Mengenal Langgolek, Senandung Kasih Ibu dari Pesisir Abdya

Di sudut barat selatan Aceh, ada satu tradisi sederhana yang selama puluhan tahun hidup dari suara seorang ibu. Kerap disenandungkan oleh seorang ibu untuk mengantar tidur sang anak. Kini, tradisi itu telah resmi mendapat pengakuan nasional.

Sastra lisan itu bernama Langgolek. Khas dari Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia 2025 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Penetapan tersebut diumumkan dalam Sidang Warisan Budaya Takbenda Indonesia di Jakarta, 11 November 2025.

Bagi masyarakat Abdya, pengakuan itu bukan sekadar status budaya, melainkan penghormatan terhadap tradisi yang selama ini diwariskan lewat pelukan dan suara lembut seorang ibu kepada anaknya.

Langgolek dikenal juga sebagai “Ayoen Aneuk”, syair pengantar tidur berbahasa Aneuk Jamee yang dilantunkan dengan nada tenang dan penuh kehangatan.

Di balik bait-bait sederhana itu, tersimpan pesan kasih sayang, doa, hingga harapan seorang ibu terhadap masa depan anaknya.

Tradisi ini tumbuh dalam kehidupan masyarakat pesisir Aceh Barat Daya yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan spiritualitas.

Saat malam tiba, seorang ibu biasanya meninabobokan anaknya sambil melantunkan Langgolek agar sang buah hati terlelap dengan damai.

Namun, Langgolek bukan hanya tentang menidurkan anak. Syairnya juga menjadi ruang untuk menyampaikan petuah hidup, kesabaran, serta keyakinan bahwa anak adalah anugerah paling berharga dalam keluarga.

Berikut lirik bait Langgolek:

“Oh langgolek

Oh langgolek

Biduak gadang galombang ketek

Biduak kito biduak salodang

Balayie tongkang ka pulau kayu

Pulau Kayu carocok panjang

Rumah Pabean badindiang batu

Hilang ameh dapek ditimbang

Hilang sibujang koma dicai…”

Lantunan itu kini tak lagi hanya hidup di ruang-ruang rumah masyarakat Susoh, tetapi juga telah tercatat sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Di tengah derasnya budaya modern dan kebiasaan digital yang mulai menggantikan tradisi lisan, pengakuan terhadap Langgolek menjadi pengingat bahwa warisan budaya paling berharga kadang lahir dari hal paling sederhana: suara ibu yang menenangkan anaknya sebelum tidur.

Kategori :

Aceh Barat Daya, Barsela, Berita, Budaya, Seni & Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *