Perjalanan menuju Kutacane seolah membawa wisatawan memasuki halaman lain dari Aceh. Di antara bentang alam Tanah Alas dan kehidupan masyarakatnya, sebuah kubah besar perlahan muncul dari kejauhan.
Menjulang bersama menara-menara masjid, bangunan itu segera menarik perhatian. Masyarakat lokal menyebutnya Masjid Agung At-Taqwa.
Di Kota Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah landmark, ruang publik, sekaligus salah satu wajah yang memperlihatkan kuatnya tradisi Islam di sana.
Kesan pertama terasa begitu tiba di kompleks masjid. Pelatarannya luas, kawasan tertata, dan suasananya relatif teduh. Bangunan utama tampil megah dengan arsitektur yang mengambil inspirasi Timur Tengah, lalu berpadu dengan nuansa khas Aceh.
Kubah utama berukuran besar menjadi pusat perhatian, sementara menara-menara yang menjulang memberi siluet khas pada lanskap Kota Kutacane.
Namun, kemegahan bukan satu-satunya alasan tempat ini menarik untuk disinggahi. Masjid Agung At-Taqwa dirancang sebagai kawasan yang hidup. Selain ruang salat yang luas, tersedia taman terbuka, tempat wudu yang representatif, area parkir, hingga fasilitas pendukung berupa rumah dinas imam, bilal, petugas UPTD, dan penginapan bagi tamu.

Di balik bangunan megah itu terdapat sebuah cita-cita yang telah lama hidup di tengah masyarakat Aceh Tenggara. Mantan Bupati Aceh Tenggara Hasanuddin mengatakan pembangunan Masjid Agung At-Taqwa merupakan salah satu impian besar masyarakat yang akhirnya dapat diwujudkan.
“Masjid ini dibangun untuk menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus kebanggaan masyarakat Aceh Tenggara,” ujarnya.
Pembangunan dilakukan dengan perencanaan matang dan penggunaan material berkualitas agar bangunan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Pengelolaan kawasan pun mendapat perhatian agar masjid tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pembinaan umat.
Bagi pengunjung dari luar daerah, pengalaman berada di masjid ini memberikan kesan tersendiri. Joni, wisatawan asal Banda Aceh, merupakan salah satunya. Ini menjadi kunjungan pertamanya ke Masjid Agung At-Taqwa.
“Begitu tiba, saya langsung terkesan dengan kemegahan bangunannya,” ungkapnya.
Menurut dia, desain bangunan yang elegan berpadu dengan suasana yang tenang. Kebersihan kawasan juga membuat pengunjung merasa nyaman untuk berlama-lama.
“Fasilitasnya lengkap, area wudunya bersih, ruang salatnya luas, dan lingkungan sekitar juga tertata dengan baik,” ujarnya.
Pengalaman Joni itu memperlihatkan satu hal penting, wisata religi tidak selalu harus menghadirkan bangunan tua, situs bersejarah, atau kisah masa lalu yang panjang.
Sebuah masjid yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat hari ini pun dapat menjadi tujuan perjalanan ketika arsitektur, fungsi sosial, dan atmosfernya mampu memberikan pengalaman bagi pengunjung di Tanah Alas.
sumber: acehportal.com
