Dua Vihara Tua di Aceh

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Sejarah panjang antara Aceh dan Tiongkok, dari kerjasama perniagaan hingga kedatangan  armada Cheng Ho ke Kerajaan Samudra Pasai, dan kemurahan hati Sultan Iskandar Muda membuat sebuah perkampungan Peunayong bagi etnis Tiongkok, telah menjadikan Aceh punya keberagaman indentitas.

Aceh memiliki kewenangan menjalankan syariat Islam, dan orang-orang Etnis China telah diterima berabad-abad di Aceh, mereka dari berbagai agama sudah terbiasa hidup harmonis satu sama lain dan beribadah menurut kepercayaan agama masing-masing.

Kedatangan etnis China ke Aceh juga membawa budaya ritual ibadah mereka sesuai agama kepercayaannya, sehingga saat ini ada beberapa kelenteng atau vihara bersejarah yang tersebar di Aceh.

Mari melihat dan berkunjung ke beberapa kelenteng atau vihara tua yang memiliki nilai sejarah selama nanti anda berada di Aceh.

1]   Vihara Murni Sakti atau  Tepekong Chin Sui Co Su

Vihara Murni Sakti sudah berdiri sejak tahun 1880 silam di masa Kerajaan Idi dipimpin oleh Tuanku Chik Bin Guci, serta termasuk vihara tertua di Asia Tenggara. Pada masa itu, nama kota tempat berdirinya bangunan vihara tersebut adalah Bandar Idi.

Wilayah Kerajaan Idi merupakan salah satu kawasan alur perdagangan di pantai timur Aceh, sehingga banyak disinggahi para pedagang dari Gujarat, Arab, Eropa, dan Tiongkok. Menurut cerita, beberapa orang saudagar dari Tiongkok menghadap Tuanku Chik Bin Guci untuk meminta izin mendirikan sebuah vihara sebagai tempat beribadah karena banyak orang Tiongkok telah menetap di Idi. Raja pun akhirnya menyanggupi permintaan itu, dengan syarat para saudagar dari Tiongkok membangun sebuah rumah besi untuk Kerajaan Idi.

Saat vihara mulai dibangun, bahan material pembangunan didatangkan dari Penang, Malaysia melalui Kuala Idi. Letak Vihara Murni Sakti sekitar 200 meter dari kota Idi, dan jika anda berkunjung ke sini akan melihat tembok vihara tersebut tertera sejumlah nama warga Tiongkok yang pertama sekali menginjak kakinya di Aceh Timur.

Alamat: Gampong Jawa, Idi Rayeuk, Aceh Timur.

2]   Vihara Dharma Bhakti

Vihara Dharma Bhakti dibangun pada tahun 1936 dengan nama Ta Pek Kong, nama salah satu dewa. Vihara ini dulunya bentuknya sangat sederhana, berupa rumah kayu beratap seng.  Setelah tahun 1960, Vihara dibangun kembali dengan berbahan beton oleh seorang warga etnis China bernama Fung Chung Ming.

Pada tahun 1878, bangunan Vihara Ta Pek Kong berada di Pantai Cermin, Ulee Lheue, karena ketika itu perang dunia sedang berkecamuk, sehingga vihara ini sempat hancur terkena bom. Lantas di tahun 1936, vihara tersebut di pindahkan ke Kota Pecinan di Peunayong.

Vihara ini didominasi warna merah, dua buah patung naga di atas atap depan. Sementara di belakang baungunan Vihara tersebut terdapat pusat studi bagi mereka yang beretnis China.

Alamat: Jalan T. Panglima Polem, Gampong Peunayong, Kuta Alam, Banda Aceh

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Jufrizal Daud

Jufrizal Daud

Alumnus program master journalism di Nanchang University. Pernah aktif di kantor berita Sindikasi Pantau dan Aceh Feature. Kumpulan liputannya tentang politik dan HAM telah dibukukan dalam antologi bersama Aceh Feature; SetelahDamai di Helsinki. Pernah mendapatkan penghargaan lomba esai dari pemerintah Kanada.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *