Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang tak kurang akan tiba sepekan lagi, banyak orang mulai menyusun daftar destinasi liburan.
Jika Anda ingin merasakan pengalaman budaya yang berbeda dari sekadar wisata alam dan kuliner, berkunjung ke Lamno di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, adalah pilihan yang tepat.
Di sana punya satu tradisi langka yang layak masuk agenda perjalanan, yakni prosesi adat Seumuleung.
Tradisi yang telah hidup sejak ratusan tahun silam ini bukan sekadar pertunjukan budaya biasa. Seumuleung adalah ritual sakral masyarakat Lamno yang dipercaya membawa keberkahan rezeki bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya.
Konon, tradisi ini sudah digelar sejak tahun 1480 Masehi dan terus diwariskan lintas generasi hingga hari ini. Pelaksanaannya selalu bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, menjadikannya salah satu momentum budaya paling dinanti masyarakat setempat.
Dalam bahasa Aceh, Seumuleung berarti “menyuapi”. Makna itu tergambar dalam inti prosesi adat ketika pewaris kepemimpinan atau raja di Kerajaan Meureuhom Daya disuapi nasi dan lauk oleh tetua adat. Momen tersebut menjadi simbol peneguhan sekaligus penabalan pemimpin bagi masyarakat Lamno.
Namun, yang membuat tradisi ini begitu unik justru terjadi setelah prosesi penyuapan berlangsung.
Ratusan warga biasanya memadati lokasi upacara, bukan hanya untuk menyaksikan jalannya ritual, tetapi juga ikut memperebutkan sisa nasi suapan sang raja. Suasana sakral seketika berubah riuh, penuh antusiasme dan kegembiraan warga.
Bagi masyarakat setempat, rebutan nasi itu bukan sekadar tradisi seremonial. Ada keyakinan yang telah hidup turun-temurun bahwa memakan nasi sisa suapan raja dapat membawa berkah, kesehatan, dan kelancaran rezeki sepanjang tahun.
Di balik keramaian itu, tersimpan filosofi mendalam tentang hubungan pemimpin dan rakyat. Prosesi menyuapi hingga rebutan nasi menjadi simbol menyatunya raja dengan masyarakatnya yang menandakan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga kedekatan dan kebersamaan.
Seumuleung menjadi bukti bahwa Aceh tidak pernah kehilangan denyut tradisi. Ritual ini bukan hanya warisan budaya, melainkan juga wajah lain pariwisata Aceh yang kaya nilai, spiritualitas, dan cerita.
