Menyusuri Jejak Sentral Telephon Peninggalan Belanda di Kutaraja

Sentral Telephon Peninggalan Belanda (Foto: AJNN)
Sentral Telephon Peninggalan Belanda (Foto: AJNN)

Bagikan

Menyusuri Jejak Sentral Telephon Peninggalan Belanda di Kutaraja

Bagikan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BANDA ACEH, sebuah kota yang kaya akan sejarah, memiliki banyak peninggalan dari masa kolonial Belanda yang layak untuk dikunjungi. Salah satu yang paling menarik adalah Sentral Telepon Peninggalan Belanda yang terletak di pusat kota Kutaraja, kini dikenal sebagai Banda Aceh.

Dibangun pada tahun 1903, gedung ini merupakan sentral telepon pertama di Indonesia. Dengan arsitektur khas Eropa, bangunan berlantai dua ini masih berdiri kokoh di antara rimbunnya pohon trembesi. Struktur persegi delapan ini menonjol dengan cat putih dan gaya kolonial yang khas. Lantai pertamanya seluruhnya terbuat dari beton, sementara lantai duanya semi permanen. Pintu, dinding, dan jendela besar menambah kesan megah pada bangunan ini.

Terletak di pangkal Jalan Teuku Umar, bangunan ini sangat mudah diakses. Di bagian atas bangunan, dekat ventilasi jendela, tertulis angka 1903, yang menunjukkan tahun pendirian gedung ini pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad Daudsyah (1874-1903).

Sentral telepon ini dibangun di area Keraton atau Istana Kerajaan Aceh Darussalam saat Belanda menduduki wilayah Koetaraja. Pada masa itu, bangunan ini dikenal sebagai Kantor Telepon Koetaradja. Telepon menjadi alat komunikasi utama bagi Gubernur Militer Belanda untuk memberikan perintah dan menerima informasi strategis selama perang dengan pejuang Aceh.

Saat ini, gedung ini telah dijadikan cagar budaya dan menjadi salah satu situs wisata sejarah di Banda Aceh. Meskipun bangunan ini lebih banyak tertutup dan pengunjung hanya bisa melihat dari luar, keindahan dan nilai sejarahnya tetap membuatnya layak dikunjungi. Dari luar, Anda bisa mengabadikan momen dengan latar belakang bangunan bersejarah ini.

Jaringan telepon pada masa itu sudah mencakup berbagai kota seperti Ulee Lheu, Sabang, Meulaboh, hingga beberapa kota di Sumatera Utara seperti Medan dan Berastagi. Setelah Belanda, Jepang pun menggunakan sentral telepon ini untuk komunikasi militernya. Pasca kemerdekaan Indonesia, gedung ini sempat dijadikan kantor telepon Kodam I Iskandar Muda.

Kini, bangunan ini berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya. Jika Anda sedang melewati Jalan Teuku Umar dari arah Simpang Jam, sempatkan diri untuk singgah dan menikmati jejak sejarah yang ditinggalkan Belanda ini.

Mengunjungi Sentral Telepon Peninggalan Belanda di Banda Aceh bukan hanya sebuah perjalanan wisata, tetapi juga perjalanan menyusuri sejarah yang penuh dengan cerita dan warisan masa lampau. (ASG)

Bagikan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Bagikan