Senja di Tapaktuan punya panggung sendiri. Ketika matahari perlahan turun di balik cakrawala, warna jingga tumpah ke permukaan Samudera Hindia. Di tengah bentangan laut itu, sebuah bangunan putih berdiri anggun, seolah mengapung di antara langit dan air. Itulah Masjid Jamik Apung An-Nur.
Masjid ini menjadi salah satu ikon wisata religi di Tapaktuan, ibu kota Kabupaten Aceh Selatan. Daya tariknya bukan hanya pada bangunan yang berdiri di atas laut, tetapi pada pengalaman yang tercipta sejak pengunjung menapaki jembatan menuju masjid.
Angin laut menyentuh wajah. Aroma asin khas pesisir terbawa semilir. Di bawah sana, ombak bergerak perlahan, sementara pegunungan yang mengelilingi Tapaktuan tampak dari kejauhan. Untuk beberapa saat, perjalanan terasa seperti berhenti.
“Pesona masjid ini bukan hanya pada bentuknya, tapi pada suasana yang diciptakannya. Kita seperti diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia,” ujar Agam Duta Wisata Aceh Selatan, Warisatul Ambia.
Di sinilah kekuatan Masjid Apung An-Nur. Ia tidak membutuhkan banyak ornamen untuk mencuri perhatian. Dominasi warna putih justru membuat bangunan tampak bersih dan ringan, menyatu dengan birunya laut.
Gaya arsitekturnya modern-klasik. Empat menara berdiri simetris mengapit kubah utama, menciptakan siluet yang tegas sekaligus elegan. Namun, posisi masjid yang berada di atas laut menjadi elemen yang paling membedakannya dari masjid pada umumnya.
Ketika berada di dalam, suasananya semakin terasa. Angin laut mengalir melalui ruang-ruang bangunan, menghadirkan kesejukan alami. Suara ombak terdengar samar, menjadi latar yang membuat suasana ibadah terasa lebih hening.
Tak ada kesan berlebihan. Justru kesederhanaan itulah yang menurut Warisatul Ambia menjadi daya tarik tersendiri.
“Tidak banyak ornamen berlebihan, tapi justru itu yang membuatnya terasa tulus. Kita bisa lebih fokus pada ibadah dan perenungan,” katanya.
Waktu juga mengubah wajah masjid ini. Kala pagi menghadirkan udara laut yang segar. Siang menonjolkan kontras putih bangunan dengan birunya laut. Namun, senja adalah saat yang paling banyak dinantikan.
Ketika langit berubah menjadi jingga keemasan, cahaya matahari memantul di permukaan air dan menyentuh kubah putih Masjid Apung An-Nur. Bangunan itu seakan berubah menjadi titik cahaya di tengah laut.
Banyak pengunjung datang untuk mengabadikan momen tersebut. Tetapi tak sedikit pula yang memilih sekadar duduk, memandang laut, dan menikmati suasana tanpa tergesa.
Karena itu, masjid ini kerap dipandang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk berhenti dan menenangkan diri.
Kehadirannya sekaligus memberi warna baru bagi Tapaktuan. Kota ini selama ini lekat dengan legenda Syekh Tuan Tapa dan lanskap alam yang mengelilinginya. Masjid Apung An-Nur menambahkan satu wajah baru: ikon modern yang tetap membawa nuansa spiritual.
Di kawasan ini, legenda, alam, dan religi bertemu dalam satu perjalanan. Wisatawan dapat menikmati panorama Tapaktuan, mengenal cerita yang hidup di tengah masyarakat, lalu menutup perjalanan dengan singgah di masjid yang berdiri di atas laut.
Warisatul Ambia mengatakan pengalaman itu menjadi alasan banyak pengunjung meninggalkan masjid dengan kesan mendalam.
“Di sini, kita tidak hanya datang untuk melihat, tapi untuk merasakan. Ada kedamaian yang sulit dijelaskan,” ujarnya.
Mungkin itulah yang membuat Masjid Jamik Apung An-Nur berbeda. Daya tariknya bukan semata-mata karena bangunannya berada di atas laut, melainkan karena tempat itu menawarkan jeda sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
sumber: metropolis.id
