zikir itu kemudian melahirkan gerakan tubuh sederhana: ayunan badan, gelengan kepala, serta hentakan tangan yang perlahan menjadi pola ritmis. Seiring waktu, lantunan zikir dan gerak-gerak itu berkembang menjadi bentuk kesenian yang terstruktur dan dikenal sebagai Likok Pulo.

 

Keunikan utama Likok Pulo terletak pada posisi duduk para pemainnya. Tidak seperti tarian lain yang menonjolkan keluwesan berdiri, Likok Pulo dilakukan sambil duduk berderet rapat, bahu bersentuhan, membentuk garis lurus tanpa hierarki. Posisi ini mencerminkan kesetaraan dan persatuan. Tidak ada yang menonjol lebih tinggi dari yang lain, semua bergerak serentak, seirama, dan saling menopang. Keselarasan ini menggambarkan nilai-nilai gotong royong yang sudah melekat pada kehidupan masyarakat pulau—sebuah simbol bahwa keselamatan di laut hanya bisa diraih dengan kebersamaan.

Gerak dalam Likok Pulo tidak bebas seperti tari modern. Ia justru mengedepankan kekompakan. Ayunan badan ke kiri dan kanan, hentakan tangan ke lantai atau ke paha, hingga kepala yang menggeleng ritmis, semuanya dilakukan dalam satu napas kolektif. Ketika gerak semakin cepat, hentakan-hentakan itu menghadirkan energi yang menyala, seolah seluruh ruang pertunjukan dipenuhi denyut kehidupan pesisir. Ritme yang tercipta bukan hanya memikat secara visual, tetapi juga menegaskan makna: manusia harus seirama dalam menjalani hidup, seperti awak perahu yang mengayuh dalam satu arah.

Syair dalam Likok Pulo menjadi unsur yang paling berdaya pikat. Berbeda dari pantun hiburan, syair ini sarat pesan moral, dakwah, nasihat hidup, hingga kritik sosial. Penyair, atau vokalis utama, membawakan syair dengan suara melengking khas yang kuat dan bergema. Tempo yang cepat membuat suasana menjadi hidup dan kadang membawa penonton ke suasana khidmat. Melalui syair itu, masyarakat menyampaikan pesan antar generasi tentang akhlak, persaudaraan, kerja keras, dan pentingnya saling membantu. Karena itu, Likok Pulo bukan hanya seni pertunjukan—ia adalah ruang pendidikan budaya dan spiritual.

Kini, perkembangan Likok Pulo melampaui batas desa nelayan tempat ia lahir. Tradisi ini telah tampil di festival budaya Aceh, hingga pentas nasional. Banyak sanggar seni yang mulai mengajarkannya, membuatnya dikenal oleh generasi muda jauh di luar Pulau Aceh. Meski demikian, akar tradisinya tetap kukuh: Likok Pulo adalah milik masyarakat pulau, milik nelayan yang hidup berdampingan dengan ombak, dan milik para pemuda yang tumbuh dalam kesadaran bahwa hidup adalah tentang kebersamaan.

Ketika pertunjukan Likok Pulo dimulai, penonton tidak hanya menyaksikan gerak. Mereka mendengar sejarah, merasakan spiritualitas, dan menangkap denyut kehidupan masyarakat pesisir yang menjadikannya bagian dari identitas. Likok Pulo adalah zikir yang bergerak, doa yang berirama, dan warisan yang terus bernafas bersama laut, angin, dan masyarakat yang menjaganya. (posaceh)

Kategori :

Seni & Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *