Menikmati Keindahan Alam Ekowisata Mangrove Aceh Jaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

JIKA Anda sedang melakukan perjalanan di lintas Barat Selatan Aceh, maka akan mendapati banyak keindahan alam yang terbentang di sepanjang perjalanan. Salah satunya di wilayah Kabupaten Aceh Jaya.

Jika Anda ke sana, saya merekomendasikan satu tempat bagus untuk dikunjungi. Tempat itu adalah kawasan Ekowisata Mangrove yang terletak di Gampong Baro Sayeung, Kecamatan Setia Bakti.

Jarak dari Kota Banda Aceh ke kawasan ini sekitar 143 kilometer atau memakan waktu tempuh sekitar 3 sampai 4 jam jika jalan santai. Lokasinya hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari kota Calang atau 8 sampai 10 menit jarak tempuh.

Kala tiba di lokasi, nantinya akan melihat rambu lalu lintas pembatas jalan (road barier) plastik berwarna merah yang diletakkan dari kedua sisi jalan.

Wisatawan dapat langsung berbelok ke kiri jika datang dari arah Banda Aceh dan memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang telah disediakan.

Setelah memarkirkan kendaraaan, kita tinggal berjalan beberapa langkah ke depan dan menuruni tiga anak tangga yang terletak tepat di bawah gapura bertuliskan ‘Sayeung Aceh Jaya Mangrove Park’.

Saat masuk ke kawasan ekowisata mangrove, dari sisi kanan terlihat bangunan kayu dengan beberapa ruangan di sana terdapat beberapa orang penjaga yang siap sedia menyambut kedatangan wisatawan.

Pengunjung akan diberikan tiket masuk berupa kertas kecil seharga Rp 5 ribu per orang.

Kemudian di sana juga tersedia sebuah meja yang diatasnya tertata sejumlah topi pantai bermacam model dan juga payung yang disewakan seharga Rp 5 ribu untuk dipakai seharian di kawasan tersebut.

Uniknya lagi, pada salah satu bangunan kayu di sana terdapat ruangan perpustakaan baca yang telah diisi dengan ratusan buku.

Sebagian buku sengaja diletakkan di atas meja untuk menarik pengunjung membacanya. Buku-buku tersebut diperoleh dari berbagai sumbangan.

Pihak pengelola juga akan menerima dengan senang hati jika ada wisatawan yang ingin ikut menyumbangkan buku ke sana untuk menambah koleksi buku mereka.

Trek ekowisata mangrove. (Foto: Uci Setiawan)

Setelah membeli tiket, pengunjung akan mulai menyusuri jembatan kayu atau trek yang dicat dengan tiga warna yaitu merah, hijau dan kuning.

Pemandangan mangrove kiri kanan mulai mendominasi dengan ketinggian pohon bervariasi diperkirakan mencapai belasan meter.

Jika kita datang di saat matahari terik, ketika pertama menginjakkan kaki menyusuri mangrove suasana akan jauh berbalik menjadi sejuk dan rimbun. Apalagi letak kawasan ekowisata ini hanya sekitar beberapa ratus meter dari pinggir pantai.

Bisa dibayangkan sendiri angin pantai rasanya seperti apa. Terik cahaya matahari hanya beberapa spot yang berhasil menerobos rimbunnya dedaunan pohon magrove. Walaupun jika kita mendongak ke atas akan tetap sedikit menyilaukan.

Pada trek pertama kita akan menemukan sebuah gazebo dengan tulisan ‘Rhizopora Apiculata’.

Sebuah nama dari jenis pohon magg=rove yang ditanam di kawasan tersebut, di sana juga tersedia meja kayu dengan bangku panjang yang juga terbuat dari kayu saling berhadapan.

Saat berkunjung ke sana, saya disambut oleh pengelolanya, Karilman. Ia mulai menceritakan tentang ekowisata itu.

Menurut Karilman, Ekowisata Mangrove ini merupakan salah satu tempat wisata baru di kawasan tersebut yang diresmikan pada 13 Januari 2021 lalu oleh Bupati Aceh Jaya, T. Irfan TB.

“Dari setelah peresmian sampai dengan saat ini, kita sudah dikunjungi sebanyak 6.000 pengunjung. Kita juga sudah terima 38 paket untuk foto prewedding,” ucap Karilman, Kamis, 8 April 2021.

Dikatakan Karilman, wisatawan datang dari berbagai wilayah di Aceh, bahkan ada yang dari Sumatera Utara.

Menurutnya, kebanyakan wisatawan selama ini datang dari Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya.

Luas keseluruhan Ekowisata Manggrove itu 300 hektare, namun untuk pembangunan trek saat ini baru dilakukan pihaknya sepanjang 130 meter.

Lalu saat saya kembali menyusurinya ke depan, terlihat beberapa bangku yang sengaja disediakan pengelola untuk pengunjung yang mungkin lelah berjalan.

Ada berbagai spot bagus untuk berswafoto di sana.

Ekowisata Manggrove di Aceh Jaya juga tersedia gazebo untuk para wisatawan. (Foto: Uci Setiawan)

Ketika tiba di gazebo kedua bernama ‘Rhizopora Stylosa’, terik matahari kembali menyengat karena pohon manggore hanya tertanam dibeberapa sisi saja. Apalagi saat itu jam menunjukkan pukul 13.45 WIB.

Menurut Karilman pada gazebo kedua ini nantinya akan dibangun kantin magrove dan akan disediakan beberapa makanan.

Namun, saat ini masih hanya terdapat beberapa bangku dan meja kayu serta seorang penjaga yang siap sedia memandu jika dibutuhkan.

Kemudian berbelok sedikit, tepatnya di ujung trek, terdapat sebuah menara besi dengan tinggi sekitar 10 meter yang seolah menggoda pengunjung untuk dinaiki.

Penampakan menara di tengah destinasi wisata hutan mangrove, Kabupaten Aceh Jaya. (Foto: Uci Setiawan)

Dari atas menara tersebut, kita bisa menyaksikan tanaman mangrove yang sebagian sudah tumbuh besar dan sebagian lagi baru saja ditanam.

Selain pemandangan gunung dan air sungai berkilau karena cahaya matahari, angin sepoi-sepoi juga menyejukkan dan membuat siapa saja betah berlama-lama di sana.

Tapi, tetap saja kita harus bertukar dengan pengunjung lainnya yang juga ingin naik ke sana. Apalagi, maksimal pengunjung yang bisa naik bersamaan maksimal hanya 6 orang saja.

Saat naik maupun turun tangga, kita juga harus berhati-hati memperhatikan langkah kaki karena bentuknya yang kecil dan sempit.

Lalu tepat di bawah tower, terdapat sebuah dermaga boat dan spanduk berupa jalur boat yang akan dilalui pengunjung jika ingin menaikinya.

Dikatakan Karilman, selain bisa menikmati track, pengunjung juga bisa menaiki boat wisata untuk diajak berkeliling seluruh ekowisata mangove. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 15 ribu saja dan boat akan berangkat dengan maksimal 10 penumpang.

Tersedia dua boat disana yang siap beroperasi kapan saja. Ternyata, kawasan ekowisata ini juga dekat dengan lokasi penangkaran buaya, loh.

“Iya kalau buaya memang banyak di sini. Tapi, alhamdulillah tidak menganggu ketika wisatawan keliling memakai boat,” tambahnya.

Menariknya lagi, bagi pengunjung yang punya hobi memancing, di kawasan ekowisata ini juga menyediakan paket khusus mancing seharian sebesar Rp 300 ribu/boat. Dan akan ditemani seharian menyusuri sungai mangrove bahkan juga bisa dibawa ke laut, sesuai permintaan.

Jika pengunjung ingin shalat, tak jauh dari lokasi wisata juga terdapat masjid, namun jika hanya ingin ke kamar mandi di sana tersedia satu unit kamar mandi.

Untuk kuliner sendiri, sementara waktu pihak pengelola mengusulkan untuk mampir di beberapa pondok yang terletak di sebrang lokasi wisata.

Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai fasilitas dan pekerja akan ditingkatkan agar membuat pengunjung yang sudah pernah datang dapat kembali lagi menikmati setiap perubahan terbarunya.

“Nantinya kita juga berencana akan menambahkan beberapa fasilitas dan pekerja perlahan-lahan agar dapat kembali menarik pengunjung yang penasaran,” ucap Karilman.

Selain tempat ekowisata, lokasi tersebut juga dijadikan sebagai tempat edukasi dan penelitian dari berbagai kalangan.

Untuk yang mau berkunjung, silahkan datang setiap hari Senin-Minggu kecuali Jum’at dari pukul 09.00 WIB sampai 18.00 WIB. Sebagai informasi, lokasi ini paling ramai dikunjungi pada saat akhir pekan.¬†Selamat berlibur. []
Penulis: Uci Setiawan

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait: