Taman Edukasi PLTD Apung, Pelajaran Berharga dari Tsunami Aceh

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Perempuan hitam manis itu menarik perhatian saya. Ia mengenakan setelan blus merah menyala, dengan selendang putih terselip di lehernya. Dia berjalan dengan seorang gadis kecil. Mereka baru saja memasuki kawasan objek wisata PLTD Apung atau biasa disebut Kapal Apung pada pukul 11.00 WIB.

Dari parkiran depan gerbang, seorang pria tinggi besar, menyusul kedua perempuan itu. Jarak mereka tak jauh dari pusat informasi, tempat saya sedang rehat. Sekilas saya mendengar mereka berbahasa seperti di film-film India.

Baru beberapa langkah, ketiganya berhenti tepat di hadapan monumen gelombang tsunami. Bukan monumen itu yang membuat mereka terpukau, tapi sebuah kapal dengan bobot 2.600 ton yang membuat mereka berhenti.

Kamis itu, pengunjung terlihat sepi. Mungkin karena bukan hari libur. Namun, bila ingin menikmati objek wisata satu ini dengan khidmat, saya pikir bulan April adalah waktu yang dapat dipertimbangkan. Seperti kunjungan keluarga kecil dari India itu.

Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel atau PLTD ini memiliki panjang 63 meter dengan lebar 19 meter. Mampu menampung ratusan penumpang di atasnya. Setelah puas melihat keanggunan Kapal Apung dari jauh, ketiganya mengikuti petunjuk arah yang ada di persimpangan komplek, dan segera menaiki anak tangga menuju bagian atas kapal.

Mulanya PLTD Apung ini, bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. Dianya berfungsi menyalurkan listrik sebesar 10 mega watt. Sebelum datang ke Aceh, kapal ini pernah bertugas di Pontianak (1997), Bali (1999), dan kembali ke Pontianak (2001).

Pada masa pemerintahan Abdullah Puteh, Gubernur Aceh saat itu, ia meminta kapal milik Perusahaan Listrik Negara (PLN), untuk mengatasi krisis listrik di Aceh pada 2003. Akan tetapi, setelah dihantam tsunami, kapal dengan judul PLTD Apung 1, terseret sejauh lima kilometer dan terdampar di tengah pemukiman warga, di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh.

Kini, hampir 15 tahun, sejak 26 Desember 2004, Kapal Apung tak pernah angkat sauh dari pemukiman warga. Kabar kemegahan Kapal Apung itu pun, tersiar seantero dunia dan mampu menarik wisatawan dalam dan luar negeri.

“Lebaran Idul Fitri hari ketiga 2018, dalam sehari mencapai 14 ribu pengunjung. Pengujung masuk tidak dipungut biaya,” kata seorang petugas PLTD Apung di pusat informasi. Meski demikian, sebuah kotak amal, bertuliskan Bantuan Untuk Masjid, bertengger di tengah pintu gerbang.

Pasalnya, sebuah Masjid di Desa Punge Blang Cut, dengan nama Masjid Subulussalam memang berada tepat di hadapan komplek PLTD Apung. Masjid itu dapat diakses oleh pengunjung yang ingin melaksanakan ibadah shalat dzuhur atau ashar, sambil menanti jadwal buka setelah istirahat.

Sudah menjadi adat di Aceh, tiap memasuki waktu shalat, berbagai aktivitas terutama yang berhubungan dengan fasilitas publik berhenti sejenak. Jadi, waktu berkunjung ke objek wisata PLTD Apung ini, dibagi dua. Pagi sampai siang; 09.00-12.00 WIB. Mereka istirahat shalat dzuhur. Lalu buka kembali pada 13.30-15.30 WIB. Kembali tutup menjelang shalat ashar dan buka setelahnya hingga 17.30 WIB.

Ia mengatakan, puncak pengunjung yang ingin melihat Kapal Apung ini memang terjadi saat lebaran. Sejak launching pada 2012, angka pengunjung tiap tahun, pada musim lebaran terus meningkat.

“Daya tarik utama dari PLTD Apung ini, memang Kapalnya. Mereka banyak yang bertanya gimana kapal sebesar ini bisa sampai ke daratan. Ada apa dibalik peristiwa ini,” lanjut petugas lainnya.  

Tak lebih tiga puluh menit saya menyaksikan pengunjung datang dan pergi. Saya juga mendapati keluarga India yang tadinya saya amati turun dari atas kapal setelah mendengar sebuah imbauan dari pengeras suara. Sebuah pemberitahuan bahwa PLTD Apung akan tutup dan buka kembali setelah shalat Zuhur.

Selain kapal apung sebagai daya tarik wisatawan, ada juga sebuah museum yang diberi nama Museum Kapal Apung. Letaknya cukup unik. Yaitu di lambung kapal yang dulunya sebagai tempat mesin kapal berada. Di dalamnya ada informasi tentang edukasi Kapal Apung, cerita tentang tsunami, dan juga beberapa dokumen foto. Sayang bila tidak sempat melihat lambung kapal yang panas, disulap menjadi museum yang dingin.

Pengunjung juga dapat menikmati fasilitas seperti wifi gratis, kantin, playground untuk anak-anak, ada galeri foto, dan kamar mandi. Sedangkan tempat ibadah bagi yang muslim, mereka bisa langsung menuju masjid Subulussalam yang berada di seberang komplek PLTD Apung.

Bagi para wisatawan yang ingin membeli cenderamata, di area parkir sudah ada toko souvenir yang menyediakan oleh-oleh seperti baju kaos bergambarkan PLTD Apung, gantungan kunci, tas motif Aceh, beberapa makanan kering khas Aceh, dan banyak lagi.

Bila ingin menikmati sesuatu yang lebih merakyat lagi, tak jauh dari parkiran, juga ada penjual air tebu dingin yang sudah standby dengan minuman dingin, manis, menyegarkan itu. Jadi, mari berwisata ke PLTD Apung.

 

Foto: https://www.indonesiakaya.com, https://acehwow.com, http://travel.detik.com, http://rri.co.id

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Desi Badrina

Desi Badrina

Alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry. Hobi traveling dan membaca. Kini bekerja sebagai jurnalis freelance untuk media lokal di Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *