Atjeh Tram di Masa Belanda

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Monumen mesin lokomotif BB84, dan sebuah gerbong menjadi salah satu bukti sejarah bahwa transportasi kereta api pernah jaya di Aceh. Monumen transportasi itu bernama Atjeh Tram. Lokomotif BB84 adalah lokomotif uap buatan Pabrik Nippon Sharyo, Jepang dengan susunan roda 0-4-4-4, dan bisa melaju dengan kecepatan 20-30 kilometer per jam. Sementara itu, gerbong kereta api Atjeh Tram didatangkan dari Jerman. Lokomotif ini digunakan pada masa penjajahan Belanda di Aceh.

Lokasi monumen tersebut terletak di pusat kota di Jalan Sultan A. Mahmudsyah, persis di halaman Barata Departement Store, dan berseberangan dengan  Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Pada Desember 1474 silam, Kolonial Belanda mulai mendatangkan besi dan kayu dari Singapura ke Koetaradja. Setelah itu, kayu bantalan rel juga mulai didatangkan  dari Malaka pada 1875. Tak berselang lama, material kembali didatangkan dari Inggris, dan mulailah Belanda membangun rel kereta api sepanjang 5 km, yang menghubungkan Pelabuhan Ulee Lheue dengan Koeta Radja. Masa itu, Banda Aceh disebut Koeta Radja.

Ketika itu, Belanda mengerjakan pembangunan jalan rel kereta api di Koeta Radja untuk kepentingan mengangkut serdadu Belanda dan logistik perang melawan pejuang Aceh. Jalan rel kereta api dikerjakan oleh perusahaan Atjeh Staats Spoorwegen (ASS), dengan lebar rel 750 mm.

Pada 12 November 1876 pemerintah Belanda membuka stasiun kereta api Koeta Radja. Stasiun ini merupakan terbesar di Aceh, serta termasuk dalam wilayah aset divre I Sumatra Utara dan Aceh. Stasiun kereta api kelas besar tipe A tersebut terletak di Kampung Baru, Baiturrahman, Banda Aceh.

Lama-kelamaan kereta api milik Belanda itu juga digunakan untuk mengangkut masyarakat sipil di Banda Aceh. Jalur rel kereta api diperpanjang hingga ke Gle Kameng, Indrapuri, tapi hanya mampu tercapai Lambaro karena pejuang Aceh mengagalkan pembangunan jalur rel kereta api. Pejuang Aceh beranggapan, pembangunan rel kereta api untuk memperkokoh pertahanan jajahan Belanda di Aceh.

Pada tahun 1886, Belanda membuka kembali jalur kereta api dari Koeta Radja ke arah menuju Lamyong, kemudian diteruskan dari Krueng Cut ke arah rumah sakit militer Pante Pirak. Jalur rel kereta api itu digunakan Belanda untuk mengangkut serdadu yang terluka.

Perkembangan transportasi kereta api di Aceh terus mengalami perkembangan dan kemajuan, jalur rel pun hingga sampai ke Deli Pangkalan Berandan, Sumatra Utara. Namun di tahun 1982, stransportasi Atjeh Tram mulai tidak beroperasi lagi di Aceh.

Kini, jika anda ingin melihat masa kejayaan dan nilai sejarah transportasi lokomotif di Aceh, para wisatawan bisa mengunjungi Monumen Lokomotif BB84 yang masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan di tempat itu juga ada sebuah prasasti yang menjelaskan mengenai lokomotif Atjeh Tram.

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Jufrizal Daud

Jufrizal Daud

Alumnus program master journalism di Nanchang University. Pernah aktif di kantor berita Sindikasi Pantau dan Aceh Feature. Kumpulan liputannya tentang politik dan HAM telah dibukukan dalam antologi bersama Aceh Feature; SetelahDamai di Helsinki. Pernah mendapatkan penghargaan lomba esai dari pemerintah Kanada.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *