Taman Putroe Phang, Tempat Pemandian Permaisuri

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Taman Putroe Phang menjadi salah satu objek wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh. Taman ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) untuk istri tercintanya, Putroe Phang. Ia dipersunting menjadi permaisuri raja pada waktu itu.

Taman ini dibangun karena sultan sangat mencintai Putroe Phang atau Putri Kamilah agar sang permaisuri tidak kesepian ketika ditinggal sultan untuk menjalankan roda pemerintahan.

Dikisahkan, pembangunan taman ini merupakan permintaan dari Putroe Phang, putri raja yang dibawa ke Aceh oleh Sultan Iskandar Muda setelah kerajaan Pahang ditaklukan.

Di taman ini juga terdapat Pintoe Khop, Gunongan dan Kandang. Pintoe Khop ini menghubungkan langsung dengan istana dengan taman berbentuk kubah. Di bawahnya mengalir air yang dijadikan tempat mandi permaisuri saat itu. Anak sungai itu sekarang diberi nama dengan Krueng Daroy.

Pintoe Khop yang dibangun digunakan tempat beristirahat Putroe Phang selepas mandi di Krueng Daroy. Bersama dengan dayang-dayang membasuh rambut permaisuri sembari keramas dan mandi air bunga.

Gunongan tersebut dinamakan Taman Ghairah atau taman para raja, yang menjadi bagian situs sejarah kejayaan Kerajaan Aceh. Sedngkan Kandang dijadikan tempat makam Sultan Iskandar Tsani, menantu Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1636-1642 M. Iskandar Tsani adalah anak Sultan Pahang Malaysia yang kawin dengan Sultanah Safiatuddin Tajul Alam (1642-1673 M)

Menurut sejarah, Putroe Phang memiliki kecakapan dalam menyelesaikan persoalan. Bijaksana dalam setiap memberikan masukan untuk raja. Hingga Putroe Phang selain menjadi permaisuri kesayangan raja, juga diangkat menjadi penasehat raja.

Karena Putroe Phang selalu cakap dalam menyelesaikan sengketa di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat pun kerap meminta masukan untuk menyelesaikan berbagai macam sengketa hukum pada masyarakat.

Ketika Iskandar Tsani naik tahta pada 1636 M, pembangunan taman diperluas menjadi seribu depa. Taman ini dinamai Taman Ghairah. Namun kemasyhuran taman yang dibuat untuk Putroe Phang menyebabkan taman ini selalu disebut sebagai Taman Putroe Phang.

Yang tersisa di taman ini sekarang hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan taman Bustanussalatin di masa lalu. Dulu, di taman ini terdapat terdapat bunga, buah-buahan dan sayur-sayuran seperti yang ditulis oleh Nuruddin Ar-Raniry.

Taman ini juga sering digunakan mahasiswa untuk belajar kelompok, diskusi, pegelaran seni, foto prawedding, shooting video klip, tempat berkumpul keluarga, wisata dan lain sebagainya.

Untuk mendukung kenyamanan para wisatawan, objek wisata dilengkapi dengan area parkir yang luas, pos satpam, open stage (panggung terbuka), area taman, kamar ganti, gedung informasi, taman bermain, mushalla, kamar mandi, jalan paving block, area pejalan kaki, tempat sampah, tempat istirahat yang dilengkapi dengan payung dan lain sebagainya.

Wisatawan bisa berkunjung kapan saja ke taman ini, karena taman ini dibuka setiap hari, dari pukul 08.00 – 18.00 Wib. Bagi yang ingin berkunjung ke taman ini tidak dipungut biaya sepersen pun.

Taman ini sangat mudah dijangkau karena berada di tengah-tengah kota Banda Aceh, bersebelahan dengan Kerkhof Peutjoet atau kuburan prajurit Belanda yang meninggal di Aceh. Tepatnya di Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Galeri Foto

Foto credit by : Bustami

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Bustami

Bustami

Mahasiswa Magister Komunikasi & Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *