Di sebuah sudut di Kota Tapaktuan, tepatnya di kawasan Gunung Lampu, terdapat sebuah jejak tapak kaki berukuran besar yang tercetak pada batu karang. Masyarakat setempat meyakininya sebagai jejak Tuan Tapa, tokoh sakti dalam cerita rakyat yang dipercaya sebagai pelindung kawasan Tapaktuan.
Legenda Tuan Tapa telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh Selatan. Cerita tentang sosok tersebut juga berkaitan dengan kisah pertarungannya melawan seekor naga yang hingga kini masih dikenal luas oleh masyarakat setempat.
Lokasi jejak kaki ini relatif mudah dijangkau. Dari pusat Kota Tapaktuan, wisatawan hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencapai kawasan Gunung Lampu. Dari pintu masuk, pengunjung dapat berjalan menuju lokasi utama melalui jembatan kayu yang dibangun di atas bebatuan pesisir.
Jembatan tersebut menjadi salah satu daya tarik kawasan. Dari atasnya, pengunjung dapat melihat langsung laut lepas dan deretan karang di sepanjang pantai. Di ujung jembatan, jejak kaki yang menjadi ikon wisata itu terlihat di permukaan batu.
Bagi wisatawan, kawasan ini menawarkan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan pemandangan alam. Keberadaan jejak kaki dan cerita tentang Tuan Tapa membuat kunjungan memiliki unsur sejarah dan budaya yang kuat.
Duta Wisata Aceh Selatan, Warisatul Ambia, mengatakan daya tarik utama Tapak Tuan Tapa terletak pada legenda yang menyertainya.
“Tapak Tuan Tapa bukan hanya objek wisata, tetapi juga ruang yang menyimpan cerita dan identitas masyarakat. Nilai utamanya ada pada legenda yang hidup hingga hari ini,” ujarnya.
Menurut Warisatul, wisata berbasis cerita dapat memberikan pengalaman berbeda kepada pengunjung. Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto atau menikmati panorama pantai, tetapi juga dapat mengenal legenda yang menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat Aceh Selatan.
Namun, meningkatnya kunjungan juga perlu diikuti dengan perhatian terhadap kelestarian kawasan. Situs ini berada di lingkungan pesisir yang terus terpapar angin, ombak, dan cuaca ekstrem.
“Tempat seperti Tapak Tuan Tapa harus dijaga karena bukan hanya milik hari ini, tetapi milik generasi mendatang. Kebersihan dan kenyamanan lingkungan adalah faktor kunci agar wisatawan betah dan ingin kembali,” katanya.
Warisatul juga mendorong generasi muda untuk ikut memperkenalkan Tapak Tuan Tapa melalui media digital. Menurutnya, promosi wisata tidak cukup hanya menampilkan keindahan lokasi, tetapi juga perlu mengangkat cerita dan identitas yang membuat sebuah destinasi berbeda dari tempat lainnya.
sumber: anteroaceh.com
