Bukan Cuma Kilometer Nol, Sabang Punya Cerita yang Bisa Dicicipi

Ada alasan mengapa banyak orang datang ke Sabang untuk menikmati laut sebab airnya bening, karangnya cantik atau dari atas paddleboard, permukaan Pulau Weh tampak seperti kaca biru yang tak habis-habis.

Di bawahnya, dunia lain menunggu untuk diselami. Lalu ada Kilometer Nol Indonesia, tempat orang berfoto dengan perasaan telah menjejak titik paling barat negeri ini.

Tetapi setelah semua panorama itu selesai dinikmati, ada satu cara lain untuk mengenal Sabang lebih dekat lewat mencicipinya.

Di sebuah kedai yang tak jauh dari jalur menuju Kilometer Nol, aroma kakao menyambut wisatawan. Namanya Cokbang.

Cokbang belakangan sedang memainkan peran yang lebih besar yakni mengubah kakao lokal menjadi cerita tentang sebuah pulau. Mereka melahirkan produk berupa coklat khas Kota Sabang.

Duta Wisata Kota Sabang, Humaira, menyebut Cokbang bukan sekadar makanan. “Tetapi representasi dari potensi lokal Sabang. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga untuk merasakan produk khas yang memiliki nilai cerita,” katanya.

Cerita itu sebenarnya sudah tumbuh jauh sebelum Cokbang hadir. Sabang selama ini lebih mudah dikenali melalui lautnya ketimbang kebun kakaonya. Padahal, pohon-pohon kakao telah tumbuh subur di kawasan itu sejak era 1990-an.

Bagi wisatawan yang melintas menuju Kilometer Nol, deretan tanaman kakao bahkan dapat dijumpai di sepanjang perjalanan. Pemandangan itu seperti petunjuk kecil yang kerap luput diperhatikan.

Dari sanalah Cokbang mengambil pijakannya. Produk ini mengandalkan 100 persen biji kakao yang berasal dari Sabang. Tidak ada bahan baku kakao dari luar daerah yang dicampurkan. Karakter rasanya pun tidak berusaha disamarkan.

Ada pahit. Ada sedikit asam. Bagi penyuka dark chocolate, justru di situlah daya tariknya.

“Cokbang menawarkan rasa yang unik karena berasal dari biji kakao lokal. Ini yang membuat banyak wisatawan, termasuk dari luar negeri, tertarik untuk mencoba,” ungkap Humaira.

Di tengah industri makanan yang kerap mengejar rasa seragam agar mudah diterima semua lidah, karakter lokal semacam ini justru menjadi modal. Cokbang tidak hanya menjual cokelat. Ia menjual rasa yang berasal dari tempat tertentu. Dan tempat itu adalah Sabang.

Beragam produk coklat khas dari Cokbang. [Foto: dok koalisi.co]
Secangkir atau sebatang cokelat mungkin tampak sederhana ketika sudah berada di tangan wisatawan. Tetapi sebelum sampai ke sana, ada perjalanan panjang yang tidak terlihat.

Buah kakao dipetik ketika matang. Bijinya kemudian dikeringkan di bawah matahari sebelum menjalani fermentasi untuk mengeluarkan aroma khas. Setelah itu, biji kakao memasuki tahap roasting secara tradisional.

Biji yang telah disangrai kemudian dihaluskan dan diproses hingga siap dicetak menjadi produk cokelat.Sebagian proses masih dilakukan secara manual.

Ada ketelitian yang dibutuhkan pada setiap tahap karena rasa akhir bukan hanya ditentukan oleh resep, melainkan juga oleh bagaimana biji kakao diperlakukan sejak awal.

Di situlah nilai Cokbang sebenarnya menjadi lebih panjang daripada sekadar makanan. Ada petani di hulunya. Ada pengrajin di proses pengolahannya. Ada wisatawan di hilirnya. Satu produk mempertemukan ketiganya.

Ketika wisatawan membeli Cokbang, yang dibawa pulang bukan semata oleh-oleh. Ada bagian kecil dari rantai ekonomi lokal yang ikut bergerak.

Kedai Cokbang mulai beroperasi pada 2023. Lokasinya sekitar 3,7 kilometer dari pusat Kota Sabang, atau kira-kira delapan menit perjalanan. Letaknya berada di jalur yang mudah dijangkau wisatawan, terutama mereka yang bergerak menuju atau pulang dari kawasan Kilometer Nol.

Konsep kedainya memadukan tampilan modern dengan nuansa lokal. Begitu masuk, aroma kakao menjadi salam pertama. Di sana, cokelat hadir dalam berbagai bentuk. Ada cokelat batangan, kakao nibs fermentasi, teh cokelat hingga choco nibs.

Kemasan dibuat modern sehingga produk tersebut tak lagi terlihat seperti sekadar hasil olahan rumahan. Ia dirancang untuk menjadi oleh-oleh yang enak dilihat sekaligus mudah dibawa pulang. Harganya pun relatif ramah kantong, mulai dari Rp20 ribu saja.

Selama bertahun-tahun, wisata Sabang kuat dengan citra bahari. Laut, pantai, terumbu karang dan Kilometer Nol menjadi magnet utama.

Namun pengalaman wisata tidak selalu harus berakhir pada apa yang bisa dilihat. Ada yang bisa disentuh. Ada yang bisa dicium. Dan ada yang bisa dicicipi. Cokbang berada di wilayah itu.

sumber: koalisi.co

Kategori :

Sabang, Kuliner & Hiburan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *