Makam Raja-raja Aceh Keturunan Dinasti Bugis

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Mengunjungi Museum Aceh, wisatawan akan melihat makam raja-raja Aceh keturunan Bugis. Kenapa ada keturunan Bugis yang menjadi raja di Aceh?

Suku Bugis adalah salah satu suku yang berasal dari Sulawesi Selatan. Suku ini dikenal sebagai suku yang hobi berdagang dan berlayar.

Menurut catatan sejarah, asal usul Sultan Aceh berdarah Bugis dimulai dengan pernikahan Sultan Iskandar Muda dengan Putroe Suni, anak Daeng Mansur. Ia berasal dari Wajo, yang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan juga berasal dari bangsawan Bugis.

Menurut cerita, ia terdampar di daratan Pidie, Aceh. Daeng Mansur hidup menyatu dengan masyarakat Aceh, yang pada akhirnya menikahi putri dari seorang ulama Pidie, Teungku Chiek Di Reubee.

Daeng Mansur dikaruniai dua orang anak: Putroe Suni atau Sani dan Zainal Abidin. Zainal Abidin dikenal dengan sebutan Teungku Di Lhong dan mempunyai anak yang bernama Abdurrahim Maharajalela. Abdurrahim Maharajalela lahir seorang anak yang bernama Maharajalela Melayu.

Pada 1727, Maharajalela Melayu dinobatkan oleh para Panglima Sagi sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Alauddin Ahmad Syah.

Mulai saat itu, Kerajaan Aceh terus dipimpin oleh keturunan Bugis sampai dengan raja yang terakhir yaitu Sultan Muhammad Daud Syah, yang pada tahun 1903 setelah berjuang mati-matian melawan Belanda.

Perjuangannya berhasil dikandaskan dengan cara licik yaitu dengan menculik istri dan keluarga untuk tebusan. Karena itu, Ia menyerah kepada Belanda setelah diancam dengan pembuangan istri dan keluarganya jika tidak mau turun gunung.

*
Perkawinan Iskandar Muda dengan Putroe Suni dikaruniai seorang anak perempuan bernama Safiatuddin Syah. Setelah dewasa, Safiatuddin Syah dipersunting oleh Iskandar Thani dari Pahang. Dari sinilah, permulaan adanya pemerintahan Sultan dan Sultanah Aceh keturunan Bugis di Kesultanan Aceh Darussalam.

Ada juga yang menyebutkan tentang asal usul masyarakat Bugis di Aceh dengan adanya tiga orang ulama di Pidie berasal dari Sulawesi Selatan yaitu Teungku Seundri (Sebenarnya adalah Sidendreng dalam logat Aceh disebut Seundri), Teungku Sigeuli yang namanya akhirnya diabadikan menjadi nama Kota Sigli, dan Daeng Mansur.

*
Dalam Komplek Museum Aceh, selain adanya Rumoh Aceh, juga ada makam raja-raja Aceh keturunan bugis. Makam ini sudah dijadikan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Indonesia, karena itu, pengelolaan makam ini di bawah tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh Wilayah Kerja Provinsi Aceh dan Sumatera.

Ada empat nama-nama raja Aceh keturunan Bugis diabadikan dalam sebuah prasasti. Yaitu; Sultan Alauddin Ahmad Syah, Sultan Alauddin Johan Syah, Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903), dan Pocut Muhammad.

Sultan Ahmad Syah adalah Sultan pertama dari Dinasti Aceh-Bugis, sekaligus Sultan yang ke-23 dari Kesultanan Aceh Darussalam yang memerintah dari 1727 sampai 1735. Sebelum tahun 1727, Ia bergelar Maharaja Lela Melayu.

Sultan Alauddin Johan Syah adalah anak dari Sultan Alauddin Ahmad Syah. Sebelum diangkat menjadi sultan, beliau dikenal sebagai Pocut Aoek. Ia memerintah Kesultanan Aceh Darussalam dari 1735 hingga 1760.

Makam ini terletak di dalam Komplek Museum Aceh di Jalan Sultan Mahmudsyah No.10, Peuniti, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh atau sekitar 2,1 km dari Masjid Raya Baiturrahman.

Museum ini dibuka setiap hari dari pukul 08.30 s.d 16.00 WIB. Hampir tiap hari dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah. Selain berziarah ke makam raja-raja Aceh keturunan Bugis, wisatawan juga bisa mengunjungi Rumoh Aceh dan Pusat Dokumentasi dan Informasi Data Aceh (PDIA) serta Museum Aceh.

Di dalam komplek ini juga ada kantin bagi ingin santai sambil minum dan menikmati makanan ringan. Disini juga disediakan mushalla rumah kayu dan tempat wudhu bentuk panggung serta toilet.

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Bustami

Bustami

Mahasiswa Magister Komunikasi & Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *