Di sebuah sudut Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, berdiri sunyi kompleks Makam Sultan Malikussaleh. Bagi sebagian orang, mungkin tempat itu hanya destinasi wisata religi.
Namun bagi sejarah Indonesia, kawasan tersebut adalah saksi lahirnya kerajaan Islam pertama di Nusantara sekaligus titik awal penyebaran Islam dari pesisir utara Aceh ke berbagai wilayah.
Sultan Malikussaleh merupakan pendiri dan raja pertama Kerajaan Samudera Pasai yang memerintah pada abad ke-13. Di bawah kepemimpinannya, negeri Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional sekaligus pusat dakwah Islam yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.
Hingga kini, kompleks makam yang terawat baik itu masih ramai dikunjungi peziarah, pelajar, peneliti, hingga wisatawan. Mereka datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga menelusuri jejak peradaban Islam yang pernah tumbuh besar di tanah Pasai.
Memasuki kawasan makam, pengunjung disambut deretan batu nisan khas Aceh yang dipenuhi ukiran kaligrafi Arab dan ornamen bercorak Islam. Salah satu nisan di kompleks tersebut bahkan diyakini sebagai nisan Islam tertua di Pulau Sumatra.
Di sekitar area juga tersedia papan informasi yang menjelaskan sejarah Sultan Malikussaleh dan Kerajaan Samudera Pasai.
Informasi itu memperlihatkan bagaimana kerajaan ini memiliki hubungan erat dengan dunia Islam melalui jalur perdagangan, pendidikan, pemerintahan, dan pertukaran budaya.
Duta Wisata Aceh Utara, Muqsal Mina, mengatakan kompleks makam Sultan Malikussaleh merupakan salah satu warisan sejarah terpenting di Indonesia.
“Makam Sultan Malikussaleh bukan sekadar situs bersejarah, tetapi titik awal perjalanan peradaban Islam di Nusantara. Warisan ini harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Menurut Muqsal, keberadaan situs tersebut membuktikan bahwa Aceh Utara pernah menjadi pusat peradaban Islam yang memiliki pengaruh besar di kawasan.
“Yang kita jaga bukan hanya batu nisan, tetapi memori bangsa. Dari tempat inilah kita belajar bahwa Aceh memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia,” katanya.
Hal senada disampaikan Duta Wisata Aceh Utara lainnya, Nursyifa Syawani. Ia menilai kompleks makam menyimpan nilai sejarah sekaligus spiritual yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Saat berada di sini, pengunjung tidak hanya melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana Islam berkembang dari Pasai ke berbagai wilayah Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, wisata sejarah perlu semakin diperkenalkan kepada generasi muda agar mereka tidak kehilangan keterikatan dengan akar sejarah daerahnya.
Di dalam kompleks yang sama juga terdapat makam Sultan Muhammad Malik az-Zahir, penerus Sultan Malikussaleh yang melanjutkan kejayaan Samudera Pasai. Keberadaan kedua makam tersebut menjadi penanda kesinambungan pemerintahan kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Hingga kini, kompleks makam tidak pernah sepi. Rombongan pelajar, peneliti, wisatawan, hingga peziarah silih berganti datang untuk mempelajari sejarah maupun berziarah.
Muqsal berharap kawasan ini terus dikembangkan sebagai destinasi unggulan wisata sejarah dan religi Aceh Utara. “Jika dirawat secara konsisten dan dipromosikan dengan baik, makam Sultan Malikussaleh dapat menjadi ikon wisata sejarah nasional sekaligus kebanggaan Aceh Utara,” ujarnya.
Kompleks Makam Sultan Malikussaleh tetap berdiri sebagai pengingat bahwa salah satu bab terpenting sejarah Indonesia pernah dimulai dari tanah Pasai. Bukan sekadar tempat pemakaman, tetapi jejak nyata lahirnya peradaban Islam di Nusantara.
sumber: acehportal.com
