Kampung Peunayong dan Kejayaan Etnis Tiongkok di Aceh

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Acek tak hanya dikenal dengan wisata religi yang bernuansa Islam, tapi  juga memiliki tempat yang mengesankan Aceh sebagai sebuah bangsa yang memiliki keberagaman suku dan agama.

Kampung Peunayong adalah sebuah cerita Aceh yang mengambarkan keberagaman itu. Kawasan ini terletak di bantaran krueng (sungai) Aceh, tepatnya berada di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, dan berada di pusat kota.

Peunayong termasuk kawasan kota tertua di Banda Aceh. Tempo dulu, Belanda mendesain kawasan tersebut sebagai Chinezen Kamp atau Pecinan. Tempat ini dihuni warga China dari suku Khek, Tio Chiu, Kong Hu, Hokkian dan etnis suku China lainnya.

Kata Peunayong terdiri dari dua suku kata dalam bahasa Aceh, yakni “peu” dan “payong” dan memiliki makna memayungi, melindung, dan mengayomi. Menurut cerita, pada abad ke-16 Kerajaan Aceh Darussalam yang diperintah Sultan Iskandar Muda membuat perkampungan sejumlah bangsa asing, dan Peunayong disematkan pada perkampungan tersebut karena tempat ini sering kali digunakan Sultan Iskandar Muda untuk menjamu dan melindungi para tamu Kerajaan Aceh. Para tamu kerajaan berasal dari Tiongkok, Gujarat, dan Eropa. Mereka pun merasa aman selama berada di perkampungan Peunayong.

Hubungan China dan Aceh telah terjalin harmonis pada abad ke-13 ketika Kerajaan Samudra Pasai menerima kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1415 silam dengan menyerahkan cendera mata berupa Lonceng Cakradonya.

Rani Usman dalam bukunya berjudul Etnis Cina Perantauan di Aceh menyebutkan, fase ketiga kedatangan bangsa Tiongkok ke Aceh terjadi pada tahun 1875. Migrasi besar-besaran ini terjadi karena dibawah pemerintahan Hindia Belanda, etnis China dipekerjakan sebagai budak di Aceh.

Kampung Pecinan Peunayong merupakan warisan budaya yang menyimpan bangunan-bangunan tua bersejarah, pasar tradisional, toko obatan, rumah makan, hingga warung kopi, sehingga terkenal pusat perdagangan antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Tiongkok.

Diantara peninggalan yang mempunyai nilai sejarah adalah Kelenteng atau Wihara yang telah berumur 141 tahun, dan bangunan ruko berarsitektur Tiongkok dengan ciri atap melengkung dan bertipe pelana atau Gable Roof.

Di Peunayong pun pada 25 Mei 1913 silam adalah tempat tanah kelahiran seorang tokoh Tionghoa sebagai simbol penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, yakni Yap Thiam Hien.

Tak cuma latar belakang sejarah yang mengingatkan kembali kejayaan perdagangan antara Aceh dan Tiongkok beberapa abad silam, dan kelahiran tokoh HAM Indonesia di Peunayong, tapi tempat ini juga dikenal sebagai distinasi wisata kuliner. Di sudut kota tua ini terdapat REX, yaitu sebuah pusat kuliner yang tiap malam ramai dikunjungi.

Beragam menu makanan dapat anda jumpai termasuk masakan tradisional Tiongkok, sate Matang, kerang rebus saos nenas, mie Aceh, nasi guri, nasi goring aceh, nasi kuah sie itek, dan makanan ringan lainnya.

Setelah anda puas mencicipi menu makanan, tak lengkap jika tidak berburu cendera mata khas Aceh. Di Peunayong juga banyak toko souvenir yang membuat anda terus-terusan mengingat Aceh.

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Jufrizal Daud

Jufrizal Daud

Alumnus program master journalism di Nanchang University. Pernah aktif di kantor berita Sindikasi Pantau dan Aceh Feature. Kumpulan liputannya tentang politik dan HAM telah dibukukan dalam antologi bersama Aceh Feature; SetelahDamai di Helsinki. Pernah mendapatkan penghargaan lomba esai dari pemerintah Kanada.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *