Museum Tsunami, Destinasi Wisata Aceh

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

MUSEUM Tsunami Aceh adalah salah satu bangunan bersejarah bagi warga Aceh. Museum ini dibangun untuk mengenang tragedi gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam, yang menyebabkan lebih dari 200 ribu orang meninggal dan kehilangan famili.

Selain itu, juga terjadi kerusakan sangat parah di Banda Aceh dan berapa daerah lainnya. Gempa yang terjadi pada pukul 7:58:53 WIB ini merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Pemerintah Indonesia dengan dukungan pihak-pihak terkait membangun sebuah museum. Konsep awal dari museum ini adalah sebagai penyimpanan dokumentasi yang terkait dengan bencana 2004, agar generasi-generasi mendatang dapat mengenang dan belajar dari peristiwa gempa bumi dan tsunami yang maha dahsyat ini.

Saat memasuki Museum Tsunami, wisatawan akan melewati sebuah Lorong Tsunami (Tsunami Alley). Saat memasuki lorong ini, wisatawan akan mendengar suara gemuruh air seperti suara saat datangnya tsunami. Lorong gelap ini terasa dingin, sesekali wisatawan akan merasakan percikan air.

Setelah melewati lorong tsunami, wisatawan juga bisa melihat ruang Sumur Doa (Chamber of Blessing). Sumur doa ini didesain untuk mengenang para korban tsunami yang meninggal pada 2004 silam.

Nama-nama korban diabadikan dengan ditulis di dinding yang berbentuk sumur ini. Selain itu, di atasnya terlihat ada tulis lafaz Allah dalam bahasa Arab. Saat kita dalam ruangan ini, kita bisa mendengar suara orang yang sedang mengaji Alquran.

Museum Tsunami adalah salah satu karya Ridwan Kamil, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Ridwan Kamil merupakan seorang dosen jurusan arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia memenangkan ‘Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh’ yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007.

Desain bangunan museum ini mengambil bentuk rumah panggung Aceh atau Rumoh Aceh. Desain ini terlihat pada lantai dasar museum yang dibuat mirip dengan rumah panggung.

Museum Tsunami diresmikan tahun 2008 dan menjadi lokasi wisata favorit bagi setiap wisatawan yang datang ke Banda Aceh. Museum yang memiliki luas sekitar 2.500 meter persegi ini terdiri dari empat lantai. Pada setiap lantainya juga terpajang foto-foto keadaan Banda Aceh pasca-tsunami, artefak dan puing-puing tsunami.

Pada 2018 lalu, Museum Tsunami Aceh terpilih sebagai museum terpopuler dari 400 museum yang ada di Indonesia. Pada ajang Indonesia Museum Award 2018 waktu itu, terdapat enam kategori yang diperlombakan, yakni museum cerdas, museum lestari, museum bersahabat, museum unik, museum populer, dan museum kreatif.

Selain itu, juga ada ruangan Pamer Tsunami (Tsunami Exhibition Room), Pra Tsunami (Pre Tsunami), Saat Tsunami (While Tsunami), Pasca Tsunami (Post Tsunami).

Museum Tsunami Aceh juga disebut dengan istilah Rumoh Aceh Escape Hill, karena desainnya bukan hanya sebuah bangunan monumen, tapi juga sebuah museum tsunami yang monumental. Sebuah bangunan yang mampu mengekspresikan kejadian tsunami 26 Desember 2004 silam.

‘Rumoh Aceh Escape Building’ yang dibangun di atas areal 10.000 m2 ini mengambil ide dasar Rumoh Aceh, rumah tradisional orang Aceh yang merupakan rumah panggung.

Lantai pertama museum merupakan ruang terbuka sebagaimana rumah tradisional orang Aceh. Selain dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik, jika terjadi banjir atau tsunami lagi maka air yang datang tidak akan terhalangi lajunya.

Sedangkan lantai atas bangunan ini bisa digunakan sebagai gedung evakuasi (Escape Building) untuk berlindung saat terjadi gempa dan tsunami.

 

Cara Menuju ke Lokasi

Museum ini terletak di pusat kota Banda Aceh, di Jalan Sultan Iskandar Muda. Museum Tsunami ini berseberangan dengan Lapangan Blang Padang Banda Aceh, juga berdekatan dengan kuburan Belanda (Kerkhoff Peutjoet). Selain itu, berdekatan dengan Masjid Baiturrahman, sekirat 500 meter.

Karena lokasinya di pusat kota, objek wisata ini mudah ditemukan. Bagi wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi atau umum untuk bisa sampai ke museum ini.

 

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk

Museum ini juga dibuka dari Senin sampai Minggu dari pukul 09.00 – 16.00 WIB. Sejak 15 Desember 2018 lalu, Museum Tsunami Aceh sudah memberlakukan tarif tiket masuk. Untuk anak-anak harus membayar Rp2.000, dewasa Rp3.000, dan untuk asing Rp10.000.

 

Foto ; Dari berbagai sumber, credit foto pada pemilik foto

Share artikel ini !!!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Kontributor:

Bustami

Bustami

Mahasiswa Magister Komunikasi & Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Silahkan mengutip sebagian atau seluruh artikel di atas dengan menyertakan credit pada penulis dan memberikan link sumber artikel di web ini. Copyright © AcehTourism.travel | All Right Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *