Di pesisir barat daya Aceh, tersimpan cerita tentang kapal dagang, lada, benteng pertahanan, hingga meriam perang yang membawa nama Amerika Serikat ke Tanah Rencong pada 1832. Namanya Kuala Batu. Kini berada dalam kawasan Kabupaten Aceh Barat Daya atau Abdya.
Dulu, kawasan ini dikenal pelaut Barat sebagai Quallah Battoo. Kawasan ini merupakan salah satu pelabuhan penting Kesultanan Aceh Darussalam, tempat lalu lintas perdagangan yang menghubungkan Aceh dengan dunia luar.
Sejumlah arkeolog telah pernah melakukan eksplorasi di kawasan tersebut dan menemukan tinggalan yang menguatkan dugaan bahwa Kuala Batu bukan sekadar pelabuhan dagang. Kawasan ini juga memiliki sistem pertahanan yang penting.
Tim arkeologi Yayasan Warisan Aceh Nusantara (WANSA) misalnya, menyebut mereka telah memetakan delapan titik temuan menggunakan koordinat GPS sebagai dasar penyusunan peta arkeologi.
Temuannya beragam, mulai dari struktur yang diduga bagian dari benteng, keramik asing, pecahan kaca kuno, bata, hingga kompleks makam yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Di sejumlah lokasi, peneliti juga menemukan gundukan tanah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai madat. Bentuk dan karakteristiknya diduga berkaitan dengan sistem pertahanan kawasan.
Semua temuan itu kini menjadi potongan puzzle untuk menjawab satu pertanyaan besar seperti apa sebenarnya Kuala Batu ketika menjadi salah satu simpul perdagangan dan pertahanan maritim Aceh?
Sejarah Kuala Batu memiliki satu bab yang membuat kawasan ini berbeda dari banyak situs sejarah lainnya di Aceh. Pada 1832, armada Angkatan Laut Amerika Serikat menyerang Kuala Batu. Peristiwa tersebut dikenal sebagai operasi militer pertama Amerika Serikat di luar wilayah negaranya.
Pemicu serangan itu adalah kapal dagang Amerika bernama Friendship yang mengangkut lada. Kapal tersebut dilaporkan diserang di perairan Kuala Batu. Bagi Amerika, serangan itu menjadi aksi balasan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan WANSA, Husaini, mengatakan posisi Kuala Batu yang berada di jalur perdagangan membuat kawasan tersebut menjadi perhatian kekuatan asing.
“Peristiwa ini menunjukkan bahwa Aceh saat itu memiliki posisi yang penting dalam perdagangan dunia,” ujarnya.
Dengan kata lain, jejak yang kini dicari para arkeolog di Kuala Batu bukan sekadar sisa bangunan tua. Ia merupakan bagian dari cerita ketika pesisir Aceh terhubung dengan perebutan kepentingan ekonomi dan politik dunia.
Menariknya, tidak semua cerita Kuala Batu tersimpan di dalam tanah. Sebagian justru masih hidup dalam ingatan masyarakat. Tim peneliti menggali informasi dari warga setempat untuk melengkapi catatan sejarah yang belum terdokumentasi. Cerita rakyat, nama tempat, hingga kisah yang diwariskan lintas generasi menjadi petunjuk tambahan bagi para peneliti.
Antropolog di Aceh, Muhajir Al-Fairusy, menilai folklor masyarakat dapat membantu melengkapi bukti arkeologi. Sebab, sejarah Kuala Batu tidak hanya berupa benteng, keramik, makam, atau pecahan kaca.
Ada pula ingatan kolektif masyarakat yang selama puluhan bahkan ratusan tahun ikut menjaga cerita kawasan tersebut tetap hidup.
Temuan arkeologi itu membuka peluang baru bagi Kuala Batu. Duta Wisata Aceh Barat Daya, Najman, melihat kawasan ini memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah.
Bayangkan sebuah perjalanan wisata yang tidak berhenti pada pemandangan pesisir. Pengunjung dapat menelusuri jejak bekas pelabuhan, mengenali sisa sistem pertahanan, melihat lokasi makam tua, lalu mendengar kisah tentang kapal Friendship dan kedatangan armada Amerika pada 1832.
Kuala Batu bisa menjadi semacam museum sejarah maritim terbuka, tempat wisatawan berjalan di atas lanskap yang dahulu menjadi bagian dari jalur perdagangan dunia.
“Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati panorama pesisir, tetapi juga memperoleh pengetahuan tentang perjalanan sejarah Aceh,” kata Najman.
Namun ada satu syarat penting menurut Najman yang jangan sampai wisata mengalahkan pelestarian. Pengembangan kawasan ini perlu melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat setempat agar situs tidak rusak dan cerita sejarahnya tidak hilang.
“Sebab, yang membuat Kuala Batu menarik bukan hanya apa yang terlihat hari ini. Justru yang paling menarik adalah apa yang pernah terjadi di tempat ini,” ujarnya.
sumber: acehportal.com
