PULO ACEH; Pesona Matahari Tenggelam Di Raja Ampatnya Tanoh Rencong

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Jika Papua punya Raja Ampat, di Tanah Rencong punya Pulau Aceh, salah satu pulau terluar di Aceh besar yang memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang mengapitnya. Tak ubahnya seperti raja Ampat di negeri bagian timur nya Indonesia.

Alamnya yang masih asri dan pesona lautnya yang menyejukkan mata. Maka tak salah jika anda berwisata ke tanah rencong dan singgah ke pulau Aceh yang memiliki sejuta pesona.

Pulou Aceh adalah daerah yang berada dipaling akhir batas wilayah provinsi Aceh serta Indonesia paling barat, wilayah ini terbagi menjadi dua pulau yaitu Pulo Nasi dan Pulo Breuh. Kedua pulau ini lebih dikenal dengan Pulo Aceh yang juga merupakan salah satu Kecamatan di kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Pulo Aceh berada sangat strategis dan tidak jauh dari kota Banda Aceh yang merupakan Ibukota Provinsi Aceh, pulau ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata unggulan di provinsi Aceh, karena pulo Aceh memiliki air laut yang jernih berwarna hijau kebiruan, pasir pantai yang putih bersih dan dikelilingi perbukitan hijau yang mempesona.

Pulo ini ibarat gadis perawan yang cantik dan belum pernah dilihat. Keindahan pesona dan keindahan Pulau terluar di Aceh Besar  ini akan menggoda traveler yang menyukai keindahan alam yang masih asli dan belum terjamah ini dan akan membuatnya jatuh cinta.

Traveler yang pertama sekali menginjak-kan kakinya di pulau ini akan langsung “jatuh cinta” melihat pemandangan alam-nya yang sangat indah dan pantainya yang masih “perawan”. Pemandangan seperti ini tidak akan dijumpai di tempat-tempat lain di Indonesia.

Pasir putih berkilau dan batu karang yang bertebaran serta pohon kelapa dan cemara laut yang mengelilingi pantai.

Pulo yang di apit perairan samudera Hindia ini  merupakan satu kecamatan bersama beberapa pulau kecil lain seperti Pulo Nasi, Pulo Teunom, Pulo Jroeng, Pulo Teungkurak, Pulo Bunta, Pulo Tuan Diapit, Pulo U, Pulo Sidom, Pulo Geupon, dan Pulo Lhee Blah. Tetapi pulau yang ada penduduknya hanyalah Pulo Breuh dan Pulo Nasi.

Perjalanan kesanapun dapat dilakukan dengan menyewa boat milik nelayan setempat yang berada di dermaga Lampulo dan Ulee Lheue. Waktu perjalanan bisa sekitar 1,5 – 4 jam tergantung keadaan laut.

***

Pagi  itu langit cerah, mendung yang biasa menggelayut manja di sepekan terakhir ini tak terlihat. Anak Buah Kapal (ABK) mulai bersiap sembari memeriksa kesiapan mesin begitu juga dengan Kurir angkut barang di Kapal Motor (KM) Rahmat Rezeki tampak sibuk. Mereka mengangkut semen, bahan makanan, puluhan jerigen minyak, lemari lengkap tempat tidur, bahka sepeda motor, dan berbagai barang lainnya ke dalam kapal dengan tujuan pulau Breueh ( Pulau Beras) yang merupakan pulau terluar di Kabupaten Aceh Besar.

Minggu terakhir bulan Maret 2019, saya kembali berkesempatan berkunjung ke pulau yang terkenal dengan sebutan pulau perawan, karena  keindahan pulaunya yang masih asri dan alami.

Semua muatan telah dimuat dengan rapi, satu persatu penumpang mulai memenu-hi dek Kapal Kayu yang menuju Pulau Breueh yang merupakan bahagian dari Pulau Aceh.

KM Rahmat Rezeki salah satu dari beberapa kapal penumpang menuju ke pulau terluar di Aceh Besar, tepatnya ke Pulo Breueh. Kapal berukuran 50 GT ini merupakan satu-satunya mode transportasi ke pulau Breueh. sekali perjalanan penumpang dikenakan biaya Rp 25.000 dengan waktu tempuh 2- 3 jam perjalanan, jika membawa sepeda motor maka harus menguras kocek lebih untuk biaya tiket sepeda moto.

Namun berbeda jika kita ingin bepergian ke pulau Nasi yang saat ini memiliki modetranspormasi kapal Roro KM. Papuyu yang setiap harinya memiliki 1 trep perjalanan dengan jarak tempuh sedikit lebih dekat yakni 1,5 jam dari pelabuhan Ulee dengan biaya tiket Rp 18.000 / orangnya.

Pulo Breueh masuk ke dalam kecamatan Pulo Aceh. Wilayahnya tunduk ke Kabu-paten Aceh Besar. Segaris pantai dengan Pulo Breueh, terdapat puluhan pulau kecil lainnya. Namun hanya dua pulau yang berpenghuni. 

Pulau tetangga yang berpenghuni lainnya adalah Pulo Nasi. Penduduk mereka sama. Dari Aceh daratan. Kini penduduknya berkisar 2 ribu jiwa. Terdapat lima gampong (desa) di sana. Antara lain Alue Reuyeueng, Deudap, Lamteng, Pasi Janeng, dan Rabo.

Tidak ada jalur transportasi yang menghubungkan antar pulau meski jaraknya berdekatan. Jika warga Pulo Nasi ingin ke Pulo Breueh, begitu pun sebaliknya, mereka harus menyewa boat nelayan.

Setelah menempuh perjalanan laut  akhirnya saya tiba di pulau Breueh Kecamatan Pulau Aceh, Pelabuhan di sana diapit pulau-pulau kecil dan pegunungan yang menjulang tinggi.

Dari sebelah kiri kapal, pelancong dapat melongok beberapa pulau kecil nan indah yang terletak berdekatan. Sementara di sebelah kanan kapal, pegunungan membentang luas. Bisa dibilang, pesona gerbang masuk Pulo Aceh ini adalah Raja Ampatnya Aceh

Di Pulo Nasi sendiri, terdapat beberapa destinasi yang patut dikunjungi. Di antaranya, Pantai Nipah, Pantai Deudap, Pantai Ujong Lhok Reudep, Ujong Batee Gla di Desa Alue Riyeung, serta Ujong Kareung Teungeh di Desa Pasi Janeng untuk menikmati matahari tenggelam. Masing-masing lokasi tersebut memiliki daya tarik tersendiri.Begitu juga halnya dengan pulau Breueh yang merupakan tetangga dari pulau Nasi di kecamatan Pulau Aceh. 

Pantai-pantai indah ini sangat cocok bila dijadikan tempat liburan bersama teman dan keluarga dengan mendirikan kemah di pinggir pantai sembari bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dan bagi yang hobi mancing, pantai-pantai di pulau nasi dan pulau Breueh sangat tepat menjadi pilihan lokasi memancing, banyak ikan dengan beragam jenis di lautnya.

Jika berangkat dari Banda Aceh, untuk menyeberang ke Pulo Nasi ada dua alternatif pilihan. Pertama dengan menggunakan kapal nelayan yang biasa mengangkut warga serta berbagai kebutuhan masyarakat di sana. Untuk opsi ini, kapal bersandar di dekat jembatan masuk ke Pelabuhan Ulee Lheue dan mengangkut warga setiap hari.

Sementara opsi kedua yaitu dengan menggunakan KM Papuyu yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Masing-masing opsi ini punya sensasi tersendiri.

Sedangkan pelancong yang hendak menyeberang ke Pulo Breueh, dapat menaiki kapal nelayan yang bersandar di dekat TPI Lampulo, Banda Aceh. Di sana, ada tempat serta kapal khusus yang setiap hari berlalu lalang ke Pulau Breuh.

***

Destinasi di pulau Breueh juga tak kalah menarik dengan Pulau Nasi,
Jalan di Pulo Breueh sedikit menantang banyak jalan berbukit. Belokannya tajam dan curam. Sepanjang jalan pohon kelapa banyak tumbuh.Yang bikin mata manja, beberapa pantai dengan pasir putihnya yang bagai permadani.

Selain pantai yang indah dengan pasir putih dan ikan-ikan para wisatawan juga bisa memanjakan mata melihat penampakan Pulau Aceh dari ketinggian menara pemantauan navigasi yakni Mercusuar William Torren. Salah satu mercusuar bersejarah peninggalan Belanda puluhan tahun silam. Mercusuar itu siap dibangun Kolonial Belanda pada tahun 1875. Konon, Mercusuar jenis ini hanya ada tiga di dunia. Yakni di Pulau Breueh kabupaten Aceh Besar propinsi Aceh, yang kedua  ada di Kepuluan Karibia dan yang ketiga ada  Belanda, saat ini telah dijadikan sebagai museum

Mercusuar ini disinggung dalam Onze Vestiging in Atjeh, sebuah buku tentang perang Aceh yang ditulis Mayor Jenderal G.F.W Borel. Katanya, William Torren mulai dibangun tahun 1874. Pemerintahan Hindia Belanda memiliki kepentingan untuk menjaga keselamatan pelayaran militer dan kapal dagang mereka di jalur strategis di sekitar pertemuan Selat Malaka dengan Samudera Hindia.

Ratusan orang diangkut dari Ambon untuk membangun menara suar ini. Juga ratusan warga lokal yang dipaksa ikut terlibat. 

Kedalaman pondasi menara tersebut, konon sama dengan ketinggiannya, 85 meter. Sedangkan ketebalan bangunan mencapai satu meter. Saat gempa mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004, bangunan itu tak sedikit pun bergeming. Ia tetap kokoh menuntun para pengelana samudera.

Nama menara William Torren diambil dari nama Raja Luxemburg, Willem Alexander Paul Frederich Lodewijk. Seorang raja yang dikenal giat membangun perekonomian dan infrastruktur di daerah kekuasaan Hindia Belanda. Karena itu, namanya ditabalkan pada menara suar di Meulingge, Pulo Aceh.

Saya memperhatikan sekeliling bangunan bersejarah itu. Suasananya asri. Menara berdiri di atas cadas yang curam, menjorok langsung ke laut lepas.

Di dekatnya berdiri bangunan bertingkat dua. Warnanya putih dengan genteng hijau. Bagian atas terdiri lima kamar. Sedangkan di bawah tiga kamar. Bentuknya seperti asrama tentara. Konon itu dulu adalah penjara untuk tawanan perang.

“Kini sudah dipugar. Sudah jadi kamar penginapan,” jadi bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke melingge pulau Breueh bisa bermalam di situ dengan biaya menginap Rp 100.000 – Rp 200.000 / malamnya tergantung besar kecilnya kamar. Namun meskipun jauh dari keramaian kota, aturan syariat Islam dan budaya ke-Acehan tetap di jaga di pulau ini, pasangan non muhrim tidak di benarkan menginab sekamar.

Jalan ke suar William Torrent kini telah mulus beraspal, namun kunjungan wisatawan masih terbilang sepi. Tertinggal jauh dengan pulau seberang, Sabang. Padahal selain daya tarik sejarah, Pulo Breueh kaya dengan alam pariwisata yang cantik. Banyak pantai dengan pasirnya yang putih. Laut yang biru. Terumbu karang yang beragam. Hutan yang masih lebat.

Tak hanya itu saja, pulau Breueh juga menawarkan pesona wisata lainnya yaitu di sepanjang bibir pantai Serpong, hampir setiap malam ada saja penyu yang naik ke bibir pantai untuk bertelur dan melepas lelah setelah berenang ribuan mil mengarungi samudra.

Di bibir pantai Serapong ada tempat penangkaran penyu milik masyarakat yang luasnya dua kali lapangan tenis meja, setengah bagiannya ditutupi dengan  seng dan bilah bambu. Lantainya beralaskan pasir pantai Serapong yang lembut. Sekelilingnya banyak tumbuh pohon pandan berduri, area itu menjadi kawasan favorit penyu untuk bertelur.
penangkaran tersebut telah berdiri selama dua tahun. Penangkaran ini dibuat untuk menjaga kepunahan penyu di Indonesia, khusus nya di Aceh.

Pantai Serapong menjadi lokasi saya tuk bermalam yang terakhir di Pulau Breueh dan esok paginya saya harus bergegas kembali ke ibu kota provinsi Aceh untuk kembali beraktivitas, masa liburan saya sudah usai, dua hari menjelajahi tempat – tempat wisata di Pulau Aceh sudah cukup membuat saya Jatuh cinta pada pulau yang di apit oleh perairan selat Malaka dan Samudra Hindia. Saya berharap Pulau Aceh juga menjadi salah satu destinasi wisata yg ada dalam lis liburan tahunan anda.***

Catatan grafis

  1. Pulau Aceh memiliki beberapa pulau namun hanya 2 pulau yang berpenduduk yaitu pulau Nasi dan Pulau Breueh
  2. Pulau Nasi 
    * Bisa ditempuh dengan menggunakan kapal Fery Papuyu di pelabuhan Ulee. Setiap hari pukul 10.00 wib dgn jarak tempuh 1,5 jam perjalanan. Tiket Rp18.000 / orang

* Bisa menggunakan bot nelayan yang bersandar di Kuala pantai ulele dekat tugu Ulee. Dengan ongkos Rp 20.000 / orang

  1. Pulau Breueh 
    * Pulau ini bisa ditempuh dengan menggunakan kapal nelayan yang bersandar di dermaga tempat pelelangan ikan Lampulo. Berlayar setiap harinya pada pukul 14.30 wib dengan biaya transportasi Rp 25.000/ orang. Dengan jarak tempuh 2,5 – 4 jam perjalanan.
  2. Destinasi wisata
    * Pantai Nipah, Pantai Deudap, Pantai Ujong Lhok Reudep, Ujong Batee Gla di Desa Alue Riyeung, serta Ujong Kareung Teungeh di Desa Pasi Janeng untuk menikmati matahari terbit dan tenggelam, berkemah, cocok juga buat snorkeling dan memancing.

* Menara Mercusuar bersejarah William Torren peninggalan Belanda yang tinggi nya 85 meter ini bisa melihat seluruh pulau Aceh  dan kapal2 yang melintas di perairan Aceh.

* Tempat penangkaran penyu di pantai Serapong Pulau Breueh Kecamatan pulau Aceh, kabupaten Aceh Besar. (Fitria Juliana)

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *