Perjalanan Mencari 44 Daun Ie Bupeudah di Bukit Nusa

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Nurhayati memakai atribut lengkap pagi itu. Sepatu karet dan topi menjadi andalannya saat mendaki. Tahun ini, jajahannya bagian Timur Gampong Nusa. Berbekal sebilah parang, sebotol air minum, dan kue dari rumah yang ia masukkan dalam sebuah tote bag putih bertuliskan Natural Plus, ia siap berangkat.

Tujuannya mendaki bukit menjelang Ramadhan, bukanlah hiking seperti biasa, membawa para tamu yang berkunjung ke Desa Wisata Gampong Nusa, melainkan pergi mencari beragam daun kayu, yang menjadi bahan utama untuk membuat bumbu Ie Bu Peudah.

Ie Bu Pedah adalah makanan berupa bubur spesial berbuka puasa dan sahur yang hanya ada pada bulan Ramadhan di Aceh. Terbuat dari 44 macam rempah-rempah berkhasiat yang dapat meningkatkan stamina tubuh selama berpuasa.

Hingga saat ini, lebih dari 20 macam bahan campuran bumbu Ie Bu Peudah yang sebagian besar terdiri dari daun kayu hutan, masih dapat dijumpai di bukit Nusa. Nurhayati berusia 14 tahun, ketika pertama kali diajak Mak Poe mencari daun kayu di bukit belakang desanya. Mak Poe adalah panggilan untuk kakak ibunya.

Usia Mak Poe kini sudah 82 tahun. Mengajarkan kearifan lokal secara turun temurun telah dilakukannya sejak 34 tahun lalu. Sayangnya, hingga 2019, tidak ada yang mau mewarisi ilmu mencari daun kayu di bukit Nusa pada Nurhayati, seperti yang diajarkan Mak Poe padanya.

“Perjalanan ke gunung ini melelahkan. Tak semua mau pergi. Saya yang paling muda saat ini, yang masih mencari daun kayu,” kata Nurhayati.

Pagi itu, saya dan Anisah, adik Nurhayati, mengikutinya berburu daun kayu. Kami bertiga menyusuri jalan setapak, sebelum nantinya bertemu dengan suami Anisah. Ia menemani kami ke bukit.

“Banyak babi hutan. Perlu ada laki-laki yang kawanin kita ke atas,” terang Nurhayati.

Jalan setapak dan datar dari rumah Nurhayati kami lalui sekitar 20 menit berjalan kaki. Kemudian berlanjut dengan tanjakkan. Makin lama makin terjal. Hari cukup cerah. Matahari seolah membakar semangat kami mencari daun kayu.

“Di sebelah sana ada sebatang. Daun Si Mirah Doeng,” kata Nurhayati pada adik iparnya, yang berjalan paling depan. Ternyata Nurhayati sudah hafal, di bagian mana saja daun kayu itu tumbuh.

Salah satu daun yang paling susah ditemukan yaitu daun Si Mirah Doeng. Nurhayati hanya bisa menyebutnya dalam Bahasa Aceh. Bentuknya agak lebar, panjang, dan berwarna kemerahan. Bila permukaan daun terkena sinar matahari, warna merahnya akan memantul.

“Daun Si Mirah Doeng ini tumbuh di tempat tertentu. Biasa di sudut-sudut. Harus jeli kita melihatnya. Dan agak susah tumbuh,” jelas Nurhayati.

Dia menghafal letak tumbuh daun satu ini dengan cara tidak mencabut akarnya saat mengambil daun. Hanya memotong ranting berdaun lebat. Selebihnya ditinggalkan supaya dapat dipanen menjelang Ramadhan berikutnya.

Ini kali ketiga Nurhayati ke bukit Nusa mencari daun kayu dalam April 2019. Ia berbagi peran dengan Mak Poe. Nurhayati mencari daun di gunung, sedang Mak Poe bertugas meracik semua bumbu.

Selain menyiapkan bumbu guna dikonsumsi keluarganya, ia juga menerima pesanan bumbu Ie Bu Peudah. Pembeli sering datang dari warga Gampong Nusa, tapi ada pula dari luar. Harga per bambunya 60 ribu rupiah saja. Boleh membeli dalam porsi lebih sedikit. Sesuai dengan kebutuhan.

“Kadang, kalau ada pesanan khusus untuk buka puasa, Mak Poe juga mau membuat dalam bentuk siap makan. Satu porsi lima ribu rupiah,” katanya.

Perjalanan mencari daun kayu di bukit Nusa, berakhir dengan meneguk air kelapa muda dari kebun suami Anisah, yang kami lewati saat perjalanan pulang. Nurhayati berhasil mendapatkan 20 macam daun kayu sebagai tambahan dari daun sebelumnya.

Melihat Nurhayati pulang membawa seikat besar ranting penuh daun, Mak Poe yang duduk di balai depan rumah, seketika berjalan ke dalam. Ternyata, ia masuk mengambil wadah sebagai tempat daun kayu yang akan dipisahkan dari ranting dan akar daun.

“Proses pembuatan Ie Bu Peudah ini masih panjang. Setelah Mak Poe meluruhkan dari rantingnya, semua daun dijemur sampai rapuh. Setelah itu, campurannya seperti beras, jagung, kacang hijau, harus disangrai sebelum nantinya ditumbuk bersama semua daun kayu. Belum lagi, mengubas rempah-rempah juga butuh waktu,” penjelasan Nurhayati panjang.

Ia yang baru turun dari bukit Nusa merasa senang, melihat Mak Poe selalu antusias dengan daun kayu yang berhasil ia bawa pulang. Katanya, tahun depan ia akan mencari daun kayu di bukit lain yang tidak dia jamah tahun ini.

“Karena saya cari daun tiap tahun, saya hafal dimana-mana saja tempatnya dan bagaimana lambatnya pertumbuhan batang kayu itu. Jadi daerah yang saya ambil daunnya tahun ini, akan disimpan untuk tahun depan,” demikian Nurhayati.

 

Foto utama : https://www.bandaacehtourism.com

Foto-foto : Desi Badrina

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Desi Badrina

Desi Badrina

Alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry. Hobi traveling dan membaca. Kini bekerja sebagai jurnalis freelance untuk media lokal di Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *