Di tengah beragam kuliner khas Aceh, masyarakat pesisir Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara memiliki hidangan unik nan otentik. Namanya kuah ie laot, masakan tradisional berbahan dasar ikan ini dimasak menggunakan air laut.
Kuliner ini lahir dari kehidupan para nelayan yang selama berhari-hari melaut dengan persediaan bahan makanan dan air tawar yang terbatas. Dari kondisi tersebut, lahirlah cara memasak sederhana yang kemudian diwariskan turun-temurun dan menjadi identitas masyarakat pesisir.
Duta Wisata Aceh Utara, Muqsal Mina, mengatakan kuah ie laot bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari warisan budaya masyarakat nelayan Seunuddon.
“Kuah ie laot merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat pesisir. Dalam keterbatasan, para nelayan mampu menciptakan hidangan yang lezat sekaligus memiliki nilai budaya yang kuat,” katanya, Selasa (14/4/2026).
Sejak dahulu, nelayan memanfaatkan air laut sebagai pengganti air biasa untuk memasak ikan hasil tangkapan mereka. Kandungan garam alami dalam air laut menghasilkan cita rasa gurih yang khas tanpa tambahan penyedap.
Ikan yang digunakan umumnya merupakan ikan segar hasil tangkapan langsung, seperti kakap dan berbagai jenis ikan karang lainnya. Ikan tersebut dimasak bersama air laut dan racikan rempah sederhana seperti bawang merah, lada, serta bumbu tradisional lainnya.
Keunikan kuah ie laot tidak hanya terletak pada penggunaan air laut, tetapi juga cara pengolahan bumbunya yang masih mempertahankan metode tradisional. “Bumbu ditumbuk secara manual sehingga menghasilkan aroma dan cita rasa yang lebih kuat dibandingkan menggunakan alat modern,” ujarnya.
Di atas perahu, kuah ie laot menjadi lebih dari sekadar makanan. Hidangan ini menjadi simbol kebersamaan para nelayan setelah berjam-jam menghadapi ombak dan cuaca laut. Mereka menikmati masakan tersebut sambil berbagi cerita dan pengalaman selama melaut.
Tradisi yang awalnya hanya dikenal di kalangan nelayan kini mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas. Sejumlah rumah makan di Aceh Utara bahkan menjadikan kuah ie laot sebagai salah satu menu andalan untuk memperkenalkan kekayaan kuliner daerah.
Muqsal menilai kuah ie laot memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata kuliner Aceh Utara. Selain menawarkan rasa yang khas, kuliner tersebut juga menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir.
“Wisatawan tidak hanya menikmati makanannya, tetapi juga bisa mengetahui sejarah dan tradisi yang melatarbelakangi lahirnya kuah ie laot. Itu menjadi pengalaman budaya yang menarik,” ujarnya.
Di balik kesederhanaannya, kuah ie laot menyimpan pesan tentang kemampuan masyarakat pesisir beradaptasi dengan alam. Hidangan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan dapat melahirkan kreativitas dan tradisi yang bertahan lintas generasi.
Karena itu, pelestarian kuah ie laot dinilai penting agar warisan kuliner khas Seunuddon tersebut tidak tergerus modernisasi. Dengan promosi dan pengelolaan yang tepat, kuah ie laot berpeluang menjadi ikon kuliner Aceh Utara yang dikenal lebih luas, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir.
sumber: koallsi.co
