Ada aroma yang tak pernah berubah di Kota Blangpidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Saat pagi beranjak siang atau senja mulai turun, kepulan uap dari semangkuk mie panas memenuhi sudut warung sederhana di kota kecil pesisir barat-selatan Aceh itu.
Bagi pendatang, aroma tersebut mungkin hanya pertanda hidangan siap disantap. Namun bagi masyarakat Abdya, harum kaldu bening ini adalah panggilan pulang. Semangkuk mie kocok bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan bagian dari kenangan, tradisi, dan identitas daerah.
Di Blangpidie, pada beberapa warung kopi kerap dipenuhi pelanggan yang datang usai menunaikan salat Subuh. Secangkir kopi hangat dan seporsi mie kocok menjadi ritual yang mengawali aktivitas warga di kabupaten berjuluk Bumoe Breuh Sigupai tersebut.
Salah satu yang paling legendaris adalah Warkop Muslim di Jalan At-Taqwa, tak jauh dari pusat Kota Blangpidie. Warung berdinding kayu itu tak pernah benar-benar sepi. Sejak matahari terbit hingga pukul 22.00 WIB, pengunjung silih berganti datang untuk menikmati semangkuk mie kocok yang telah diwariskan lintas generasi.
Warung tersebut dirintis pada 1968 dan kini dikelola generasi ketiga keluarga pendirinya. Namun kisah mie kocok di Blangpidie telah dimulai lebih awal. Dari kedai sederhana itulah cita rasa khas mie kocok menyebar dan kemudian menjadi kuliner ikonik Abdya.
Meski mie kocok dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, versi Blangpidie memiliki karakter yang berbeda. Tidak menggunakan kuah santan maupun bumbu rempah yang pekat, mie ini justru mengandalkan kaldu bening hasil rebusan ayam atau tulang sapi yang dimasak perlahan hingga menghasilkan rasa gurih alami. Sederhana, tetapi kaya cita rasa.
Nama “kocok” berasal dari teknik memasaknya. Mie kuning dan mie putih tebal berbahan tepung beras dicampur dalam sebuah saringan aluminium bergagang kayu, lalu dicelupkan ke air mendidih sambil dikocok perlahan hingga matang merata. Proses singkat itu menghasilkan tekstur mie yang kenyal tanpa kehilangan kelembutannya.
Setelah ditiriskan ke dalam mangkuk, mie disiram kuah kaldu panas, kemudian diberi taburan tauge segar, suwiran atau cincangan ayam, irisan seledri, serta bawang goreng.

“Mie kocok di Blangpidie bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari memori kolektif masyarakat Abdya. Banyak orang perantauan justru paling merindukan semangkuk mie ini ketika pulang kampung,” ujar Duta Wisata Abdya, Najman Riadhi.
Ikatan emosional itu terasa begitu kuat. Tak sedikit warga Abdya yang merantau ke Jakarta maupun kota-kota besar lainnya rela meminta keluarga mengirimkan mie kocok melalui kargo udara demi mengobati rindu kampung halaman.
Agar tetap layak disantap selama perjalanan, penyajiannya dibuat terpisah. Mie dibungkus menggunakan daun pisang, sedangkan kuah, ayam cincang, dan pelengkap lainnya dikemas dalam wadah berbeda. Cara ini membuat mie mampu bertahan hingga sekitar satu hari.
Bagi Duta Wisata Abdya lainnya, Srikandi, mie kocok juga memiliki fungsi sosial yang tak kalah penting. “Semangkuk mie kocok sering jadi alasan orang berkumpul. Dari obrolan santai di warung kopi sampai pertemuan keluarga, mie kocok selalu hadir menghangatkan suasana,” ujarnya.
Menurut Srikandi, kekuatan kuliner ini bukan hanya terletak pada cita rasa, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan rasa memiliki terhadap kampung halaman. “Orang bisa mengenal Abdya lewat rasa yang sederhana, tetapi penuh cerita,” ungkapnya.
Konon, mie kocok pertama kali diperkenalkan ke wilayah Abdya oleh para perantau keturunan Tionghoa sebelum akhirnya beradaptasi dengan selera masyarakat setempat. Seiring waktu, resepnya berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi salah satu ikon kuliner Aceh bagian barat-selatan.
Menariknya, popularitas mie kocok tetap bertahan meski harga bahan baku terus meningkat. Di Warkop Muslim, seporsi mie kocok kini dibanderol sekitar Rp12.000, menjadikannya salah satu kuliner legendaris yang tetap ramah di kantong.
sumber: acehportal.com
