Sabang selama ini mahsyur dikenal sebagai kota destinasi wisata bahari. Namun, tak banyak yang tahu kota di ujung barat Indonesia itu menyimpan jejak sejarah militer yang menjadikannya salah satu kawasan strategis di Asia Pasifik pada masa Perang Dunia II.
Deretan benteng pertahanan yang masih berdiri hingga kini membuat Sabang dijuluki sebagai Kota 1.000 Benteng. Bangunan-bangunan tersebut menjadi bukti peran penting Sabang dalam peta pertahanan dunia, terutama saat pendudukan Jepang pada 1942.
Duta Wisata Kota Sabang, Humaira, mengatakan benteng-benteng itu bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana Sabang pernah menjadi basis pertahanan penting di jalur pelayaran internasional.
“Sabang memiliki nilai sejarah yang sangat besar. Kita tidak hanya menikmati alamnya, tetapi juga bisa belajar dari peninggalan masa lalu yang masih berdiri hingga sekarang,” kata Humaira, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, masih banyak generasi muda yang belum mengenal kekayaan sejarah yang dimiliki Sabang. Padahal, berbagai situs pertahanan peninggalan perang masih dapat ditemukan dan menjadi daya tarik wisata edukasi.
Salah satu yang paling dikenal adalah Benteng Anoi Itam yang menghadap langsung ke laut lepas. Selain menawarkan panorama alam, lokasi ini menyimpan jejak pertahanan militer masa perang.

Tak hanya itu, baterai artileri di Benteng B dan Benteng C masih menyisakan meriam anti-kapal perang yang menjadi saksi bisu pentingnya posisi Sabang dalam strategi militer di kawasan Asia Pasifik.
Humaira menilai potensi wisata sejarah di Sabang masih sangat besar untuk dikembangkan. Menurutnya, keberadaan benteng dapat menjadi alternatif destinasi selain wisata bahari sekaligus memperluas pengalaman wisatawan.
“Wisata sejarah seperti benteng ini sangat penting untuk diperkenalkan. Selain menarik, juga memberikan nilai edukasi yang tinggi, terutama bagi generasi muda,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pelestarian situs-situs sejarah tersebut. Menurutnya, benteng bukan hanya objek wisata, tetapi bagian dari identitas daerah yang harus dijaga bersama.
Pengembangan wisata sejarah, lanjut Humaira, juga mendukung konsep pariwisata berkelanjutan. Dengan semakin banyaknya kunjungan ke situs sejarah, aktivitas wisata tidak hanya terpusat di kawasan laut sehingga tekanan terhadap ekosistem bahari dapat dikurangi.
“Pariwisata harus seimbang. Kita tidak hanya fokus pada laut, tetapi juga mengembangkan potensi sejarah agar Sabang tetap lestari,” katanya.
Selain memperkaya pilihan destinasi, wisata sejarah juga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat melalui jasa pemandu wisata, usaha kuliner, hingga penjualan produk kerajinan lokal.
Di sisi lain, keberadaan benteng menjadi pengingat perjalanan panjang sejarah bangsa. Karena itu, pelestarian situs-situs tersebut memerlukan sinergi pemerintah, masyarakat, dan pelaku pariwisata agar warisan sejarah Sabang tetap terjaga bagi generasi mendatang.
sumber: koalisi.co
