Air Terjun Tangga Seribu di Gampong Ie Jeureneh, Kecamatan Trumon Tengah, Aceh Selatan, menawarkan lebih dari sekadar panorama alam. Untuk menikmati keindahannya, wisatawan harus lebih dulu menaklukkan jalur hutan yang terjal dan menantang.
Tersembunyi di tengah kawasan hutan tropis, destinasi ini berada sekitar 90 kilometer dari Kota Tapaktuan. Akses menuju lokasi memang belum sepenuhnya mudah. Pengunjung harus melewati jalan berbatu, tanjakan curam, hingga jalur setapak yang membelah lebatnya hutan.
Bagi pengguna sepeda motor trail, perjalanan dari pusat kecamatan dapat ditempuh sekitar 30 menit. Sementara wisatawan yang berjalan kaki membutuhkan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam. Namun, tantangan itulah yang justru menjadi daya tarik utama Tangga Seribu.
Sepanjang perjalanan, wisatawan disuguhi pemandangan hutan tropis yang masih alami. Udara pegunungan yang sejuk, suara aliran sungai, serta kicauan burung menghadirkan pengalaman petualangan yang jarang ditemukan di destinasi wisata populer.
Rasa lelah selama perjalanan terbayar saat tiba di lokasi. Air Terjun Tangga Seribu memiliki formasi batu bertingkat yang menyerupai anak tangga raksasa, menjadi asal-usul nama destinasi tersebut.
Air pegunungan yang jernih mengalir di sela-sela bebatuan alami dan membentuk kolam yang dapat digunakan untuk berenang maupun berendam.
Selain menikmati kesegaran air, kawasan ini juga menjadi lokasi favorit bagi pecinta fotografi alam. Formasi batu bertingkat, aliran air yang bening, dan latar hutan hijau menciptakan panorama yang menarik untuk diabadikan.
Duta Wisata Aceh Selatan, Warisatul Ambia, mengatakan Tangga Seribu memiliki karakter berbeda dibanding sejumlah destinasi wisata lainnya di Aceh Selatan.
“Air Terjun Tangga Seribu menawarkan pengalaman yang tidak hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang perjalanan. Akses yang menantang justru menjadi bagian dari daya tariknya,” kata Warisatul, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, destinasi tersebut sangat cocok bagi wisatawan yang menyukai wisata petualangan dan ingin menikmati alam yang masih terjaga di daerah berjuluk bumi Tuan Tapa itu. “Tempat ini memberikan pengalaman yang lebih mendalam. Kita tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga berusaha untuk sampai. Itu yang membuat perjalanan terasa lebih bermakna,” ujarnya.
Meski menyimpan potensi wisata yang besar, fasilitas pendukung di kawasan tersebut masih terbatas. Belum tersedia banyak sarana penunjang seperti tempat istirahat permanen maupun kios makanan. Karena itu, wisatawan diimbau mempersiapkan kebutuhan pribadi sebelum berangkat.
Di sisi lain, minimnya pembangunan membuat kawasan Air Terjun Tangga Seribu tetap terjaga keasliannya. Warisatul menilai pengembangan wisata perlu dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan kelestarian lingkungan.
“Pengembangan wisata harus tetap memperhatikan kelestarian alam. Kita ingin tempat ini berkembang, tetapi tidak kehilangan keasliannya,” kata Warisatul Ambia.
Belakangan secara perlahan, Air Terjun Tangga Seribu mulai dikenal pecinta wisata alam dan komunitas petualang. Dengan karakter alam yang masih alami serta pengalaman perjalanan yang menantang, destinasi ini dinilai berpotensi menjadi ikon wisata petualangan baru di bumi Tuan Tapa.
sumber: koalisi.co
