Sie Reuboh, Kuliner Aceh yang Tahan Berbilang Bulan

Aroma cuka segera menyergap ketika tutup belanga dibuka. Di dalamnya, potongan daging sapi berbalut gapah tampak mengilap oleh lemak yang meleleh. Rasa asam menyusul, lalu pedas cabai yang perlahan memenuhi mulut.

Itulah sie reuboh, masakan khas Aceh yang sederhana dalam bahan, tetapi panjang dalam cerita.

Daging dan gapah dimasak bersama garam, cabai, kunyit, serta cuka enau. Semuanya dimasak perlahan dalam belanga tanah hingga kuah menyusut, bumbu meresap, dan daging menjadi empuk.

Prosesnya tidak sebentar. Daging harus dibiarkan matang perlahan agar bumbu benar-benar menyatu. Di situlah sie reuboh tidak sekadar berbicara soal rasa, tetapi juga tentang cara hidup masyarakat Aceh.

Memasak sie reuboh membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Sesuatu yang baik, dalam filosofi masyarakat Aceh, tidak lahir secara instan. Seperti daging yang perlahan menyerap bumbu, hasil yang berkualitas membutuhkan waktu dan proses.

Warisan kuliner ini sekaligus memperlihatkan kearifan masyarakat dalam memanfaatkan bahan yang tersedia. Cuka enau, misalnya, bukan hanya memberikan rasa asam yang khas. Bahan itu juga berfungsi sebagai pengawet alami.

Pada masa ketika teknologi penyimpanan makanan belum dikenal, cara tersebut menjadi bagian dari strategi bertahan hidup. Makanan dapat disimpan lebih lama dan kembali disantap setelah dipanaskan.

Proses penyajian dalam belanga tanah kuliner khas Aceh Sie Reuboh. [Foto: Aceh Tourism]
Kemampuan sie reuboh bertahan lama mencerminkan ketahanan hidup masyarakat Aceh yang terbiasa beradaptasi dengan lingkungan dan keterbatasan.

Setelah matang, sie reuboh memang tak harus langsung dihabiskan. Ia dikenal dapat bertahan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan jika dirawat dan dipanaskan kembali dengan cara yang tepat.

Karakter itu membuat sie reuboh lekat dengan tradisi meugang, kegiatan memasak daging bersama keluarga sehari menjelang Ramadan dan Idul Fitri atau Idul Adha. Bagi sebagian keluarga di Aceh, meugang tanpa sie reuboh seperti ada yang kurang. Daging yang dimasak dalam jumlah banyak bisa disimpan untuk santapan beberapa hari berikutnya.

Daya tahannya juga membuat sie reuboh pernah menjadi peunajoh prang (makan perang), alias bekal bagi orang-orang yang bergerilya di hutan Aceh pada masa kolonialisme. Makanan yang awet menjadi bekal penting ketika ruang gerak terbatas dan akses terhadap makanan segar tidak selalu tersedia.

Tak perlu banyak kondimen di hadapan sie reuboh. Ketika hendak disantap, kuliner ini cukup dipanaskan. Tak ada pula teknik penyajian yang rumit.

Kekuatan utamanya justru terletak pada kesederhanaan. Rasa asam cuka, pedas cabai, gurih daging, dan lemak yang melekat menciptakan karakter yang sulit ditukar dengan masakan lain.

Di meja makan, sie reuboh juga tak banyak tingkah. Sepotong daging, nasi hangat, dan kuah yang meresap sudah cukup membuat makan lahap. Terlebih jika disantap bersama bu kulah—nasi pulen yang dibungkus daun pisang, maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?

Kategori :

Kuliner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *