Di Desa Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, tersimpan sebuah warisan yang tak hanya merekam perjalanan Islam di Nusantara, tetapi juga menyisakan teka-teki hingga kini.
Warga setempat mengenalnya sebagai “Alquran wangi”, sebuah mushaf kuno yang diperkirakan berusia sekitar 700 tahun dengan aroma harum yang masih tercium dari lembar-lembar halamannya.
Keunikan itulah yang membuat mushaf ini menjadi magnet bagi peneliti, pegiat sejarah, hingga wisatawan religi. Meski telah melewati berabad-abad, belum ada penjelasan ilmiah yang dapat memastikan penyebab aroma khas tersebut tetap bertahan.
Di balik wanginya, tersimpan pula jejak panjang penyebaran Islam di Aceh. Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, mushaf ini diyakini berasal dari Timur Tengah dan dibawa oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim pada sekitar abad ke-13.
Sejak saat itu, Alquran tersebut terus dijaga dan diwariskan hingga akhirnya berada di Aceh Barat.

Nilai historisnya berpadu dengan berbagai kisah spiritual yang hidup di tengah masyarakat.
Salah satu cerita yang berkembang menyebutkan bahwa orang yang melanggar sumpah setelah menggunakan mushaf tersebut akan menerima konsekuensi tertentu.
Meski belum dapat dibuktikan secara ilmiah, kisah itu menjadi bagian dari tradisi lisan yang memperkuat kesan sakral Alquran wangi di mata masyarakat.
Bagi Aceh Barat, mushaf ini bukan sekadar benda kuno, melainkan bagian dari identitas budaya. Duta Wisata Kabupaten Aceh Barat, Puja Rahma Kusumaningrum, menilai Alquran wangi merupakan warisan berharga yang merekam perjalanan panjang penyebaran Islam di daerah tersebut.
“Alquran wangi ini bukan hanya benda bersejarah, tetapi juga simbol perjalanan panjang penyebaran Islam di Aceh Barat. Ini menjadi warisan yang harus kita jaga dan kenalkan kepada generasi muda,” katanya, Rabu (22/4/2026).
Menurut Puja, potensi wisata sejarah dan religi di Aceh Barat masih terbuka lebar untuk dikembangkan.
Keunikan mushaf tersebut dinilai mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin menelusuri jejak sejarah sekaligus merasakan nuansa spiritual.
Hingga kini, Alquran wangi masih dirawat oleh masyarakat setempat dan mulai diperkenalkan kepada publik melalui berbagai kegiatan keagamaan, termasuk Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).
Perlahan, keberadaannya semakin dikenal oleh masyarakat dari luar daerah yang datang untuk melihat langsung salah satu peninggalan bersejarah Aceh tersebut.
Di tengah laju modernisasi, Alquran wangi menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di museum atau lembar buku, tetapi juga hidup di tengah masyarakat yang terus merawatnya.
Lebih dari sekadar aroma yang bertahan ratusan tahun, mushaf ini menyimpan kisah tentang tradisi, kepercayaan, dan warisan Islam yang tetap lestari melintasi zaman.
sumber: koalisi.co
