DI TENGAH gempuran destinasi wisata buatan dan pantai-pantai kekinian di Aceh, sebuah oase alami tetap bertahan dengan pesona yang tak lekang oleh waktu, Pemandian Mata Ie. Terletak di kaki bukit kapur Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Mata Ie yang secara harfiah berarti ‘Mata Air’ bukan sekadar kolam renang, ia adalah jantung konservasi alam, sumber kehidupan, dan warisan sejarah yang konon dahulu menjadi tempat mandi para Raja Aceh.
Mata Ie menawarkan kontras yang menenangkan, hawa sejuk dataran tinggi tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pegunungan. Kolam-kolam alami di sini bersumber langsung dari ceruk-ceruk gunung, mengalirkan air yang sangat jernih dan segar selama 24 jam.
Pada musim hujan, airnya bahkan memancarkan warna hijau bak zamrud, memantulkan rindangnya kanopi pohon-pohon besar yang menjulang, menciptakan suasana yang nyaris magis. Keistimewaan Mata Ie terletak pada fungsi ganda dan nilai historisnya.
Dalam catatan lama, lokasi ini disebut-sebut sebagai tempat pemandian bagi keluarga kesultanan Aceh. Airnya yang melimpah dan berada di bawah naungan hutan rindang memberikan privasi dan kesegaran yang dibutuhkan oleh kaum bangsawan.
Seiring berjalannya waktu, air dari hulu Mata Ie ini juga diabadikan sebagai salah satu sumber utama air bersih untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Montala Aceh Besar, menegaskan peran vitalnya bagi kehidupan modern.
Jejak sejarah dan peran ekologis ini menjadikan Mata Ie sebagai situs hidup yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik tentang pentingnya konservasi sumber daya air.
Air yang mengalir deras dari hulu sengaja disekat-sekat menjadi beberapa petak kolam dengan kedalaman bervariasi. Mulai dari kolam dangkal yang aman untuk anak-anak hingga kolam yang lebih dalam bagi orang dewasa, setiap petak menawarkan pengalaman berenang yang berbeda semuanya di bawah lindungan atap alami dari cabang-cabang pohon besar.
Di tengah persaingan harga wisata yang tinggi, Mata Ie tetap menjadi primadona bagi segmen keluarga dan mahasiswa karena faktor keterjangkauannya. Harga tiket masuk dan biaya sewa pelampung/ban sekitar Rp10.000 untuk pemakaian sepuasnya dinilai sangat wajar. Begitu pula harga jajanan dan makanan di sekitar lokasi yang ramah di kantong, membuat pengunjung tidak perlu khawatir merogoh kocek terlalu dalam.
Air sungainya yang mengalir bersumber dari ceruk-ceruk gunung, bukan hanya segar tapi sehat. Bonusnya, tempatnya rindang. Kalau lagi terik, di sini ngademnya enak,” kata Wawa, salah seorang pengunjung, memuji kenyamanan atmosfer alami Mata Ie.Pengunjung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, terlihat asyik menikmati kesegaran air pegunungan tersebut.
Kehadiran Mata Ie menjadi penawar yang sempurna bagi warga kota yang jenuh dengan panas dan hiruk pikuk, menawarkan pelarian ke lingkungan yang terasa seperti dataran tinggi.Dengan keindahan alaminya yang otentik, suasana yang sejuk, serta harga yang merakyat, Pemandian Mata Ie membuktikan bahwa pesona wisata sejati adalah yang mampu bertahan melalui waktu, bukan yang dibangun secara artifisial. Ia adalah warisan yang harus dijaga, sebuah Zamrud yang terus memancar di kaki gunung Aceh. (Tati)
