Gurita Naik Kelas, Dari Hasil Tangkapan Nelayan Jadi Kuliner Khas Aceh Jaya

Dulu nasib gurita kalau tidak sebagai lauk pasti dijemur untuk menjadi ikan asin. Namun kini di  Lamno, Aceh Jaya, hewan laut bertentakel itu punya nasib berbeda. Di tangan Rizki Fadli, gurita diolah menjadi produk beku hingga semangkuk mie Aceh yang menggugah selera.

Rizki menamai produknya Guritno, singkatan dari Gurita Lamno. Ide itu muncul ketika ia melihat hasil tangkapan gurita nelayan melimpah, tetapi pengolahannya masih terbatas.

“Selama ini produk gurita yang kita kenal hanya diasinkan dengan cara dijemur. Saya mencoba mengolahnya menjadi produk dengan cara dibekukan,” kata Rizki.

Jalan Rizki mempopulerkan hasil laut Aceh Jaya itu tidak langsung mulus. Ia sempat mencoba berbagai pekerjaan sebelum akhirnya pada Januari 2020 banting setir ke bisnis kuliner.

Ia memulainya dari rumah. Pesanan diterima melalui WhatsApp, lalu gurita diolah sesuai permintaan dan dikirim menggunakan sistem cash on delivery (COD). Bahkan, Rizki sendiri yang mengantar pesanan ke konsumen di Aceh Jaya hingga Banda Aceh.

Saat itu, gurita beku yang telah dibersihkan dan dikemas dijual sekitar Rp35 ribu per kemasan berbobot 30 gram. Pesanan yang terus bertambah membuat usaha itu berkembang.

Kini Rizki memiliki Waroeng Guritno di jalan lintas nasional Banda Aceh–Meulaboh Kilometer 76, Lamno, Aceh Jaya. Dari tempat itu, gurita tidak lagi sekadar dijual sebagai hasil laut beku.

Menu utama warung adalah Mie Aceh Gurita. Potongan gurita berbentuk dadu disandingkan dengan mie berbumbu rempah khas Aceh. Harganya mulai Rp20 ribu per porsi.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada warung sendiri. Menu utama yang kami sediakan adalah Mie Aceh Gurita. Ada juga Mie Lobster, Mie Kepiting, dan Mie Tuna,” sebut Rizki.

Bisnisnya ini menjadi jalur baru bagi hasil tangkapan nelayan Aceh Jaya. Gurita yang digunakan Waroeng Guritno diperoleh langsung dari nelayan setempat. Setiap hari, warung tersebut menghabiskan sekitar 9 kilogram mie Aceh. Pada akhir pekan, kebutuhannya meningkat hingga belasan kilogram lagi.

Dari hasil laut yang dahulu hanya diasinkan dan dijemur, Rizki menciptakan produk dengan nilai jual lebih tinggi. Gurita Lamno pun perlahan menemukan identitas baru, kuliner penggugah selera di Bumi Poteumeureuhom.

sumber: acehportal.com

Kategori :

Aceh Jaya, Kuliner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *