Meugrob, Seni Menghentakkan Kaki dari Pidie

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Seperti yang kita ketahui bersama, Aceh merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Selain merupakan salah satu provinsi yang memperoleh gelar daerah Istimewa yang dulunya pernah terjadi pemberontakan bersenjata dan akhirnya berdamai dengan Indonesia pasca Tsunami menyapu sebagian besar wilayahnya. Namun apapun itu, semua sudah berlalu.

Kini kehidupan masyarakat di Aceh sangatlah damai dan aman, bahkan Aceh menjadi salah satu provinsi yang menyuguhkan beragam pesona wisata serta pesona budaya. Seperti halnya dengan apa yang terdapat di kabupaten Pidie yang dikenal dengan julukan Kota Keureupuk Mulieng. Di kabupaten Pidie terdapat sebuah tarian yang dinamai Meugrob.

Meugrob merupakan tarian yang geraknya lebih mendominasi kepada gerakan kaki, sehingga tari Meugrob disebut sebagai seni hentakan kaki. Meugrob hanya ditampilkan pada malam lebaran Idulfitri. Kesenian tradisional yang telah tumbuh sebelum Indonesia memperoleh kemerdekaan akibat dijajah oleh bangsa luar tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Gampong Pulo Lueng Teuga, Pidie, Aceh.

Meugrob merupakan sebuah ungkapan kata yang dilakapkan oleh pelakunya sendiri pada sebuah ritual rateb atau zikir sambil menggerakkan badan. Meugrob jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah meloncat, namun tidak ada satupun sumber tertulis dalam literatur sejarah yang menjelaskan tentang Meugrob dalam bentuk seni tari budaya.

Meugrob hanya berkembang di Gampong Lueng Teuga, tarian yang sudah menjadi sebuah tradisi wajib saat lebaran Idulfitri di gampong tersebut ditarikan oleh 20 orang penari dan 2 orang Syeh. Meugrob dilakukan secara serentak dan kompak, sehingga mengeluarkan suara hentakan sebagai irama pengiring.

Masyarakat Gampong Pulo Lueng Teuga menganggap tarian ini merupakan peninggalan sejarah yang wajib dilestarikan agar generasi Aceh dapat mengetahui dan menyaksikan peninggalan leluhur tersebut. Meugrob memiliki beberapa ragam gerak, yaitu Tienggong (jongkok), Sinthop (hentak), Tiekui (merundukkan), Chep-chep (hentak-hentak), Grietan Apui (kereta api), Meugiek-giek (saling berpelukan), Moto Teng (mobil teng), Meuayon (berayun), Meulienggong-lienggong (meliak-liuk), Meugiek Sira Meuwet (berpelukan sambil berputar).

Dalam notasi, Meugrob menggunakan garis gerak, garis tengah, kolom-kolom, delapan simbol arah, tiga simbol level, tiga simbol putaran, dua jarum serta simbol kunci. Hampir semua gerakan Meugrob menggunakan simbol-simbol tersebut. Notasi Meugrob mempunyai banyak pengulangan dalam setiap gerakannya. Setiap gerakannya dapat terjadi 10×8 gerakan atau lebih. Pada setiap pergantian gerakan, para penari Meugrob melakukan gerakan chep-chep terlebih dahulu. Kemudian baru melakukan gerakan selanjutnya hingga tarian selesai.

Menarik bukan?
Sebagai masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya, tentunya kita harus lebih mencintai budaya sendiri. Jangan sampai orang asing lebih mencintai budaya peninggalan leluhur kita yang sangat berharga ini. Nah, bagi Anda yang tertarik untuk menyaksikan tari Meugroeb, jangan sungkan-sungkan untuk berkunjung ke Pidie. (source:ceritapidie.com)

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *