Kuah Beulangong, Citarasa Kuliner Aceh yang Melegenda

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Kuah belangong (kuah belanga) merupakan masakan tradisional Aceh Besar yg menjadi makanan legendaris sejak masa kesultanan Aceh, dan menjadi makanan wajib saat hajatan, masakan daging di kuali besar dengan paduan nangka atau pisang pada masa kesultanan dimasak untuk kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat sebagai rasa syukur.

Asap mengepul dari 12 belanga besar, berdiameter sekitar satu meter. Dua belas pekerja tampak sibuk mengaduk daging yang sudah dicampur bumbu. Aroma khas keluar menggelitik hidung. Api membara, sesekali pekerja menambah kayu bakar agar api tetap menyala.

Memasak Kuah Beulangong sudah dimulai selepas subuh, puluhan pekerja mulai bekerja mempersiapkan bahan untuk memasak Kuah Beulangong. Dua lembu besar disembelih, lalu bergotong-royong membersihkan dan memotong-memotong kecil. Sebagian lagi tampak sibuk meracik bumbu Kuah Beulangong yang kaya rempah-rempah.

Kemudian pekerja membawa daging yang sudah dicincang ke dalam belanga, lalu dicampur dan diaduk-aduk dalam belanga besar dan ditambah air. Sebelum daging empuk, ditambah terlebih dahulu potongan buah nangka, sebagian ada juga menambah buah pisang.

Selama proses memasak, pekerja tak beranjak di samping belanga. Saat sedang mendidih harus terus diaduk agar tidak berkerak di bawah. Pekerja sesekali harus mengusap matanya, perih karena asap terus mengepul, peluh membahasi baju dari uap hawa panas.

Memasak Kuah Beulangong sudah menjadi tradisi di Aceh Besar setiap ada hari-hari besar maupun kenduri lainnya. Masyarakat Aceh Besar percaya, Kuah Beulangong merupakan ulee makanan (kepala makanan). Ulee makanan bermakna setiap ada masakan apapun, kenduri apapun tetap kuah beulangong menjadi menu utama.

“Ini khas Aceh Rayeuk (sebutan lain Aceh Besar) Kuah Beulangong. Karena Kuah Beulangong ini kepala makanan, yang tidak ada di tempat lain,” kata Geuchik (kepala desa) Gampong Lamdom, Fauzan beberapa waktu lalu.

Memasak kuah beulangong sudah menjadi tradisi warga Gampong Lamdom untuk perekat silaturahmi, membangun persatuan. Sama halnya seperti gampong lainnya, Kuah Beulangong juga menjadi tradisi disediakan pada hari-hari besar Islam, atau kenduri lainnya.

Kuah Beulangong yang kaya rempah-rempah khas Aceh ini memang sangat mudah ditemukan di beberapa warung nasi di Banda Aceh dan Aceh Besar. Rata-rata Kuah Beulangong yang dimasak di warung nasi lebih dikenal dengan sebutan Kari Kambing.

Memasak kuah beulangong merupakan masakan tradisional khas Aceh Rayeuk yang sudah melegendaris. Sejak zaman kesultanan, kuah beulangong sudah mulai dimasak untuk kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat sebagai rasa syukur.

Masakan kuah beulangong khas Aceh Rayeuk sebenarnya juga terdapat di beberapa daerah lainnya. Akan tetapi, hanya saja cara memasak yang berbeda. Di Kabupaten Pidie misalnya, memasak kuah beulangong lebih dominan berwarna merah, karena banyak cabai dan dicampur dengan santan kelapa yang sudah diperas.

Berbeda dengan kuah beulangong Aceh Besar yang tidak menggunakan santan peras melainkan kelapa yang giling langsung dicampur ke dalam kuah beulangong. Sedangkan di daerah lain, kelapa parut diperas dan ampasnya dibuang. Rasanya sebenarnya sama-sama gurih, aroma khas rempah-rempah memantik nafsu makan.

Bumbu yang dipakai seperti cabe rawit, cabai merah, bawang merah dan putih serta beberapa rempah-rempah lainnya. Seperti daun teumeurui, serai hingga ada dicampur sedikit lada.

Untuk desa lamdom sendiri, tradisi ini sedang di mulai sejak tahun1953. Para pendahulu memasak kuah beulangong ini untuk menyambung silaturahmi dengan sesama warga sendiri maupun dengan warga gampong tetangga lainnya.

Setelah 12 pekerja bergelut dengan asap dan panasnya bara api selama 4 jam lebih. Kuah Beulangong pun sudah matang. Warga setempat, mayoritas kaum hawa membawa tempat untuk mengambil kuah beulangong yang akan dibagi-bagikan.

Warga diminta untuk antri dan tertib. Petugas yang membagikan pun mengatur tempat yang dibawa oleh warga, lalu dibagikan sama rata. Setelah itu warga kembali pulang dengan senyum sumringah dengan membawa kuah beulangong gratis.

Kuah beulangong bagi warga Banda Aceh dan Aceh Besar tidak bisa dipisahkan dalam kehidupannya. Kuah beulangong kuliner tradisional yang sudah melegendaris telah memantik wisatawan datang ke Aceh untuk mencicipinya.

Dan kuah Beulangong akan menjadi salah satu menu wajib dalam festival Aceh Kuliner yang akan berlangsung di taman ratu Safiatuddin pada tanggal 5- 7 Juli 2019. Dan sudah 3 tahun ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh menggelar festival kuah Beulangong guna menarik minat wisatawan ke Aceh dengan menyuguhkan masakan tradisional Aceh.*

 

Foto: travelingyuk.com, beritadaerah.co.id

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *