Langit Sabang mulai gelap ketika aroma gurita bakar menyusup di antara angin laut. Asap tipis mengepul dari tungku, sementara potongan gurita perlahan berubah kecokelatan di atas bara.
Di kota paling barat Indonesia itu, kuliner ini menggoda siapa saja yang datang di sebuah warung bernama Sate Gurita Ajo. Nama besarnya sudah berdiri sejak 1990-an.
Jika Anda berada di Sabang, letak warung sate ini mudah dicari. Berada di kawasan Menara Merah Putih, Kecamatan Suka Karya, Kota Sabang. Lokasi ini juga merupakan spot wisata yang ramai dikunjungi, terlebih jika malam hari.
Berbeda dari sate pada umumnya, bahan utama sajian ikonik ini bukan ayam atau daging sapi, melainkan gurita segar dari perairan Pulau Weh.
Dagingnya kenyal, tetapi tetap lembut setelah melalui proses pengolahan yang tepat. Ketika bertemu bumbu rempah dan bara api, karakter lautnya justru semakin kuat.
Sebelum tersaji utuh, daging gurita mulanya direbus bersama rempah-rempah tradisional. Proses ini membuat teksturnya lebih empuk sekaligus membantu mengurangi aroma amis.
Setelah itu gurita dipotong dadu, ditusuk pakai lidi sate, lalu dibakar perlahan hingga permukaannya kecokelatan dan aromanya keluar.
Satu per satu tusuk sate kemudian disajikan bersama pilihan saus kacang atau bumbu pedas khas Aceh. Lontong dan irisan bawang melengkapi hidangan yang sederhana tetapi kaya rasa itu.

Perairan Pulau Weh yang kaya biota laut menyediakan bahan baku segar bagi masyarakat. Hasil tangkapan nelayan kemudian tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi diolah menjadi makanan yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Duta Wisata Kota Sabang, Humaira, menyebut Sate Gurita Ajo sebagai salah satu kuliner yang melekat dengan pariwisata Sabang.
“Sate Gurita Ajo menjadi salah satu makanan yang paling dicari wisatawan karena punya rasa unik dan tidak mudah ditemukan di tempat lain,” kata Humaira.
Menurutnya, makanan khas daerah memberi wisatawan cara lain untuk mengenal sebuah tempat. Bukan hanya lewat pemandangan, tetapi juga melalui rasa dan kehidupan masyarakat yang membentuknya.
Itulah sebabnya perjalanan ke Sabang bagi sebagian wisatawan tidak berhenti setelah menikmati pantai atau menyelam di laut Pulau Weh. Malam harinya, mereka berburu pengalaman lain di meja makan.
Di kawasan kuliner, asap panggangan kembali mengepul. Bara merah menyala di bawah tusukan gurita. Di tengah udara malam pesisir, aroma rempah dan hasil laut segar bercampur menjadi satu.
Sate Gurita Ajo tak sekadar makanan yang menggunakan gurita sebagai bahan utama. Ia adalah cara Sabang menyajikan lautnya bukan dalam bentuk panorama yang telah mahsyur, melainkan di atas sebuah piring.
sumber: koalisi.co
