Kasab Abdya, Merawat Warisan dalam Kilau Benang Emas

Kilauan benang emas masih terus bergerak di tangan para pengrajin di Gampong Ujung Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Di tengah gempuran produk pabrik modern, mereka tetap setia menyulam kasab, warisan budaya Aceh yang telah hidup lintas generasi.

Kasab bukan sekadar kain hias. Bagi masyarakat Aceh, kain bersulam benang emas itu merupakan simbol kehormatan, kemewahan, dan identitas budaya yang selalu hadir dalam berbagai prosesi adat, terutama pernikahan.

Di rumah-rumah produksi sederhana, para pengrajin masih mempertahankan teknik sulam tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap motif dikerjakan dengan tangan, membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu yang tidak singkat.

Duta Wisata Aceh Barat Daya, Najman Riadhi, mengatakan kasab merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan filosofi kuat bagi masyarakat Aceh.

“Kasab bukan hanya kerajinan tangan, tetapi bagian dari identitas budaya Aceh. Setiap motif yang disulam memiliki makna dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Najman, Senin (27/4/2026).

Menurutnya, motif-motif kasab banyak terinspirasi dari kehidupan masyarakat Aceh, mulai dari unsur alam hingga simbol kebersamaan dan kemuliaan. Nilai-nilai tersebut menjadi alasan mengapa kasab tetap bertahan meski zaman terus berubah.

Kasab selama ini identik dengan kain beludru hitam yang dihiasi sulaman benang emas. Perpaduan warna tersebut menghadirkan kesan mewah sekaligus sakral, sehingga kerap digunakan sebagai dekorasi pelaminan dan perlengkapan adat lainnya.

Di balik kemegahannya, pembuatan kasab membutuhkan proses panjang. Satu lembar kasab bisa dikerjakan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, tergantung tingkat kerumitan motif yang dibuat.

“Pembuatan kasab membutuhkan kesabaran luar biasa karena seluruh proses dilakukan secara manual. Nilai seni inilah yang membuat kasab memiliki keistimewaan tersendiri,” ujar Najman.

Keterampilan menyulam kasab umumnya diwariskan dalam lingkungan keluarga. Sejak usia muda, generasi penerus mulai diperkenalkan pada teknik dasar penyulaman untuk memastikan tradisi tersebut tidak terputus.

Meski menghadapi tantangan modernisasi, para pengrajin di Ujung Padang tetap mempertahankan keaslian motif dan teknik pengerjaan. Konsistensi itu membuat kasab tetap memiliki nilai eksklusif dan menjadi salah satu produk budaya yang terus diminati.

Tak hanya sebagai warisan budaya, kasab juga mulai dilirik sebagai potensi wisata dan ekonomi kreatif. Banyak pengunjung datang untuk melihat langsung proses penyulaman yang membutuhkan ketelitian tinggi serta mengenal lebih dekat nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Najman menilai kasab memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya di Abdya.

“Wisatawan tidak hanya membeli hasil kerajinannya, tetapi juga mendapatkan pengalaman melihat langsung proses pembuatannya. Ini menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki produk pabrikan,” katanya.

Selain menjaga identitas budaya, keberadaan kasab juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Semakin tingginya minat terhadap produk budaya tradisional memberikan ruang bagi pengrajin lokal untuk terus berkarya dan mempertahankan usahanya.

Bagi masyarakat Aceh, kasab bukan sekadar sulaman benang emas di atas kain beludru. Setiap helainya menyimpan cerita tentang kesabaran, ketekunan, dan komitmen menjaga warisan leluhur agar tidak hilang digilas zaman.

sumber: koalisi.co

Kategori :

Barsela, Aceh Barat Daya, Budaya, Wastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *