Di dataran tinggi Gayo, Aceh, suara tepukan tangan yang ritmis berpadu dengan lantunan syair berbahasa Gayo sekilas tampak seperti pertunjukan seni tradisional biasa. Namun, bagi masyarakat Gayo, seni bernama Didong itu jauh lebih dalam dari sekadar tontonan.
Kesenian ini adalah suara kolektif yang merekam nasihat, kritik sosial, doa, harapan, sekaligus cara masyarakat menghadapi kehidupan.
Didong dimainkan sekelompok lelaki yang duduk berbaris. Syair dilantunkan secara bergantian, disambut tepukan tangan dan gerak tubuh yang kompak. Tidak ada kemewahan panggung yang menjadi kekuatan utama kesenian ini.
Daya pikatnya justru lahir dari kesederhanaan, terutama dari syair-syair yang menggunakan bahasa Gayo secara puitis dan sarat makna.
Setiap bait membawa pesan tentang kehidupan. Ada petuah untuk tetap teguh, ajakan menjaga kebersamaan, hingga kritik terhadap persoalan sosial.
Syair-syair itu tidak sekadar dinyanyikan, tetapi menjadi cara masyarakat Gayo menyampaikan suara dan pandangan mereka. Karena itu, meski zaman berubah, Didong tetap menemukan tempatnya dalam kehidupan masyarakat.
Makna itu terasa semakin kuat ketika bencana banjir dan longsor melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah akhir November 2025 lalu. Di tengah kehilangan dan trauma, Didong hadir dengan fungsi yang melampaui hiburan.
Syair tentang kesabaran, semangat bangkit, dan harapan menjadi penguat bagi masyarakat yang sedang berusaha memulihkan diri dari luka yang tak selalu terlihat. Salah satu kisahnya terjadi di Kecamatan Linge, wilayah yang turut terdampak cukup berat.
Sekelompok relawan dari komunitas Rempak datang tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga membawa Didong.
Di tengah warga yang masih dihantui ketakutan dan kehilangan, mereka melantunkan syair-syair yang mengajak untuk bersabar, bangkit, dan kembali menatap kehidupan.
Tepukan tangan yang terdengar berulang seolah menjadi denyut baru di tengah suasana duka. Masyarakat tidak hanya mendengar sebuah kesenian, tetapi juga mendapatkan ruang untuk berkumpul, berbagi rasa, dan merasakan kembali kekuatan kebersamaan.
Nilai itulah yang membuat Didong memiliki daya tarik tersendiri sebagai bagian dari wisata budaya Aceh. Wisatawan yang datang ke Tanah Gayo memang dapat menikmati lanskap pegunungan dan kesejukan alamnya. Namun, menyaksikan Didong secara langsung menawarkan pengalaman yang berbeda.
Wisatawan bisa mendengar bagaimana sebuah masyarakat bercerita tentang kehidupan melalui syair, tepukan tangan, dan harmoni suara.
Setiap syair membuka pintu untuk mengenal Gayo lebih jauh, bukan hanya dari keindahan alamnya, tetapi dari cara masyarakatnya memaknai kehidupan, menghadapi kesulitan, dan menjaga kebersamaan.
Kekuatan Didong tidak terletak semata pada irama atau keindahan syairnya. Namun ia bertahan karena memiliki fungsi yang lebih besar yaitu menjaga ingatan, menyampaikan nilai, menyatukan masyarakat, dan menyalakan harapan ketika keadaan sedang gelap.
sumber: forumrakyat.co.id
