Wisata Penuh Misteri, Gua Tujuh Dari Laweung Tembus ke Mekkah

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

GUA Tujuh atau sering disebut dengan Guha Tujoh Laweung, merupakan salah satu dari sekian banyak tempat wisata di Aceh. Objek wisata ini penuh misteri yang tidak bisa dicerna akal atau pikiran. Konon gua ini dipercaya warga setempat bisa sampai ke Mekkah.

Gua Tujuh terletak di Jalan Banda Aceh KM 100, tepatnya di Desa Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh.

Gua yang terletak diantara Kecamatan Muara Tiga dan Kecamatan Batee ini mempunyai tujuh pintu utama, salah satu pintunya diyakini bisa sampai ke Mekkah, walaupun sampai saat ini belum ada yang bisa membuktikan misteri atau kepercayaan warga setempat itu.

Kepercayaan bahwa gua ini bisa tembus sampai ke Mekkah telah berkembang secara turun temurun di masyarakat setempat. Cerita ini terus berkembang hingga membuat para wisatawan tertarik untuk menyambangi gua ini. Objek wisata ini paling banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegera.

Perjalan ke gua ini bisa ditempuh dengan menggunakan kendaran motor atau mobil wisata. Perjalan yang menempuh jalan atas pegunungan dan pinggir laut ini punya kenikmatan tersendiri, pasalnya wisatawan bisa menikmati panorama alam yang luas

Saat memasuki gua ini, akan ada seorang pemandu yang akan membantu. Pemandu ini biasanya adalah warga setempat.

Menurut seorang pemandu, tidak semua orang yang masuki gua itu bisa sampai ke Mekkah.

“Apa benar Gua Tujuh ini bisa tembus ke Mekkah,” tanya saya ke pemandu.

“Tembus, tapi hanya orang alim atau aulia yang bisa pergi ke sana,” jawab pemandu.

Gua tujuh menjadi tempat yang dikeramatkan oleh orang Aceh. Makanya tak heran ada sebagian orang menyebutnya dengan ziarah ke Gua Tujuh, bukan tempat wisata.

Saat memasuki gua, sebaiknya anda harus berhati-hati, setelah melewati pintu masuk, anda akan turun melewati tangga kayu yang sudah disediakan.

Namun, untuk bisa lebih menikmati pemandangan dalam gua, anda sebaiknya membawa alat penerang, obor atau senter, karena dalam gua itu sangat gelap dan pengab, lantainya pun sedikit licin karena bekas endapan air hujan.

Dalam gua tersebut tersimpan berbagai cerita sejarah misteri. Selain ada tempat pertapaan para aulia, juga terdapat sebuah batu besar yang bergantung tanpa ada penahan.

 

Keberadaan batu anti gravitasi ini kemudian membuat banyak orang penasaran ingin datang langsung untuk menyaksikan fenomena langka itu. Batu yang anti gravitasi ini disebut Bate Meugantung (batu bergantung).

Selain batu gantung, dalam gua ini anda bisa berkeliling melihat benda-benda yang terbuat dari batu berbentuk ranjang tempat tidur, burung dan lain-lain. Jika anda haus, anda tidak perlu membawa masuk air dari luar, karena dalam gua ini ada air yang katanya bisa langsung diminum tanpa harus memasak. Air yang jernih dan segar ini katanya bisa menjadi obat.

Disebutkan juga terdapat gua-gua kecil di seputar Gua Tujuh, yakni Guha Uleu (Gua Ular), Guha Mie (Gua Kucing) dan Guha Rimueng (Gua Harimau). Namun gua-gua kecil ini tidak dapat diakses masuk oleh pengunjung.

Walaupun ada tujuh pintu atau terowongan dalam gua ini, tapi tidak semua terowongan bisa dikunjungi. Karena ada terowongan yang sudah tertutup batu, ada juga pintu terowongan sangat kecil. Jika ingin memasukinya, pengunjung harus merayap 2 sampai 3 meter.

Menurut data dari berbagai sumber, pembentukan gua tujuh merupakan hasil penurunan muka air laut (Sea level water) hingga mengakibatkan daerah tersebut tersingkap ke atas permukaan hingga saat ini. Karena itu, kalau anda naik ke atas gua, anda akan menikmati pemandangan pegunungan bebatuan dan laut.

Wisata yang dikelola oleh warga setempat ini tidak menetapkan harga untuk masuk atau pemandu dalam gua, tapi mereka akan menerima berapa pun yang akan dibayar oleh wisatawan yang mengunjungi gua.

Sampai saat ini, kebenaran cerita dan sejarah Gua Tujuh masih menjadi misteri yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Namun, gua itu diyakini tempat bersemayam tujuh orang aulia yang dikeramatkan di Aceh.

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Bustami

Bustami

Mahasiswa Magister Komunikasi & Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *