Peunayong, Mozaik Keberagaman di Serambi Mekkah

DI SATU sore di Banda Aceh, aroma masakan Tionghoa bercampur dengan wangi kopi khas Aceh yang menyeruak dari kedai-kedai tua di Jalan T. Panglima Polem.

Di antara deretan ruko berarsitektur kolonial dan lampion merah yang bergoyang diterpa angin, berdiri megah Vihara Dharma Bhakti, sebuah rumah ibadah yang menjadi saksi hidup harmoni lintas iman di jantung Serambi Mekkah.

Tidak jauh dari sana, gema azan dari Masjid Peunayong terdengar bersahutan dengan denting lonceng gereja di sore Minggu. Pemandangan ini bukan hal aneh di kawasan Peunayong, sebuah lingkungan yang sejak berabad-abad lalu menjadi miniatur toleransi dan simbol keragaman budaya di Aceh.

Bagi banyak orang luar Aceh, nama Peunayong sering identik dengan “kampung Tionghoa”. Namun bagi warga setempat, Peunayong adalah rumah bagi semua, tempat umat Buddha, Kristen, Hindu, dan Muslim hidup berdampingan tanpa sekat keyakinan.

Deretan rumah ibadah berdiri berdampingan: Vihara Dharma Bhakti, Vihara Buddha Sakyamuni, Vihara Maitri, dan Vihara Dewi Samudra di satu sisi; sementara Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) dan Gereja Methodist Indonesia (GMI) di sisi lain. Tak jauh dari situ, Masjid Peunayong menjadi penanda kuat bahwa harmoni telah lama menjadi denyut nadi kawasan ini.

“Tidak ada gesekan sama sekali di kalangan masyarakat umum terkait ibadah keagamaan,” ujar Kho Khie Siong, Ketua Umum Perkumpulan Hakka Banda Aceh. “Kita saling menghormati satu sama lain, dan itu sudah menjadi bagian dari budaya kami di sini.”

Kehidupan sehari-hari di Pasar Peunayong adalah potret paling nyata dari kerukunan itu. Di gang-gang sempit seperti Pasar Sayur, pedagang Tionghoa, Aceh, Batak, hingga Minang berjualan berdampingan. Suara tawar-menawar bercampur canda ringan, membentuk simfoni khas pasar rakyat yang hidup dan hangat.

Bagi mereka, pasar bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga ruang interaksi sosial yang menghapus batas etnis dan agama.

Peunayong memiliki sejarah panjang sebagai titik pertemuan budaya. Pada abad ke-17, kawasan ini menjadi pelabuhan penting di masa Sultan Iskandar Muda, tempat pedagang dari berbagai negeri—termasuk Tiongkok—singgah dan berdagang. Dari sinilah komunitas Tionghoa mulai menetap dan membangun kehidupan di Banda Aceh.

Sebagian orang mempercayai nama “Peunayong” berasal dari kata “Peu Payong”, yang berarti melindungi—sebuah filosofi yang terasa begitu relevan hingga kini.

Namun, arkeolog independen lulusan Universitas Gajah Mada (UGM), Deddy Satria, memiliki teori lain terkait penamaan daerah Pecinan di Aceh itu.

Menurut pria yang akrab disapa Deddy Besi tersebut, Peunayong terdiri dari dua kata yaitu Peuna dan Jung. Peuna merupakan kata pertanyaan yang berasal dari bahasa Aceh–yang berati “apakah ada”. Sementara kata “Jung” berasal dari sebutan jenis perahu yang dulu kerap bersandar di Krueng Aceh.

Jadi, kata Deddy, kata Peunayong lebih pada kebiasaan orang-orang di Aceh yang mempertanyakan “apakah ada kapal?” di lokasi tersebut.

Sebagian besar warga Tionghoa Banda Aceh kini adalah generasi keempat dan kelima dari para imigran abad ke-19. Mereka umumnya berasal dari suku Khek (Hakka) di Provinsi Kwantung, Tiongkok Selatan.

Dulunya imigran Tionghoa yang datang bersamaan dengan kepentingan Belanda di Aceh dipusatkan di Ulee Lheue. Mereka kemudian direlokasi dan diberikan izin mendirikan tangsi atau barak di kawasan utara Ibu Kota Banda Aceh, yaitu Peunayong.

Belakangan setelah Belanda menguasai Banda Aceh, pedagang Cina yang telah mendirikan tangsi dagang di sepanjang jalur Krueng Aceh diberdayakan karena dinilai mampu menggerakkan roda perekonomian. Mereka ditempatkan sebagai warga kelas dua dalam struktur masyarakat pemerintahan Hindia Belanda.

Orang-orang Tionghoa ini diwajibkan melapor kepada pemerintah dan dimasukkan dalam warga Aceh. Karena simpatinya, Belanda lantas memfungsikan kembali Peunayong sebagai Chinizen Kamp alias wilayah pecinaan.

Kini, meski jumlahnya tidak besar, mereka tetap menjaga tradisi dengan penuh kebanggaan. Saat Tahun Baru Imlek, Peunayong berubah menjadi “lautan merah”, sementara saat bulan Ramadan, warga Tionghoa ikut meramaikan suasana dengan berjualan penganan berbuka puasa.

“Saat Imlek, teman-teman Aceh datang berkunjung dan ikut merayakan. Sebaliknya, kami juga menghormati mereka ketika puasa. Itu sudah tradisi turun-temurun,” kata Kho Khie Siong dengan senyum.

Peunayong bukan satu-satunya wajah kerukunan di Banda Aceh. Di Kampung Mulia dan Kampung Laksana, suasana serupa juga terasa kuat. Di Kampung Mulia, masjid dan gereja berdiri bersebelahan, hanya dipisahkan jalan selebar dua meter. Di sana terdapat GPIB, GMI, HKBP, dan beberapa vihara yang berdiri damai berdampingan.

Meskipun Aceh menerapkan syariat Islam, pemerintah daerah menjamin kebebasan beribadah bagi umat non-muslim. Setiap rumah ibadah memiliki izin resmi dan dijaga keberadaannya. Bahkan Kuil Palani Andawer, rumah ibadah umat Hindu, berdiri tak jauh dari Masjid Jamik Keudah—sebuah simbol konkret dari wajah Islam yang ramah dan menghargai perbedaan.

Tahun 2023 lalu, Yayasan Hakka Banda Aceh mendeklarasikan Peunayong sebagai “Kampung Keberagaman” saat perayaan Tahun Baru Imlek 2566. Sejak itu, berbagai kegiatan kolaboratif diadakan, mulai dari barongsai yang menari bersama Seudati dan Rapai Geleng, hingga festival kuliner lintas budaya yang menarik perhatian nasional.

Deklarasi ini bukan hanya perayaan identitas, tapi juga penegasan tentang wajah Aceh yang damai dan terbuka.

“Mereka yang datang ke sini sering kaget,” kata Kho Khie Siong sambil tertawa kecil. “Kata mereka, Aceh ternyata sangat ramah, jauh dari bayangan yang selama ini didengar.”

Dari aroma kopi pagi di Peunayong hingga denting lonceng gereja dan gema azan yang berpadu di udara, Banda Aceh menunjukkan satu hal: keragaman tidak perlu ditakuti, tetapi dirayakan.

Peunayong menjadi bukti bahwa harmoni bukanlah utopia, melainkan sesuatu yang bisa tumbuh dari rasa saling menghargai. Di kota yang dikenal religius ini, perbedaan justru menjadi warna yang memperindah kehidupan.

Di tengah modernisasi Banda Aceh yang kian cepat, Peunayong tetap berdiri sebagai pesan abadi dari Serambi Mekkah—bahwa perdamaian, pada akhirnya, dimulai dari hati yang terbuka untuk menerima sesama. (Irfan)

Kategori :

Travel Info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *