Wisata Sambil Belajar Konservasi di Kayu Menang Aceh Singkil

Senja mulai turun di pesisir Desa Wisata Kayu Menang, Kecamatan Kuala Baru, Aceh Singkil. Di hadapan pengunjung, pasir pantai membentang di bawah langit yang perlahan berubah warna.

Laut lepas Samudra Hindia menjadi latar, sementara suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota membuat tempat ini terasa seperti ruang untuk benar-benar berhenti sejenak.

Namun, Kayu Menang menawarkan lebih dari sekadar pemandangan.

Menjelang sore hingga malam, perhatian wisatawan beralih kepada makhluk-makhluk kecil yang baru mengenal dunia. Tukik—anak penyu belimbing—dilepaskan menuju laut. Dengan gerakan perlahan, mereka merayap di atas pasir, mengikuti naluri menuju debur ombak.

Momen singkat itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Bukan karena kemeriahannya, melainkan karena pengunjung menyaksikan langsung perjalanan kehidupan yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari layar atau buku.

Di balik pelepasan tukik tersebut terdapat upaya konservasi yang melibatkan masyarakat setempat. Pondok Pelestarian Penyu (PPP) menjadi salah satu tempat wisatawan mengenal lebih dekat proses penetasan telur, siklus hidup penyu, hingga upaya mengantarkan tukik kembali ke habitatnya.

Duta Wisata Kabupaten Aceh Singkil, Vima Syaddad Alfathan, mengatakan Kayu Menang menunjukkan bahwa wisata dapat berjalan beriringan dengan edukasi dan pelestarian lingkungan.

“Wisata di Aceh Singkil tidak hanya soal menikmati pemandangan, tapi juga belajar dan terlibat langsung. Di sini, pengunjung bisa melihat bagaimana masyarakat menjaga penyu dari telur hingga kembali ke laut. Ini pengalaman yang jarang ditemukan di tempat lain,” ujar Vima.

Pengalaman serupa juga dapat ditemukan di Pulau Bangkaru, salah satu kawasan di Aceh Singkil yang dikenal sebagai habitat alami berbagai jenis penyu.

Pulau yang masih alami, dengan ombak besar dan ekosistem yang relatif terjaga, menawarkan pengalaman berbeda bagi pencinta wisata bahari dan petualangan.

Perjalanan menuju Aceh Singkil dapat ditempuh melalui jalur darat maupun laut. Rute menuju kawasan pesisir ini memang membutuhkan waktu dan tenaga, tetapi lanskap alam yang tersaji sepanjang perjalanan menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Yang membuat perjalanan ke Kayu Menang semakin bernilai adalah keterlibatan warga. Masyarakat bukan sekadar menyambut wisatawan, tetapi ikut menjaga ruang hidup yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Di Kayu Menang, wisata akhirnya menemukan makna yang lebih luas. Pengunjung datang untuk menikmati pantai, tetapi pulang membawa cerita tentang konservasi dan kehidupan.

Sebab, ketika tukik-tukik kecil itu bergerak menuju laut, yang terlihat bukan hanya sebuah atraksi wisata. Ada pesan sederhana di baliknya bahwa perjalanan tidak selalu harus meninggalkan jejak. Sesekali, liburan justru bisa menjadi bagian dari upaya menjaga alam tetap hidup.

sumber: forumrakyat.co.id

Kategori :

Singkil, Nature & Panorama, Pulau Banyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *