Menyusuri Jejak Budaya Gayo Lewat Derap Pacu Kuda

Udara sejuk menyambut begitu memasuki dataran tinggi Gayo. Di antara hamparan perbukitan hijau dan kebun kopi yang membentang, sorak ribuan penonton memecah suasana pada pesta rakyat yang selalu dinanti.

Di lintasan tanah, joki-joki cilik tanpa pelana memacu kudanya secepat mungkin. Inilah Pacu Kude atau paju kuda, tradisi yang tak hanya menjadi perlombaan, tetapi juga pengalaman budaya yang membawa siapa pun menyelami denyut kehidupan masyarakat Gayo.

Bagi masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah, Pacu Kude merupakan pesta rakyat yang selalu dinanti setiap tahun. Sementara bagi wisatawan, tradisi ini menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain: perpaduan antara warisan budaya, panorama alam pegunungan, dan atmosfer kompetisi yang begitu hidup.

Jejak Pacu Kude bermula dari kawasan Bintang di tepian Danau Laut Tawar sekitar pertengahan abad ke-19. Seusai musim panen, para pemuda kampung menangkap kuda-kuda yang dilepas liar, lalu memacunya di lintasan alami di tepi danau sebagai hiburan rakyat.

Tradisi sederhana itu kemudian berkembang menjadi pertandingan antarkampung yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada masa kolonial Belanda, arena pacuan dipindahkan ke Takengon sehingga penyelenggaraannya semakin besar dan melibatkan lebih banyak kampung. Sejak saat itu, Pacu Kude bukan hanya menjadi ajang adu cepat, tetapi juga simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan masyarakat Gayo.

Hingga kini, ciri khasnya tetap dipertahankan, mulai dari lintasan tanah hingga aksi para joki muda yang menunggang kuda tanpa pelana.

Para joki muda beraksi dalam perlombaan Pacu Kuda di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. [Foto: dispar.acehtengahkab.go.id]
Seiring waktu, Pacu Kude berkembang menjadi salah satu agenda wisata budaya terbesar di Aceh. Ratusan kuda dari Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga Gayo Lues rutin ambil bagian.

Pada penyelenggaraan 2025, misalnya, lebih dari 200 kuda bertanding di arena Belang Bebangka dan Lapangan Sengeda Rembele, disaksikan ribuan masyarakat serta wisatawan yang memadati lokasi.

Daya tarik Pacu Kude tak hanya terletak pada perlombaannya. Perjalanan menuju arena menghadirkan lanskap khas Gayo berupa udara pegunungan yang sejuk, perbukitan hijau, serta kebun kopi yang menghampar di berbagai sudut.

Suasana itu menjadikan Pacu Kude lebih dari sekadar tontonan, melainkan sebuah perjalanan menikmati budaya yang berpadu dengan keindahan alam.

Duta Wisata dan Budaya, Marza H. Munthe, menilai Pacu Kude merupakan identitas yang terus dijaga masyarakat Gayo.

“Pacu Kude bukan hanya perlombaan, tetapi warisan keberanian, kebersamaan, dan rasa bangga masyarakat Gayo terhadap budaya leluhur. Tradisi ini adalah jati diri yang harus terus dirawat,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus hiburan modern, Pacu Kude tetap bertahan sebagai denyut budaya dataran tinggi Gayo. Setiap derap kuda membawa kisah tentang leluhur, semangat gotong royong, dan kebanggaan menjaga tradisi.

Bagi wisatawan, menyaksikan Pacu Kude bukan sekadar melihat perlombaan, tetapi merasakan langsung bagaimana budaya Gayo terus hidup di tengah bentang alam Aceh yang memikat.

Sumber: forumrakyat.co.id

Kategori :

Gayo & Alas Highland, Aceh Tengah, Atraksi, Bener Meriah, Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *