Terkenang Mie Kocok Geurugok

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Laki-laki itu terlihat sedang meramu mie kocok pesanan pelanggan. Ia mengatur beberapa piring terlebih dahulu. Kemudian mengambil segenggam tauge, sejumput mie Aceh, dan memasukannya ke dalam sendok aluminium panjang berujung seperti mangkuk dengan lubang dibeberapa bagian. Lalu, merendam mie ke dalam kuah pada wadah aluminium setinggi satu meter. Seketika asap beraroma kaldu ayam mengepulkan kepermukaan.

Tak sampai satu menit, bahan utama mie kocok itu, ia angkat dan tuangkan dalam piring. Begitu seterusnya hingga piring kosong yang disediakan untuk beberapa pelanggan terisi. Selanjutnya, ia mengambil daging ayam yang telah dipanggang dan menyuirnya. Daging ayam yang dugunankan pun bukan daging ayam potong seperti di pasaran, melainnya ayam kampung spesial. Untuk menyuirnya saja, ia menggunakan pisau karena daging ayam kampung sedikit lebih alot dari daging ayam biasa. 

Kemudian, ia tambahkan kentang rebus dan menyiram mie kocok racikannya dengan kuah kaldu yang kental. Sebagai penutup, ia tak lupa memberi rajangan daun seledri dan taburan bawang goreng serta sedikit kecap manis. Mie Kocok Geurugok siap disantap.

Pertama kali saya mencoba Mie Kocok Geurugok ketika saya melakukan traveling Banda Aceh-Lhoksemawe dengan sepeda motor bersama Nur Nisa. Geurugok masuk dalam rute perjalanan Banda Aceh-Lhoksemawe. Dan kami merencanakan singgah istirahat sambil makan siang di Geurugok pukul 13.30 WIB. Dari Banda Aceh kami bertolak menuju Lhoksemawe pada pukul 08.00 WIB.

Geurugok adalah sebuah desa yang menjadi ibu kota Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun. Sekitar lima jam perjalanan dari Ibu Kota Provinsi Aceh. Letaknya di pinggir jalan nasional Banda Aceh- Medan. Ada banyak pedagang yang berjualan Mie Kocok Geurugok di pinggir jalan tersebut.

Bireun merupakan kampung halaman Nur Nisa. Dia yang merekomendasikan Mie Kocok Geurugok itu pada saya. Tak ada ekspektasi apa pun saat mendengar kuliner mie kocok. Dalam bayangan saya, pastilah mie kocok ini sama saja dengan mie kocok yang ada di kampung halaman saya, di Kabupaten Aceh Selatan. Yaitu mie aceh dengan campuran tauge dan ayam cincang dengan kuah kaldu ayam yang terbuat dari ayam potong biasa.

Ternyata, saat Mie Kocok Geurugok pesanan kami sampai, baru melihat rupanya saja, perut saya langsung berontak dengan suara yang tak bersahabat. Kuahnya bewarna putih kental. Suiran ayam panggang beserta tulang-tulang kecilnya menggoda untuk segera disuap. Belum lagi aroma tauge setengah matang becampur kaldu ayam kampung spesialnya sungguh menggugah perut yang sudah keroncongan seharian.

Nur Nisa sangat mengenal cita rasa Mie Kocok asal kampung halamannya ini. Ia yang berdomisili di Aceh Besar baru bisa menunaikan kerinduannya makan Mie Kocok Geurugok setahun sekali saat pulang kampung. Cara dia menikmati mie ini pun penuh seremoni. Seolah perjalanan kami selama lima jam dengan sepeda motor yang melelahkan terbayar hanya dengan sepiring mie kocok.

“Tambahkan kecap asin sedikit kak,” kata Nur Nisa. Saya yakin dia sama laparnya dengan saya, namun melihat caranya memperlakukan sepiring mie kocok ini membuat saya takjub.

Yang membuat Mie Kocok Geurugok berbeda dari mie kocok lainnya yang ada di Aceh adalah kuah kaldu ayamnya yang kental dan suiran ayam kampungnya yang spesial. Hanya dengan membayar 20 ribu rupiah, anda sudah bisa menyantap Mie Kocok Geurugok yang melegenda ini.

Tak sampai 15 menit, pesanan kami tandas. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Lhoksemawe, Nur Nisa memesan beberapa Mie Kocok Geurugok untuk bungkus. Katanya kakaknya juga memesan Mie Kocok Geurugok.

“Kakak aku bilang, dia juga rindu makan Mie Kocok Geurugok. Tapi ndak pernah bisa singgah karena lagi hamil besar, ” kata Nur Nisa. Jadilah perjalanan kami menuju Lhoksemawe yang memakan waktu satu jam lagi, beraroma Mie Kocok Geurugok.


Foto: Desi Badrina

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Desi Badrina

Desi Badrina

Alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry. Hobi traveling dan membaca. Kini bekerja sebagai jurnalis freelance untuk media lokal di Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *