Bagi seorang traveler, sebuah kota tidak hanya cerita ihwal keindahan bentang alam atau sisa-sisa sejarahnya saja, melainkan juga pada cita rasa dan buah tangan yang bisa dibawa pulang. Seperti halnya di Banda Aceh, kota yang menjadi jantung provinsi Aceh ini menyimpan ragam oleh-oleh yang sayang dilewatkan.
Di sini perjalanan akan terasa lebih lengkap lewat jejak aroma kopi, legitnya kue tradisional, hingga ragam suvenir khas yang sarat cerita budaya.
Wisata belanja oleh-oleh di Banda Aceh dikenal ramah di kantong. Dari pusat kota hingga desa wisata di pinggir pesisir, pelancong dapat menemukan beragam buah tangan autentik dengan harga terjangkau sekaligus mendukung pelaku UMKM lokal.
Pusat Oleh-Oleh di Jantung Kota
Perburuan oleh-oleh biasanya dimulai dari kawasan pusat kota. Hanya sekitar 50 meter dari Masjid Raya Baiturrahman, terdapat Pusat Promosi Oleh-oleh Aceh di Jalan Diponegoro atau yang dikenal sebagai Pasar Atjeh.
Pasar modern berlantai tiga ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan karena suasananya bersih, nyaman, ber-AC, dan memiliki area parkir luas. Sekitar 150 outlet berjajar menawarkan aneka produk kerajinan dan kuliner khas Aceh.
Di sana terdapat aneka kudapan tradisional mulai dari kue bhoi, keukarah, kue adee, hingga bakpia khas Aceh.
Tak jauh dari sana, kawasan Jalan Sri Ratu Syafiatuddin di Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, juga menjadi magnet wisata belanja. Deretan toko suvenir berdiri di sepanjang jalan dengan koleksi yang beragam.
Pusaka Souvenir Gallery menjadi salah satu pusat suvenir terbesar. Wisatawan dapat menemukan kain khas Aceh, batik, tas rajut, kopiah, hingga replika senjata tradisional rencong dengan harga relatif terjangkau.
Sementara itu, Anugrah Souvenir yang telah berdiri sejak 2004 dikenal sebagai toko legendaris yang menjual produk buatan perajin lokal. Selain songket, mukena, dan tas etnik, toko ini memiliki produk unik berupa parfum beraroma kopi yang kerap diburu wisatawan.
Bagi pencinta kopi, Toko Aceh Quality menjadi destinasi yang sayang dilewatkan. Berbagai jenis kopi Aceh, mulai dari Arabika hingga Robusta dari kawasan Gayo dan Ulee Kareng, tersedia lengkap bersama aneka fesyen bercorak etnik Aceh.
Masih di kawasan Peunayong, tepatnya di area Rex yang ramai pada malam hari, terdapat Toko Tradisi Aceh di Jalan Khairil Anwar. Tempat ini dikenal sebagai pusat makanan tradisional seperti pisang sale, emping melinjo, asam kana, hingga manisan pala.
Perjalanan berburu buah tangan berlanjut ke Souvenir Putroe Aceh di Jalan KH Ahmad Dahlan, Merduati. Toko ini populer di kalangan wisatawan yang mencari fesyen etnik khas Aceh seperti tas rajut, sandal, batik Aceh, hingga aksesori kecil bermotif Pintu Aceh dan cincin batu giok.
Sementara itu, di kawasan pesisir Kecamatan Meuraxa, wisatawan dapat singgah ke Gallery Wisata Banda Aceh di Jalan Rama Setia, Deah Baro. Galeri ini menawarkan koleksi camilan tahan lama seperti kue adee meureudu, bakpia, dan kopi bubuk premium dengan harga kompetitif.
Surga Kuliner Tradisional Aceh
Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman lebih autentik, perjalanan dapat dilanjutkan ke Desa Lampisang, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, sekitar 30 menit dari Banda Aceh.
Desa yang berada dekat situs bersejarah Rumoh Cut Nyak Dhien ini dikenal sebagai sentra kuliner tradisional Aceh. Puluhan ruko berjajar di sepanjang jalan raya, menjual kue-kue rumahan hasil produksi warga lokal.
Di tempat ini, wisatawan dapat menemukan penganan khas dari 23 kabupaten dan kota di Aceh.
Berbagai kudapan seperti dodol Aceh, meuseukat berbahan dasar nanas, bada reteuk, bakpia Sabang, pisang sale, dan lain sebagainnya.
Semua buah tangan di sana diproduksi secara rumahan oleh masyarakat setempat. Persediannya relatif stabil bahkan saat musim libur panjang dan Lebaran.
Berburu oleh-oleh di Banda Aceh dan Aceh bukan sekadar aktivitas wisata belanja. Di balik aroma kopi Gayo, renyahnya keukarah, dan indahnya kerajinan tangan Aceh, tersimpan cerita tentang geliat ekonomi kreatif masyarakat yang terus tumbuh.
Keramahan pedagang, kekayaan rasa, serta kuatnya identitas budaya membuat pengalaman membawa pulang buah tangan dari Serambi Mekkah terasa lebih bermakna.
