Pesona Samudera Hindia dari atas Benteng Anoe Itam Sabang

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Jika berkunjung ke Sabang, jangan lupa singgah sejenak di situs sejarah Sabang, yakni Benteng Anoe ltam, bukti sejarah peninggalan Jepang pada perang dunia kedua. Dan juga bisa memanjakan mata dengan hamparan lautan luas samudera Hindia

Sabang, tak salah rasanya jika di juluki kota seribu benteng, tak ubahnya seperti Sulawesi yg juga memiliki banyak benteng peninggalan Belanda.

Namun hinggaga saat hanya tinggal beberapa benteng saja di kota paling hujung Indonesia bagian barat ini, seperti benteng di tapak gajah, Pasiran, Balohan, pantai kasih dan Anoe ltam yang masih terawat dan sudah dijadikan situs sejarah oleh pemerintah Sabang.

Benteng Anoi Itam atau Benteng Jepang ini menjadi salah satu destinasi wisata yang sarat akan sejarah. Benteng-benteng peninggalan Jepang ini dibangun antara tahun 1942-1945. Dimana benteng ini dulunya digunakan sebagi tempat penyimpanan untuk berbagai jenis senjata bagi para armada Jepang.

Jika dilihat, benteng ini beranda di dalam tanah atau tertimbun di tanah dan pada bagian atas berbentuk seperti tapal kuda. Dari posisi tersebut bangunan ini difung-sikan sebagai benteng pertahanan untuk memantau musuh saat terjadi Perang Dunia II.

Selain itu di kawasan ini juga banyak terdapat benteng-benteng kecil lainnya dan terhubung satu sama lain melalui sebuah terowongan. Namun saat ini terowongan-terowongan tersebut telah ditutup oleh pemerintah kota dengan alasan untuk keamanan warga sekitar.

Jadi jika anda mendatangi lokasi ini akan terlihat mulut terowongan tersebut yang telah ditutup dengan kayu. Benteng-benteng inipun hampir mengelilingi bibir pantai Sabang. Karena inilah pulau Sabang dijuluki dengan Kota Seribu Benteng.

Benteng ini terletak di Gampong reutek Anoe ltam berdampingan dengan Pantai Anoe Itam dengan warba pasir nya hitam legam seperti serbuk besi. Sebuah benteng kecil yang terletak di kaki bukit dan dikelilingi dengan anak tangga membuat pengunjung ingin segera melangkahkan kaki mendaki anak tangga tersebut. Dari ketinggian bukit tempat adanya benteng tersebut para pengunjung bisa menyaksikan panorama alam yang menakjubkan lepas pantai samudera Hindia yang menjadi penghubung Sabang dengan selat Malaka dan ibukota Banda Aceh.

Tak hanya itu saja, Panorama Keindahan Benteng Anoe Itam juga bisa di temui dengan menyusuri lorong-lorong yang berada di dekat bukit, maka akan ditemukan benteng-benteng kecil yang memiliki ukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter yang tertanam di dalam tanah. Kemudian jika melanjutkan perjalanan akan menemui pula di penghujung lorong dan bertepatan di atas bukit, terdapat sebuah benteng dengan latar belakang yang menghadap ke arah laut Selat Malaka yang terbentang luas.

Selain itu, terdapat juga beberapa titik peninggalan bekas benteng yang menjalar di sepanjang laut dan hampir sekitar 100 meter dan dihubungkan dengan jalan yang hampir mirip dengan jalan setapak dan memiliki lebar sekitar satu meter. Jalan ini pula tetap terlihat kokoh padahal usia jalan ini hampir setengah abad lebih. Dan di depan muka benteng juga derdapat meriam besar peninggalan Jepang.

Untuk menuju ke benteng ini, membutuh-kan waktu sekitar 20 menit dari pusat kota Sabang dan dari pelabuhan Balohan atau sekitar 25 kilometer.

Pemerintah Kota Sabang menjadikan Benteng Anoi Itam sebagai salah satu objek wisata unggulan. Saban tahun, objek wisata ini menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatan baik dari lokal maupun mancanegara.

Di benteng ini, terdapat empat bunker dengan ukuran yang bervariasi. Di tangga pertama, terdapat sebuah bunker berukuran sekitar 2×3 meter. Sementara tiga bunker lainya terdapat di atas. Pengunjung harus menaiki anak tangga. Dinding batu berbentuk lorong dan terdapat dua bunker lainya di sela-sela batu. Bunker tersebut sedikit lebih besar dari bunker pertama. Bunker utama berada di atas bukit setinggi 20 meter. Bunker utama tersebut berukuran lebih besar lagi. Di dalam bunker itu terdapat sebuah meriam tua yang terbuat dari besi. Meriam berukuran tiga meter itu hingga sekarang masih ada di dalam bunker.

Yang menjadi daya tarik pada bunker peninggalan Jepang ini adalah pemandangannya. Bunker ini langsung berhadapan ke laut lepas. Memang posisi bunker ini terletak cukup strategis sebagai strategi pertahanan perang.

Menurut sejarahnya, benteng ini merupakan salah satu benteng yang digunakan oleh tentara penduduk Jepang untuk menyimpan peluru dan senjata mereka ketika perang dunia II. Benteng ini juga menjadi tempat untuk bertahan dari musuh.

Catatan :

  • Dari Banda Aceh menuju Sabang harus naik kapal Ferry dengan harga karcis Rp 27.000/ orang
  •  Jika bawa sepeda motor maka nambah karcis sepeda motor Rp 27.000/ motor dan Rp 230.000 untuk karcis Mobil pribadi.
  • Bisa juga di tempuh dengan kapal expres ( kapal cepat ) harga tiket ekonomi Rp 80.000/ orang,

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *