Jejak Habib Sayyid Abu Bakar bin Husin Bafaqih di Masjid Teungku di Anjong

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Bila anda ingin melihat salah satu replika bagunan masjid “tuha” di Aceh, silahkan berkunjung ke Masjid Teungku Di Anjong. “Tuha” dalam Bahasa Aceh berarti tua. Keunikan bentuk masjid tempo dulu di Aceh ini, terletak pada kubahnya yang berupa prisma segi empat bertingkat dua.

Masjid ini didirikan oleh Sayyid Abu Bakar bin Husin Bafaqih pada abad ke-18, sekitar tahun 1769 Masehi. Ia adalah seorang ulama dari Yaman yang mengembara untuk mendakwahkan ajaran Islam. Bahkan ia dianggap sebagai orang keramat dan mendapatkan gelar Teungku Di Anjong.

Masjid Teungku Di Anjong terletak di Desa Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja. Yaitu sekitar 10 menit perjalanan dari pusat Kota Banda Aceh. Di perkarangan masjid ini dulunya berdiri sebuah pondok pesantren guna menimba ilmu pengetahuan Islam.

Para santri yang belajar ke sana tidak hanya berasal dari Aceh, melainkan juga dari negeri Jiran, Malaysia. Tidak hanya itu, tempat ini juga dijadikan sebagai tempat menasik haji bagi jamaah yang datang dari berbagai wilayah di Nusantara pada masa itu.

Suasana di perkarangan masjid terlihat lengang, saat saya berkunjung, pada akhir April 2019. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang memotong rumput di area pemakaman warga yang berada satu komplek dengan Masjid Teungku Di Anjong.

Sayyid Abu Bakar bin Husin Bafaqih atau Teungku Di Anjong bersama istrinya, juga dimakamkan di komplek masjid, yang merupakan tanah wakaf dari Teungku Di Anjong sendiri. Makamnya kemudian menjadi pusat ziarah, bagi para wisatawan muslim yang datang ke Aceh.  

Seperti tahun-tahun sebelumnya, puncak kunjungan peziarah akan berlangsung pada hari kelahiran Teungku Di Anjong. Mereka biasa menyebutnya Haul Teungku di Anjong. Jatuh pada setiap 14 Ramadhan.

“Agenda tahun ini, seperti tahun lalu.  Ada peringatan Haul Tengku Di Anjung. Ada acara buka puasa bersama masyarakat. Kadang sering juga kami gabungkan dengan acara Nuzulul Quran,” kata Sekdes Gampong Peulanggahan, Fajriansyah. Nuzulul Quran adalah malam diturunnya Al-Quran yang diperingati setiap 17 Ramadhan.

Dia mengatakan, pada acara haul tersebut banyak tamu yang datang dari Pulau Jawa dan Kalimantan. Untuk Sumatera, biasa mereka datang dari Palembang.

“Bahkan, ada yang datang dari Yaman,” lanjut Fajriansyah. Ia menunjuk salah satu potret di dinding bagunan makam Teungku Di Anjong. Di sana tertera sebuah nama. Al-Habib Umar bin Hafidh. Katanya, mereka masih punya hubungan keluarga. Dan rutin berkunjung tiap tahun.

Ia juga bercerita, saat tsunami melanda pada 26 Desember 2004, bangunan masjid berbahan kayu ini turut tersapu air. Sebab, letaknya hanya sekitar  dua kilometer dari bibir pantai. Tak hanya itu, peninggalan ulama yang tersimpan di dalam masjid seperti kitab-kitab juga ikut terbawa air.

Namun makam Teungku Di Anjong dan istrinya tak rusak, hanya bagian atap makam yang terlepas. Kemudian, Masjid Teungku di Anjong dibangun kembali oleh warga Peulanggahan, tanpa mengubah bentuk aslinya.

Di sebelah kiri masjid, dibangun sebuah monumen hampir setinggi tiga meter dan lebar sekitar satu setengah meter. Bentuk persegi panjang bertingkat. Dibagun guna mengenang warga Peulanggahan yang terkena tsunami 14 tahun silam.

“Dulu kami kumpulkan warga yang tersisa. Kami minta mereka memberikan nama keluarga yang menjadi korban. Dan diabadikan di batu itu. Nama tertera di sana sekitar 4000-an,” jelas Fajriansyah. Dikemudian hari, nama tersebut kembali bertambah, namun belum tertoreh pada monumen, dengan alasan menunggu semuanya terkumpul.

Sebuah tenda putih masih bertengger di depan makam Teungku Di Anjong dan istrinya. Masyarakat bersama penjaga makam, baru saja melaksanakan ziarah kubra. Mereka melangsungkannya pada malam Nisfu Syakban atau pertengahan bulan Syakban.

“Ziarah kubra ini sudah ada sejak enam tahun lalu. Dan rutin tiap tahun. Sudah masuk dalam agenda tahunan di Desa Peulanggahan,” katanya.

Ia mengimbau, bagi wisatawan muslim yang ingin merasakan suasana sholat tarawih di Masjid Teungku Di Anjong, sekaligus berziarah ke makam ulama tersebut, jangan sungkan untuk datang. Masjid Teungku Di Anjong, terbuka untuk siapapun yang ingin berziarah.

Ia menambahkan, salama bulan suci ramadhan, selalu ada ceramah dan pengajian rutin yang dapat diikuti oleh jamaah di Masjid Teungku Di Anjong.

 

Foto: http://afasjamalullail.blogspot.com

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Desi Badrina

Desi Badrina

Alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry. Hobi traveling dan membaca. Kini bekerja sebagai jurnalis freelance untuk media lokal di Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *