Waduk Jeulikat Kota Arun

Perjalanan menuju Waduk Jeulekat, Desa Juelekat, Kota Lhoksemawe tidaklah mudah. Dari pusat Kota Arun itu, tidak ada transportasi khusus menuju ke Desa Jeulekat. Butuh menyewa kendaraan khusus seperti roda dua atau roda empat milik warga lokal. Jalan menuju Waduk Jeulekat khas pedesaan. Masih terdapat beberapa bagian yang belum beraspal. Namun semua terbayar dengan suasana Waduk yang memesona siapun yang sempat singgah.

Kunjungan saya dan teman ke Waduk Jeulekat tidaklah terencana. Kami baru saja tiba dari Banda Aceh dengan menggunakan Beat Blue milik saya pada satu hari di bulan Desember 2018. Keesokan harinya kami diajak untuk berwisata kebeberapa tempat di Lhoksemawe. Satu diantaranya adalah Waduk Jeulekat. Dalam kepala saya, waduk pasti biasa saja. Seperti sebuah lahan dengan luas beberapa hektar di tengah pedesaan atau pedalaman, dengan menciptakan danau serta taman buatan.

Hanya 20 Menit dari Pusat Kota

Butuh dua puluh menit untuk sampai di Waduk Jeulekat dari pusat Kota Lhoksemawe. Saat memasuki gerbang Waduk Jeulekat, semua terlihat biasa saja. Sama seperti waduk buatan di tempat lain di Kabupaten Aceh Besar. Namun, semakin berjalan ke dalam pekarangan waduk yang lumayan luas, pemandangan semakin tidak biasa.

Ada danau yang cukup luas sepanjang mata memandang penuh dengan sesuatu bewarna hijau di dalamnya. Untuk menuju danau, kami perlu menuruni anak tangga yang cukup banyak dan membutuhkan energi lebih.

Berbeda dengan orang dewasa yang melihat tangga tersebut sebagai persoalan, anak-anak usia delapan hingga sepuluh tahun terlihat menikmati perjalanan menuju danau itu. Bahkan naik turun tangga berulang kali. Daya tarik utama Waduk Jeulekat selain danau adalah jembatan gantung sepanjang lima puluh meter. Lebarnya dapat dilalui oleh empat orang dewasa sekaligus.

Banyak yang mengabadikan moment di sana. Tapi tunggu dulu, jika anda takut ketinggian, mungkin bisa berfoto di pangkal jembatan gantung saja. Sebab, panjangnya jembatan membuat pengunjung yang melintasinya akan merasakan ayunan yang agak kuat. Saya sempat berpengangan dan sedikit pusing saat tiba di seberang jembatan.  

Lalu, sebuah hamparan tanaman kehijaun membentang tak jauh dari tempat kami menyeberang. Hamparan warna hijau di atas danau ternyata adalah daun tumbuhan lily air dengan bunganya bewarna putih. Sebuah pemandangan yang sulit ditemukan di Banda Aceh.  

Waktu yang cocok untuk mengunjungi Waduk Jeulekat sekitar pukul 16.00 WIB sampai 18.00 WIB. Di sana juga ada beberapa hewan seperti kuda, monyet, dan merpati. Kuda dan monyet terkurung dalam kandang. Sedangkan merpati terbang bebas di area Waduk Jeulekat.

Jika tak ingin repot membawa makanan ke Waduk Jeulekat, mereka menyediakan kantin dengan beberapa jajanan dan minuman. Fasilitas seperti kamar mandi dan Mushalla juga tersedia di sana. Untuk masuk ke Waduk Jeulekat, hanya dipungut biaya parkir. Roda dua lima ribu rupiah dan roda empat sepuluh ribu rupiah saja. Murah kan? Mari menghabiskan sore sambil menikmati danau dan tanaman lili air di Waduk Jeulekat.  

Share info ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email