Berburu Kue Oleh-oleh Khas Aceh di Desa Lampisang

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Sudah puas menikmati wisata sejarah, wisata alam, dan wisata religi di Aceh, maka tak lengkap bila tidak membawa serta penganan kering khas Aceh, sebagai oleh-oleh untuk kerabat dan teman saat kembali ke kota anda.

Hampir semua penganan tradisional Aceh dari 23 kabupaten kota, dapat anda temukan di Lampisang. Sebuah Desa yang khusus menjajakan beragam oleh-oleh penganan khas Aceh. Puluhan ruko dan kedai berjejer rapi sepanjang jalan lintas Banda Aceh-Aceh Barat.

Tepatnya di Desa Lampisang, Kecamatan Lhokga, Kabupaten Aceh Besar. Tempatnya tak jauh dari cagar budaya Rumoh Cut Nyak Dhien. Yaitu sekitar tiga puluh menit perjalanan dari pusat Kota Banda Aceh menggunakan kendaraan umum.

Saya sempat bertemu dengan seorang pembuat kue tradisional Aceh saat sedang berkunjung ke Lampisang. Namanya Syafii. Dia sudah menjajakan kue buatannya sejak tahun 2000-an. Kini, kue kering produksi rumahan miliknya telah punya lebel pribadi.

Ada tiga jenis penganan tradisional produksi Syafii yang paling laris. Dodol, mesekat, dan bada reteuk. Dodol dan mesekat rasanya manis dan kenyal. Sedangkan bada reteuk, tak terlalu manis, renyah dan gurih.

Kata Syafii, penggemar kue produksi rumahannya lebih banyak wisatawan Malaysia. Terutama bada reteuk. Dia sering bertemu langsung pembeli yang singgah di tempat dia menitipkan dagangannya.  

Selain tiga makanan yang di produksi Syafii, ada beragam penganan yang awet dan bisa di bawa dalam perjalanan kembali pulang. Seperti kue keukarah. Kue kering yang digoreng, terbuat dari tepung beras, gula, dan air. Bentuknya seperti sarang burung. Rasanya manis, renyah, dan mengenyangkan. Cocok disantap dalam perjalanan.

Salah satu tempat Syafii menitipkan dagangannya adalah di ruko tiga pintu milik Cut Anda. Ruko Cut Anda, menjajakan lebih dari seratus jenis makanan tradisional Aceh dan tergolong lengkap.

Ada manisan pala, dari Aceh Selatan, ada kopi gayo dari Aceh Tengah, ada adee Kak Nah dari Mereudu, dan ada pisang salee dan kue bhoi dari Aceh Besar. Tak ketinggalan ada juga kue bakpia berbagai rasa dari pulau Weh, Sabang. Dan masih banyak puluhan jenis kue lainnya.

Selain berjumpa Syafii, saya juga bertemu langsung dengan Ahmad Irfan. Dia putra dari pemilik Ruko Cut Anda. Katanya, beda wisatawan beda pula selera makanan yang diborong. Seperti wisatawan lokal dari Sumatera Utara. Mereka rela memborong pisang salee dan bakpia Sabang sebagai oleh-oleh.  

“Kalau orang Malaysia, mereka lebih suka kue bhoi dan kopi Aceh,” kata Irfan. Ruko Cut Anda mulai berjualan pada hari ke dua lebaran Idul Fitri.   

Hampir semua penjual kue kering di Lampisang adalah warga asli Desa Lampisang. Begitu pula dengan produk kue yang sebagian besar diproduksi langsung oleh warga setempat. Mereka tak takut kehabisan stok kue saat musim liburan seperti lebaran Idul Fitri.

Jadi, jangan takut kehabisan oleh-oleh jika kalian sedang berkunjung ke Desa Lampisang. Saat penjual sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti dari berbagai daerah, maka warga Desa Lampisang sebagai produsen kue kering rumahan juga melakoni perannya. Seperti Syafii yang sudah mulai memproduksi kue buatannya pada hari kedua lebaran.  

 

Foto-foto : Desi Badrina

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Desi Badrina

Desi Badrina

Alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry. Hobi traveling dan membaca. Kini bekerja sebagai jurnalis freelance untuk media lokal di Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *