Kaya Rasa Kuliner Aceh: Durian Busuk Bisa Jadi Gulai, Penasaran?

Bagi sebagian orang, durian yang telah membusuk mungkin hanya layak dibuang. Di pesisir barat-selatan Aceh, buah itu justru bisa berubah menjadi hidangan yang menggugah selera.

Daging durian yang telah difermentasi menjadi jruek drien adalah bahan utama gulai asam durian, kuliner tradisional dengan rasa asam, gurih, dan aroma rempah yang kuat.

Gulai jruek drien merupakan salah satu jejak kekayaan kuliner Aceh yang masih bertahan hingga kini. Hidangan ini dikenal luas di Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya atau Abdya, daerah yang konon dianggap sebagai asal kuliner tersebut.

Dari sana, gulai ini menyebar ke sejumlah wilayah lain, seperti Nagan Raya, Aceh Barat, hingga Aceh Jaya.

Kata jruek drien merujuk pada daging durian yang difermentasi. Daging buah dipisahkan dari bijinya, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama beberapa waktu.

Fermentasi membuat rasa durian berubah menjadi asam dengan aroma yang khas. Semakin lama disimpan, rasa asamnya semakin kuat.

Namun, tidak selamanya jruek drien harus dibuat dari durian yang sudah difermentasi. “Sekarang durian yang masih segar juga bisa diolah menjadi jruek drien, dan rasanya tetap enak,” kata Marziah, pembuat gulai jruek drien di Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya.

Di tangannya, bahan yang bagi sebagian orang terdengar tidak lazim itu berubah menjadi gulai yang sederhana, tetapi kaya rasa.

Marziah menyiapkan daun singkong, terong, kacang panjang, daun tapak liman, dan daun jeruk purut. Sayuran itu lalu dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam wajan.

Setelah itu, jruek drien dicampurkan ke dalam sayuran. Udang menjadi bahan yang hampir tak boleh absen. “Agar rasanya semakin nikmat, tambahkan udang. Tanpa udang, rasanya seperti ada yang kurang,” ujar Marziah.

Air, garam, dan rempah kemudian ditambahkan. Semua bahan dimasak hingga sayuran empuk dan bumbu meresap. Tidak ada teknik rumit. Namun, perpaduan durian fermentasi, sayuran, udang, dan rempah menghasilkan karakter rasa yang sulit ditemukan pada gulai lain.

Bagi lidah yang belum terbiasa, rasa asam dan aroma jruek drien mungkin terasa asing. Tetapi bagi masyarakat yang sejak kecil mengenalnya, rasa itu justru menjadi daya tarik.

“Kalau belum pernah mencicipi mungkin rasanya terasa asing. Tapi kalau sudah terbiasa, makanan ini bisa membuat ketagihan,” kata Marziah.

Gulai jruek drien terbilang langka ada di warung-warung makan  khas Aceh. Bukan semata karena bahannya sulit diperoleh, melainkan karena tidak banyak orang yang masih menguasai cara mengolahnya.

“Tidak semua orang bisa membuatnya. Saya biasanya memasaknya hanya untuk keluarga,” tuturnya.

Tradisi itu biasanya menguat ketika musim durian tiba. Buah yang melimpah tidak seluruhnya berakhir sebagai buah segar. Sebagian diolah menjadi haluwa atau dodol, sementara daging durian lainnya difermentasi menjadi jruek drien.

Gulai jruek drien menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Aceh memanfaatkan bahan pangan secara kreatif sekaligus mempertahankan cita rasa yang diwariskan lintas generasi. Gimana, Anda penasaran?

sumber: acehportal.com

Kategori :

Barsela, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Kuliner, Nagan Raya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *